Kamis, 01 Agustus 2019

Koran dan Budaya Literasi Keluarga


Membuat klipping koran konvensional

Berikut copas status  fb mbakyu sepupuku tersayang, mbak Terra Kurnia Desita (salah seorang pendongeng profesional dan praktisi dunia pendidikan anak di Bandung) :


Anak dan orangtua sekarang (termasuk saya) sepertinya memang lebih mengandalkan googling daripada mencari dari buku saat membantu anak membuat PR


Alasannya :
Lewat googling lebih mudah. Langsung to the point, ndak perlu susah membaca panjang. Hanya perlu waktu singkat.

Akibatnya :
Saat anak-anak mencari jawaban utk PR nya.
# Mereka tidak tahu bagaimana asyiknya dan cara mencari informasi dari buku.
# mereka banyak kehilangan info lainnya
# mereka tidak terbiasa untuk memilah mana penting dan tidak penting
# mereka akan menjadi anak yg cepat menyerah jika ada kesulitan
# mengandalkan orang lain
# gak terlalu percaya diri
# minat baca kurang terasah

Dan ini terlihat dari 3 orang anak SD kelas 5 yang saya bantu untuk mengerjakan PR IPS nya
###

Terilhami status ciamik tersebut, beberapa waktu yang lalu saat saya membantu seorang teman untuk mengkoordinir aktivitas di 'kidscorner' suatu seminar, dimana tanggungjawab saya adalah anak-anak usia 8-12 tahun, salah satu aktivitas yang saya berikan adalah membuat klipping koran bersama. Klipping koran dalam versi konvesional seperti saat era saya kecil dulu.

Kenapa perlu saya sebut 'klipping koran konvensional'? Karena deskripsi kata klipping di era digital kini telah mengalami pergeseran. Lima orang anak saya (10-18th) acapkali mendapat tugas sekolah membuat klipping. Bagi rekan-rekan generasi saya yang belum memiliki anak usia kelas 3 SD ke atas, jangan bayangkan klipping versi terkini penuh dengan guntingan kertas koran. 

Jika saya dulu berburu  koran hingga ke agen suratkabar di Pasar Kebayoran Lama, maka anak jaman sekarang mengerjakan klipping tugas sekolah dengan tangan bersih karena tidak perlu ternoda redusi tinta koran. Cukup duduk manis depan komputer atau laptop, 'googling' tema yang diinginkan, salin berita dan tempel di laman dokumen kosong, lalu 'print'... taraaaaa tinggal dibawa ke tukang fotokopi untuk dijilid.

Singkat cerita, ketika mengadakan aktivitas membuat klipping konvensional bersama para bocah ini, banyak fakta mengejutkan (untuk saya, mungkin juga saya-nya saja yang norak) dari para bocah peserta kegiatan tersebut.

Dari sekitar 15 orang anak usia 8-12 tahun, ternyata......
  • Ada yang belum pernah melihat wujud fisik koran (ow ow...)
  • Ada yang sudah tahu bahwa benda itu bernama koran, tapi tidak tahu bagaimana cara membaca koran. Karena hanya pernah membaca dalam bentuk paragraf secara mendatar, mereka tidak tahu cara membaca koran kolom per kolom secara menurun.
  • Saat berita yang ingin digunting ternyata bersambung ke halaman sekian, kolom sekian, muncullah pertanyaan: "Kak, kol (kolom.red) ini maksudnya apa?" (jangan-jangan mereka pikir itu jenis sayuran ya...).
  • Banyak anak yang bingung, dari sebelah mana suatu artikel berita berawal dan dimana pula berakhirnya.

Mereka pun terkejut sedikit panik saat menyadari tangan-tangan mereka menghitam hahaha..
Pengalaman super menarik...

Membuat saya jadi berpikir ulang. Setahun terakhir kami sempat memutuskan berhenti berlangganan surat kabar di rumah. Karena toh semua info yang kami butuhkan bisa kami dapat lebih terkini via internet. Tapi setelah pengalaman menarik tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk kembali rutin membeli surat kabar harian.

Di tengah gempuran digitalisasi ini, beberapa media literasi cetak ternyata dapat menjadi pengalaman dengan keseruan tersendiri. Antara lain karena beberapa media literasi cetak memiliki keunikan tersendiri dan butuh seni tertentu untuk membacanya.

Ya semisal surat kabar atau koran, yang cara membacanya sedikit berbeda dengan buku. Lalu ada pula komik yang berbeda pula seni menikmatinya.
Pembaca dituntut untuk dapat beradaptasi dengan berbagai teknik membaca yang berbeda. Hal ini secara tidak langsung memberi efek yang positif bagi terbentuknya karakter positif pada pembaca usia anak. Adaptasi dengan berbagai teknik membaca yang berbeda secara tidak langsung dapat melatih anak untuk berstrategi dalam beragam kondisi dan situasi.

Membaca koran juga memberi anak peluang untuk mendapat lebih banyak informasi ketimbang googling.  Saat membolak-balik lembaran surat kabar, bisa jadi anak akan menemukan variasi judul artikel yang menarik dan menggugah rasa ingin tahunya.

Dan salah satu keunggulan lain dari surat kabar ialah, segala info yang termuat di dalamnya telah melalui rangkaian panjang fit and proper test sehingga lebih terjamin kebenarannya dibandingkan artikel yang beredar di laman internet. 
Sedangkan pada dunia maya, siapa pun bisa menulis tentang apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tak jarang opini subyektif tanpa dasar menjadi viral dan dianggap sebagai kebenaran. 

Memperkenalkan surat kabar pada anak sebagai salah satu sumber info dan literasi sangat layak dipertimbangkan oleh semua orangtua. Fakta bahwa mayoritas konsumen berita/info versi digital yang termakan berita hoax adalah remaja dan kaum dewasa muda (usia awal 20-an) mungkin disebabkan karena mereka sudah mengenal gawai sejak lahir, hingga tak pernah mengkonsumsi berita yang disajikan media cetak.

Benar kah demikian?
Tentu saja hal ini masih berupa hipotesa pribadi emak dasteran ini saja. 
Tapi coba pikirkan...

Informasi apapun yang diterima manusia, akan menjadi tonggak landasan bagi kerangka pikirnya. Kenapa warga dewasa cenderung lebih sulit terpengaruh berita hoax?
Bisa jadi salah satu alasannya karena mereka telah lebih dulu memiliki landasan informasi yang dibaca melalui versi cetak di masa kecil mereka.
Sehingga ketika membaca informasi di laman internet, maka memori otaknya akan secara otomatis melakukan perbandingan antara informasi baru dengan data info lama yang sudah lebih dulu tersimpan.

Bayangkan jika anak-anak kita tidak pernah dibekali landasan informasi yang valid dan sahih kebenarannya. Lalu tanpa sengaja membaca lebih dulu artikel hoax di dunia maya?
Bukan tidak mungkin berita yang tak valid tersebut akan diyakini sebagai suatu kebenaran, dan kemudian berkembang menjadi landasan bagi kerangka berpikirnya hingga dewasa.

Duhai para sejawat ortu...
Sungguh,
Tak ada salahnya mempertimbangkan dengan serius, untuk memanfaatkan media cetak mainstream sebagai salah satu piranti wajib dalam mengembangkan budaya literasi keluarga di rumah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar