Selasa, 03 September 2019

From International Symposium Of Education 2019


Kemarin saya berkesempatan untuk hadir dalam International Symposium On Education di Gedung A, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Simposium sehari ini termasuk dalam rangkaian gelaran Indonesia International Book Fair 2019 yang diprakarsai oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Ajang ini sendiri akan berlangsung selama 4-8 September 2019 di JCC, jakarta.


Dan sungguh tidak rugi menghadiri simposium ini. Deretan narasumber yang cetar membahana, merupakan para ahli di bidangnya dari dalam dan luar negeri. Garis hubung tema simposium ini secara umum adalah keterkaitan antara dunia pendidikan dengan buku.

Nah jadiiiii..
Kali ini saya ingin membagikan beberapa hal yang menurut saya menarik untuk digarisbawahi dan menjadi catatan penting bagi diri ini.

Tantangan-Pencapaian-Kepuasan
Apa sih korelasi antara ketiga hal tersebut?
Bagaimana mungkin tantangan hidup dapat membuat seorang individu merasa bahagia dan bernilai?
Paparan dari Rhenald Khasali ini adalah salah satu yang paling jleb untuk saya.


Menurut Pak Rhenald, tantangan hidup dapat menstimuli keluarnya hormon dophamine atau hormon bahagia dalam tubuh yang sangat penting untuk kesehatan seluruh organ.

Bagaimana bisa?
Karena saat mendapat tantangan, manusia akan berusaha untuk mengatasi dan mencari solusi. Setelah dapat mengatasi, maka hal ini akan menjadi salah satu pencapaian dalam hidup. Pencapaian dan keberhasilan menghadapi tantangan akan menimpulkan kepuasan batin. Yang dapat berujung pada kebahagiaan individu.

Dan menurut Pak Rhenald, semua anak membutuhkan perasaan ini. Oleh karena itu, setiap orang membutuhkan tantangan hidup,agar bisa merasakan kepuasan batin, juga merasa bahwa dirinya "berarti".

Sekolah adalah taman bermain
Dalam simposium ini, Rhenald juga mengutip petuah Ki Hajar Dewantara saat mendirikan sekolah Taman Siswa.


Bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang tidak membosankan. Sekolah harus menjadi tempat yang dirindukan oleh siswa. Dan sekolah juga menjadi salah satu pusat kegiatan, ibarat taman bermain yang selalu menyenangkan untuk didatangi.
Dan guru memegang peranan sangat penting untuk mewujudkan sekolah yang dirindukan anak.

Kenali dirimu
Selain Rhenald Khasali, narasumber lain dalam simposium ini adalah Heru Widiatmo, seorang doktor lulusan University of Iowa.


Beliau mengatakan, "Tak perlu ngoyo untuk menjadi yang terbaik. Tapi cukup kenali saja diri sendiri. Pahami kelebihan dan kekuranganmu. Agar bisa mengoptimalkan kelebihan, dan meminimalisir efek dari kekurangan yang kita miliki."

Waaaah jleb banget juga nih...
Dan tahukah moms, bahwa ternyata seorang pakar seperti Pak Rhenald Khasali pun pernah mengalami tinggal kelas looooh...

Pak Rhenald juga sempat bercerita, bahwa beliau pernah mengalami variasi jalan hidup. Dari prestasi akademik, beliau pernah berada di posisi buncit paling akhir di kelas.
Pernah tinggal kelas.
Juga pernah berada di posisi puncak secara akademis.
Dan ternyata, "Saya merasa lebih bahagia saat berada di posisi bawah. Sebab mempertahankan posisi puncak itu membuat rawan stress...", kata Pak Rhenald.

Kisah masa lalu para narasumber ini juga menjadi catatan berharga bagi saya.
Bahwa proses hidup itu ternyata tak pernah berhenti.
Sebagai ibu, hal ini mengingatkan saya agar tak jumawa atau pun kecewa berlebih dengan segala prestasi dan tingkah polah anak-anak.

Karena roda hidup akan selalu berputar. Terkadang di atas, besok bisa di bawah. Yang terpenting adalah terus bergerak. Tidak pernah berhenti atau menyerah menghadapi tantangan hidup.

Saya jadi tak sabar menanti deretan ilmu kehidupan lain yang akan tersaji dalam gelaran Indonesia International Book Fair 2019 di JCC nanti. Karena ternyata buanyaaaak loh agenda dan narasumber lain yang tak kalah cetar disana nanti.

Yup...
Di IIBF tak cuma ada jajaran buku berbaris rapi loh. Tapi juga ragam talkshow,  mini seminar, dan lain lain...
Cek jadwalnya nih...



See you there yaaaaaa moms...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar