Rabu, 29 April 2020

Face Shield Rumahan untuk Pejuang Medis


Para nakes RS AsShobirin menggunakan face shield buatan kami

‘’Miy, kenapa sih kita repot bikin ini?’’ tanya Ai (anak ketiga saya), sembari kedua tangannya terus bekerja memotong gulungan pita.

‘’Ai nggak suka diajak bikin face shield ini?’’ saya balik bertanya. Saat itu kami sedang sibuk membuat face shield rumahan sederhana dari perlengkapan alat tulis kantor untuk perangkat APD (Alat Perlindungan Diri) yang akan disumbangkan kepada para tenaga medis di beberapa puskesmas dan rumah sakit. Sebagai wujud kepedulian dan dukungan bagi para tenaga kesehatan di garda depan penanganan wabah Covid-19.

Ini adalah kali ke sekian kami sekeluarga memproduksi sendiri face shield, pelindung wajah untuk didistribusikan kepada para nakes. Awalnya hanya kegiatan iseng untuk mengisi waktu di rumah pada masa stay at home ini. Tapi ternyata, Alhamdulillah dapat menjadi ladang ibadah bagi kami. Kali ini kami membuatkan untuk Puskesmas Kotamobagu, Sulawesi Utara.


Proses pembuatan face shield

‘’Bukan tak suka. Kalau Ai nggak suka, nggak mungkin Ai mau ikut bantu buat. Cuma kadang heran aja sama Umiy. Katanya Umiy sudah tiga bulan belum terima gaji. Kita makan tiap hari juga irit-irit banget. Tapi kok Umiy mau keluar uang pribadi untuk beli bahan-bahan ini, untuk disumbangkan gratis ke rumah sakit.’’

Ah, begitu rupanya yang ada di benak mereka. Pertanyaan yang sangat wajar, bila mengingat kondisi keuangan keluarga kami hampir setahun terakhir ini. Sekitar 10 bulan yang lalu, ayah mereka mendapat rejeki berupa penyakit.

Masa pengobatan dan pemulihan yang berlangsung selama sepuluh bulan terakhir ini membuat geraknya menjadi sangat terbatas, termasuk untuk urusan mencari nafkah. Dan saat kondisi fisik pak suami mulai membaik, terjadilah wabah Covid-19, sehingga kampus tempat suami mengajar juga menjadi non aktif.

Praktis biaya operasional kebutuhan hidup keluarga sehari-hari menjadi hanya bergantung pada pendapatan saya sebagai guru honorer di salah satu sekolah negeri. Yang mana honor mengajar saya terima dirapel per empat bulan sekali. Dengan lima orang anak usia SD, SMP dan SMA, tentunya kami harus cermat berhemat.

Saya pun tersenyum, dan menjawab pertanyaan Ai, ‘’Umiy tetap shodaqoh, karena kita masih punya bahan makanan untuk makan besok. Dan karena umiy ingin kita semua menjadi orang kaya, jadi aghniya yang sesungguhnya.’’

Menjadi Aghniya Sejati Bermental Kaya Raya

‘’Karena itu juga, setiap kali terima honor yang pertama kali Umiy lakukan sebelum membeli apa pun, adalah menitipkan zakat penghasilan ke Dompet Dhuafa ‘’ lanjut saya.

‘’Iya Miy, kalau zakat penghasilan itu kan memang wajib ya… Tapi kalau shodaqoh yang nggak wajib itu bukannya semampunya aja ya Miy? Kalau kita tidak mampu ya nggak  perlu memaksakan diri kan sebetulnya?’’ kali ini Roha (anak kedua saya) yang bersuara.

‘’Betuuuulll… Tapi kalian tahu nggak, sebetulnya shodaqoh itu membuat kita menjadi orang kaya yang sesungguhnya.’’ jawab saya.




Anak-anak terlihat sedikit bingung mendengarnya. Maka saya pun mulai menjelaskan salah satu prinsip hidup yang selama ini saya pegang teguh. Bermula dari pengamatan terhadap banyak orang dan relasi yang saya kenal. Ada saudara atau sahabat yang tergolong kaya raya, dengan rumah banyak, kendaraan memenuhi garasi juga barang-barang bermerk. Namun terkadang hidupnya tak tenang.

Pernah saya mendengar keluhan seorang kerabat, ‘’Duh pengen banget deh buka usaha itu. Aku ada modalnya, tapi masih kurang sedikit lagi, kurang 80 juta-an lagi lah.’’ Dan karena merasa pusing memikirkan cara mencari kekurangan modal usaha, lalu sampai tidak bisa tidur selama berminggu-minggu. Kemudian berakhir dengan keberanian mencari pinjaman uang dan berhutang dengan riba.

Padahal sebenarnya, kebutuhan hidupnya sehari-hari lebih dari kata terpenuhi. Tinggal di komplek perumahan cluster,  tidak pernah mencicipi rasanya naik kendaraan umum kemana pun, dan anak-anak bisa bersekolah di sekolah swasta dengan iuran lebih dari sejuta tiap bulan.

Banyak pula teman dan saudara yang saya kenal, hidup di bawah garis ekonomi menengah. Dengan penghasilan harian yang tak tentu. Namun tak pernah merasa ragu untuk berinfak ke kotak amal masjid. Tak pernah mengeluh kekurangan uang. Makan dengan tempe dan kecap pun sudah merasa cukup. Tidak merasa rugi untuk memberi pada orang lain selama di dompet masih ada selembar nominal lima puluh ribu, dan tidak pernah pula berhutang.

‘’Coba sekarang, menurut kalian, mana yang mental dan jiwa-nya lebih kaya? Orang yang punya uang ratusan juta, tapi masih merasa kekurangan dan nggak bisa tidur bahkan masih pinjam uang ke bank? Atau supir ojol yang tiap hari Cuma dapat uang seratus ribu, tapi nggak punya hutang, merasa cukup apa adanya, bisa tidur tenang dan masih bisa selalu shodaqoh?’’ saya bertanya memancing pendapat anak-anak.

‘’Iya juga ya. Hatinya jadi lebih kaya yang supir ojek ya, Miy.’’ Azza (anak keempat) menjawab setelah beberapa saat terdiam berpikir.




Begitulah.
Bagi saya, rasa senang menebar kebaikan berbagi, tanpa merasa rugi, tanpa merasa kehilangan harta, itulah mental kaya raya sesungguhnya….
Sedekah/ shodaqoh sesungguhnya membuat kita merasa menjadi orang kaya sejati.

Karena masih bisa ‘membuang uang’ untuk orang lain hehehe. Sebab dengan kondisi keuangan saya yang masih pas-pasan ini, kesempatan bagi saya untuk mampu ‘membuang-buang uang’ itu belum tentu datang setiap hari. Ada masanya juga saya betul-betul tidak memiliki kemampuan untuk berbagi dengan orang lain.

Pernah di suatu saat dulu, ketika kelima anak saya masih bayi dan balita, hidup di perantauan tanpa kerabat  bersomisili di pulau yang sama. Ditambah suami bertugas di pedalaman Jambi, sementara saya dan anak-anak bertempat di Lampung. Ada masa dimana saya kehabisan uang dan beras. Tak memiliki uang sama sekali sekeping pun, tak memiliki beras sebutir pun. Kami bisa sarapan dan makan siang, tapi tak tahu harus makan apa di malam hari.

Hanya berdoa dan shalat hajat memohon pertolongan Allah yang bisa saya lakukan kala itu. Dan dengan ajaib sebelum tangan ini turun, sebelum bibir berhenti berdoa selepas dua rakaat shalat hajat, pertolongan datang melalui seorang nenek tetangga sebelah rumah. Beliau memberi selembar dua puluh ribu sebagai tanda terimakasih karena saya membantu menyetorkan tagihan cicilan ke Kantor Pegadaian.

Dan masih di hari yang sama, setelah magrib, salah seorang kawan mengantarkan 25 kg beras ke rumah sewa kami. Beserta beberapa paket menu keluarga dari restoran pizza terkenal, yang jumlahnya bahkan terlalu banyak bagi kami. Sehingga saya membaginya ke tetangga agar tak terbuang mubazir.

Pengalaman berharga hari itu, membuat definisi kata cukup dan kaya menjadi lebih sederhana bagi saya.
Kini, memiliki persediaan beras, kecap dan garam di dapur pun sudah membuat saya merasa cukup dan tak khawatir kelaparan.

Saya tidak pernah tahu kapan roda hidup akan berputar menempatkan saya berada di atas atau di bawah. Dalam satu hari itu, di siang hari kami tak memiliki apa pun untuk di makan, siapa yang menduga ternyata di malam hari-nya kami justru mampu berbagi makanan ke tetangga.

Prinsip 4 Roda Berputar



‘’Tapi shodaqoh itu bukannya bila mampu ya, Miy? Kalau kita masih pas-pasan nggak wajib kan sebetulnya?’’  Roha kembali menimpali.

