Rabu, 17 Juni 2020

Let's Read: Membaca Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan



"Mendidik anak itu dimulai sejak janin berada dalam kandungan. Apa yang ibunya lakukan dan rasakan selama mengandung si anak, biasanya akan ada yang terekam dan meninggalkan jejak pada perilaku anak setelah lahir kelak." 

Demikian wejangan ibunda tercinta saat saya hamil anak pertama dua puluh tahun yang lalu. Ucapan yang berdasarkan teori ilmu psikologi dan parenting, juga sesuai data dan fakta yang Ibu temui langsung dalam ruang praktek konselingnya di salah satu biro psikolog.

"Om Heri itu dulu pemalu bianget. Seje karo ibumu sing kendel percaya diri (berbeda dengan ibumu yang berani dan percaya diri)." cerita Eyang Putri saya suatu hari.

"Sebab waktu Eyang hamil om-mu dulu itu, Eyang nggak PD (percaya diri). Karena Eyang cuma guru di kota kecil, sementara kakak dan adik Eyang semua punya jabatan penting, sering ke luar negeri, dinas keliling Indonesia." tutur Eyang.

"Nah waktu hamil ibumu, Eyang bangga banget, soale akhirnya hamil setelah nunggu setahun lebih kepingin punya anak." lanjut Eyang.

Dan kini, setelah ilmu parenting semakin marak, saya pun mengetahui dan mendengar dari para ahli, bahwa memang mendidik anak itu di mulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan, sejak embrio menjadi janin dalam rahim.

Membaca sejak dalam kandungan

Kebetulan membaca memang hobi saya sejak kecil. Dan saya pun ingin anak-anak saya memiliki kegemaran membaca. Membaca adalah jendela dunia.

Kata-kata dapat membuat manusia melihat dunia tak hanya menghilangkan batas negara, tapi juga melampaui dimensi waktu dan generasi. Apa yang terjadi berabad lalu, dapat kita lihat melalui susunan huruf dan kalimat.

Dalam agama yang saya yakini, membaca atau iqro adalah perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril. Tentu saja, sebab tanpa membaca, bagaimana mungkin segala wahyu dan ilmu dapat tersampaikan ke seluruh belahan dunia.

Karena itu, sejatinya membaca adalah bagian penting dari tollabul ilmi, mencari ilmu. Dan menuntut ilmu adalah ibadah tiada ujung hingga akhir hayat, layaknya salat dan berpuasa di bulan ramadhan.



Dengan berbagai alasan tersebut, saya pun berusaha membangun budaya membaca dan memancing minat membaca anak-anak  sejak mereka bertahta di rahim saya.

Jika banyak ibu di masa itu memperdengarkan alunan musik klasik bagi calon jabang bayi yang dikandungnya, maka saya sangat sering membaca dengan bersuara (read aloud) di masa kehamian.

Pada dua kehamilan pertama di tahun 2000 dan 2001, saya masih berstatus mahasiswi. Sehingga kebanyakan bahan bacaan saya saat itu adalah buku teks atau diktat kuliah. 

Sumber: freepik.com

Teringat pada masa kehamilan kedua, dengan usia anak pertama yang belum setahun, setiap kali menidurkan Si Sulung, maka saya akan mendongeng dengan suara keras isi buku teks atau diktat kuliah, terutama jika esoknya akan menghadapi kuis atau ujian kuliah. Hingga Sulung terlelap.

Mulai dari bacaan Filsafat Komunikasi, Psikologi Komunikasi, Strategi Humas hingga materi Statistika, semua saya bacakan keras tanpa pandang bulu.

Kini, kedua anak itu sudah menjelang usia 20 tahun. Walau belum memasuki dunia mahasiswa, namun buku-buku yang mereka pilih untuk dibaca termasuk kelas berat untuk ukuran siswa SMK.

One day one page

Melalui musyawarah keluarga belasan tahun yang lalu, saya menjelaskan manfaat membaca pada kelima anak saya. Lalu melemparkan pertanyaan, "Gimana ya caranya, supaya kita sekeluarga ini bisa senang membaca?"

Diskusi pun mengalir bersama para bocah usia SD, TK dan batita tersebut. Dan jangan sekalipun meremehkan kekuatan berpikir anak, di usia berapa pun. Karena ternyata mereka seringkali dapat menemukan solusi yang terkadang tak kita pikirkan.