‘’Betul itu… Tapi arti cukup dan pas-pasan kan juga bisa beda untuk tiap orang. Dan kondisi tiap orang juga bisa berubah setiap saat. Kadang nggak perlu menunggu waktu bertahun-tahun. Kalau sekarang, detik ini kita masih pas-pasan, satu jam lagi belum tentu. Ingat nggak, umiy sering cerita tentang 4 roda berputar?’’ jawab saya.

Prinsip hidup 4 Roda Berputar adalah wejangan tanpa akhir yang kerap saya dengar dari orangtua sepanjang ingatan. Bapak dan Ibu selalu mengingatkan bahwa roda hidup manusia selalu berputar sepanjang waktu, sejak lahir hingga ajal.

Bahwa tidak ada orang yang selalu susah, tanpa pernah merasakan senang dan bahagia.

Tidak ada orang yang selalu merasa sakit, tanpa pernah mencicip kesehatan.

Tak ada orang yang selamanya miskin, tanpa pernah mendapat rezeki.

Juga tiada orang yang abadi dalam kondisi lemah, tanpa pernah diberi kekuatan olah Allah.

Demikian juga sebaliknya. Empat roda kehidupan itu akan selalu berputar silih berganti. Dan hidup yang seimbang memang seperti itu layaknya.
Lalu kapan roda hidup akan berputar berubah posisi, menempatkan kita di atas, atau di bawah? Itu adalah kuasa Gusti Allah.

‘’Jadi, jika Allah masih menempatkan diri ini berada di atas, jika mampu memberikan bantuan sekecil apa pun, jangan pernah sia-siakan kesempatan itu. Karena itu artinya Allah memberi kesempatan untuk menambah investasi akhirat. Lima menit kemudian, belum tentu kondisinya masih sama. Lima menit kemudian bisa jadi roda hidup sudah berputar kembali.’’ demikian wejangan Bapak yang terus terngiang di kepala saya sejak kecil.

Karena itu selagi sehat, bantulah yang sakit. Saat senang, wajib menolong yang kesusahan. Ketika kuat, perhatikan yang lemah. Dan jika ada rezeki berlebih, berbagilah dengan yang membutuhkan. Sebab kita tidak pernah tahu, kapan takdir akan membawa kita (atau anak cucu kita) berada di posisi sebagai pihak yang dibantu oleh orang lain.

Perbuatan Baik Yang Menular


Kiriman sayur hidroponik dari sahabat

‘’Betul juga ya, Miy. Waktu hari pertama WFH social distancing ini kita  nggak punya uang untuk makan. Eh ternyata banyak orang kirim bahan makanan untuk kita. Jadi sekarang gantian kita yang kirim-kirim face shield untuk dokter dan perawat ya.’’ Ai kembali berkomentar. Saya tersenyum lebar menanggapi.

Memang, satu hari sebelum Gubernur DKI, Anies Baswedan mengumumkan berlakunya masa social distancing, kondisi keuangan saya sudah di ambang kosong. Tak sampai lima puluh ribu rupiah tersisa di rekening maupun dompet, dan saat itu tidak ada kepastian kapan honor saya selama tiga bulan (Januari, Februari, Maret) akan cair. Sekali lagi  shalat hajat yang menjadi senjata utama, saya minta semua anak untuk ikut melaksanakan shalat hajat.

Selanjutnya kembali terjadi, selama dua hari berturut beberapa orang sahabat mengirimkan banyak bahan makanan melalui ojek online. Padahal mereka bahkan tidak tahu keadaan kami dan sudah hitungan purnama tak berjumpa. Ada yang mengirimkan frozen food dan sembako. Seorang kawan pemilik kebun sedang panen sayur hidroponik, dan memberikan beragam sayuran organik hingga dua kardus banyaknya.


Kiriman sembako dari sahabat

Sehingga walau tak memiliki uang tunai, kami tidak kelaparan. Bahkan sekali lagi, kami bisa memberikan sebagian bahan makanan yang kami terima kepada para driver ojek online yang banyak melintas di depan pagar rumah kami.

Lalu di hari ketiga WFH (work from home), tak terduga saya menerima santunan guru honor dari Baznaz Jakarta Barat, dengan jumlah cukup untuk hidup beberapa hari. Dana santunan Baznaz inilah yang kemudian saya alokasikan sebagian untuk membeli peralatan ATK guna membuat face shield rumahan.