Dalam forum musyawarah keluarga yang memang rutin kami lakukan secara berkala, diskusi berkembang. Brain storming bersama para bocah ini menjadi keseruan tersendiri. Hingga akhirnya kami memutuskan bersama untuk membuat program One Day One Page.

Sengaja hanya membiasakan untuk membaca 1 halaman dalam sehari, sebab angka 1 memberi efek psikologis bagi anak, bahwa kegiatan ini sangat ringan untuk dilakukan. 

"Ah cuma satu halaman, gampang itu sih. Paling lima menit juga selesai. Habis itu aku masih ada banyak waktu untuk main bola." kata anak kedua yang memang sangat aktif berolah fisik.

Cukup satu halaman per hari

Bagaimana untuk para adik balita yang belum bisa membaca?
Si adik akan mendengarkan saya atau kakak membacakan satu halaman buku setiap hari. Tak peduli buku apapun. Bahkan membaca brosur iklan pun tak masalah. Walau dalam satu halaman itu hanya terdiri dari satu kalimat pun tak mengapa.

Kami menyepakati membaca hanya satu halaman saja. Namun faktanya, seringkali anak-anak tidak dapat berhenti hanya di satu halaman. Biasanya akan penasaran untuk membaca halaman selanjutnya, dan seterusnya.

Setelah mengenal Let's Read saya makin terbantu untuk membuat aktivitas seru membaca bersama anak-anak di rumah. Kendati lebih memilih untuk membiasakan mereka membaca dalam wujud media cetak, namun aplikasi ini tak hanya memberikan pilihan untuk membaca secara digital, tapi juga dapat diunduh dan dicetak.

Saya lebih sering mencetak beragam cerita positif dari Let's Read, untuk dibaca oleh anak-anak dalam bentuk media cetak. Sebab saya ingin anak-anak mencintai wujud buku.
Dengan mencetak beragam cerita, ternyata tak hanya keseruan membaca saja yang dapat dilakukan. 

Berimajinasi bersama Let's Read

Tak jarang pula saya menuliskan dengan tangan beberapa cerita dari Let's Read. Tanpa gambar pendukung. Lalu saya akan menantang anak-anak untuk berkreasi membuat gambar sesuai imaji mereka terhadap kalimat-kalimat cerita tersebut.

Kegiatan ini ternyata cukup menyenangkan. Sehingga sesekali saya terapkan juga aktivitas ini di mesjid dekat rumah saat jadwal TPA berlangsung.

Imajinasi gambar salah satu anak 

Sumber: Aplikasi Let's Read


Melatih kemampuan bahasa asing dengan Let's Read

Salah satu keunggulan Let's Read adalah tersedianya banyak bahan membaca yang dapat dipilih ingin menggunakan bahasa yang diinginkan.  Saya memanfaatkan hal ini untuk membuat lagi tantangan membaca menyenangkan dan seru bagi anak-anak.

Pilihan bahasa di aplikasi Let's Read


Terkadang saya mencetak cerita dalam Bahasa Inggris, lalu meminta anak-anak menuliskan arti tiap kata dalam Bahasa Indonesia. Dengan bantuan kamus tentunya.

Atau sebaliknya, mencetak cerita dalam Bahasa Indonesia, untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Tak hanya bahasa asing, bahkan bahasa daerah pun ada.

Lembar aktivitas menterjemahkan kata demi kata 


Sesekali juga kami berkunjung ke situs Let's Read, sebab anak-anak menjadi sering penasaran juga dengan kosakata beragam bahasa lain yang dapat dilihat di situs Let's Read. Hal ini tentu saja melejitkan wawasan mereka dengan cara yang menyenangkan.

Salah satu ragam pilihan bahasa pengantar cerita di situs Let's Read

Bagi para orangtua yang seringkali dilanda bingung untuk menyediakan media baca bagi anak di rumah, jangan ragu untuk unduh aplikasi Let's Read DISINI.
Let's Read sangat memberi solusi bahan bacaan keluarga yang praktis, kreatif dan sangat murah.

#LetsReadAsia #AyoMembaca



Load disqus comments

1 komentar:

Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.