‘’Nah… Betul Ai. Berkat kiriman makanan dari teman-teman Umiy dan Abiy, kita bisa makan seminggu lebih tanpa belanja bahan makan. Itu kalau dirupiahkan, harganya lebih dari uang yang umiy keluarkan untuk beli bahan face shield ini loh. Artinya, apa yang kita terima juga masih lebih banyak daripada jumlah yang kita sedekahkan tho.’’ lanjut saya.

Donasi Face Shield Rumahan

Bukan tanpa alasan kenapa saya dan anak-anak membuat face shield untuk disumbangkan. Selain karena bahannya mudah didapat, juga harganya terjangkau untuk dompet saya saat itu. Di minggu pertama masa social distancing itu seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas medis kekurangan Alat Perlindungan Diri. Sebab kebanyakan APD masih diperoleh melalui jalur import dari negara lain. Belum ada gerakan UKM lokal yang memproduksi APD.

Jumlah permintaan dan pasokan barang yang tak seimbang membuat harganya melonjak tinggi. Sementara APD idealnya tidak bisa dipakai ulang. Akhirnya saya dan anak-anak iseng membuat face shield home made di rumah. Kebetulan ada salah seorang relasi bidan yang mengeluhkan bahwa rumah sakit tempatnya mengabdi sangat kekurangan APD dan belum tersentuh bantuan dari pihak manapun.

Rumah sakit tersebut sejatinya adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak kecil tipe C di Tangerang yang utamanya menerima pasien untuk kasus penyakit anak, kehamilan dan persalinan. Namun  karena kondisi darurat, jumlah penderita dan suspek Covid-19 di Jabodetabek terus bertambah, maka rumah sakit ini pun tak bisa menolak kasus Corona.

Alhamdulillah face shield buatan anak-anak dapat membantu dan dimanfaatkan oleh 100 orang tenaga medis di rumah sakit tersebut. Untuk mengapresiasi kerja keras dan kerja sama anak-anak, saya menyimpan foto-foto kegiatan saat proses pembuatan face shield berlangsung ke laman media sosial. Tak disangka, banyak pihak yang ternyata memberi respon positif.

Ada beberapa orang tenaga kesehatan yang menghubungi saya untuk meminta bantuan donasi face shield  rumahan ala kami. Namun lebih banyak rekan yang menghubungi bermaksud menitipkan donasi dana untuk digunakan membeli alat dan bahan pembuat face shield.

Ada juga teman-teman yang menitipkan masker untuk didonasikan bersama dengan face shield yang akan kami kirimkan ke rumah sakit atau puskesmas. Lalu ada pula kawan yang berdomisili di pulau-pulau lain meminta saya mengajarkan cara membuat face shield, agar mereka juga bisa membuat sendiri untuk disumbangkan ke fasilitas medis terdekat dari rumah mereka.


Luar biasa! Betapa mudahnya menularkan perbuatan baik dan positif tanpa perlu heboh berkoar atau ceramah panjang lebar. Semoga wabah kebaikan berbagi ini dapat menular melebihi kecepatan virus corona.

Tutorial Membuat Face Shield Sederhana

Bagi Anda, terutama para mamah muda, yang mungkin mulai bingung merencanakan aktivitas positif di rumah pada masa home learning ini, barangkali berminat juga membuat face shield rumahan ala kami. Berikut saya bagikan tutorialnya.

Alat dan bahan yang dibutuhkan:
  1. Plastik mika sampul jilid fotokopi.
  2. Pita gulung, dipotong sepanjang lingkar kepala.
  3. Lakban.
  4. Straples.
  5. Gunting


Cara membuat:



Taraaaa….
Mudah sekali bukan?
Semua alat dan bahan pun dapat diperoleh di toko ATK terdekat, atau di tempat jasa fotokopi.



Mudah, murah dan bermanfaat. Bisa jadi face shield buatan anak-anak Anda dapat membantu menyelamatkan puluhan hingga ratusan nyawa para pejuang medis bangsa ini.
Selamat mencoba di rumah yaaa….

Yuk,
Mari lakukan kebaikan berbagi sebisa dan semampu kita. Sekecil apa pun, berikan kontribusi agar segala kebaikan dunia tidak berhenti hanya sampai di kita.  Sedekah dapat melalui beragam cara sesuai kapasitas diri. Dapat berupa waktu, tenaga, dan pikiran. Bagi yang sibuk namun berlebih harta, dapat pula menitipkan donasi pada Dompet Dhuafa yang akan menyalurkannya melalui berbagai program kebaikan bagi umat.
#MenebarKebaikan
#LombaBlogMenebarKebaikan


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar