Senin, 31 Desember 2018

Pengalaman Baru Nan Seru Itu Disebut: MAGANG #CerdasDenganUangmu

Dari sekian banyak program dan proyek pendidikan keluarga dalam keluarga kecil kami, salah satunya adalah: magang atau belajar kerja.
Aturan dasar dari proyek keluarga ini sangat sederhana. Sebelum lulus Sekolah Menengah Pertama, semua  anak saya diharapkan pernah mencicipi minimal satu kali pengalaman magang kerja layaknya karyawan profesional pada sebuah organisasi atau bidang usaha.

Tidak ada ambisi atau target muluk dan neko-neko yang ingin dicapai dari proyek keluarga ini. Tujuan utama dari proyek ini hanya untuk menambah wawasan anak-anak, memberi mereka pengalaman hidup yang baru, dan untuk memperluas sudut pandang mereka sebagai manusia seutuhnya, bukan sekedar dalam kapasitas sebagai "siswa sekolah".

Pertimbangan utama dalam menentukan tempat magang pertama bagi anak-anak saya adalah: karakter dan minat.
Karena ini akan menjadi pengalaman pertama mereka bekerja di bawah komando orang lain dalam konteks profesional, melakukan aktivitas yang mungkin menuntut kesempurnaan hasil dalam kurun waktu berjam-jam dalam sehari, dan berada di bawah tekanan kerja.
Maka tempat magang pertama ini sebisa mungkin harus sesuai dengan bidang pekerjaan yang mereka minati dan sukai.

Kenapa? Agar mereka sebisa mungkin menikmati proses belajar menghadapi tekanan ini. Agar magang menjadi pengalaman yang menyenangkan, sehingga mereka ketagihan dan tidak kapok untuk mengulangi kembali aktivitas ini di lain waktu.

Dari lima orang anak saya (17th, 16th, 13th, 12th dan 9th), empat orang di antaranya sudah menunaikan tugas mulia magang kerja ini di beberapa bidang yang berbeda. Tak melulu di bidang usaha yang 'profitable', tapi juga di bidang pekerjaan sosial. Semua tempat magang pertama mereka dipilih sesuai dengan minat dan karakter masing-masing anak. 

Jadi dimana saja anak-anak saya melakukan kegiatan magang pertama mereka?

1. Marbot Mesjid


Dari kelima anak saya, si sulung Rhuma (17th) memiliki minat dan sisi spiritual cukup tinggi. Rhuma melakukan masa magang kerja pertamanya saat kelas 1 SMP. Dan mengabdi menjadi marbot mesjid secara sukarela menjadi pilihannya saat menentukan tempat magang pertama. 

Hampir seminggu Rhuma menginap di salah satu mesjid, tidak pulang ke rumah. Bila sebelumnya rajin datang ke mesjid untuk menikmati keleluasaan beribadah dengan menggunakan segala fasilitas yang tersedia, maka kali ini tak sekedar menggunakan saja. 

Sebagai marbot, Rhuma bertanggungjawab untuk melakukan perawatan mesjid beserta segala fasilitas di dalamnya. Mulai dari menyapu, mengepel, menyikat kamar mandi. Menggelar karpet saat kegiatan keagamaan akan berlangsung, dan menggulung kembali setelah selesai digunakan. Menyiapkan memastikan perangkat pengeras suara berfungsi dengan baik setiap menjelang adzan dan solat berjamaah.

Magang pertama ini bagi Rhuma bersifat ibadah dan pengabdian, dan sudah pasti tidak komersil. Namun karena sesuai dengan minat dan karakternya, Rhuma sangat menikmati tanpa kehilangan makna dan hikmah. Jadi lebih memahami manajemen operasional mesjid. Jadi lebih berempati dan meningkatkan kesadaran untuk turut merawat mesjid. Pengalaman magang yang membuat ketagihan.

Kini di usia 17 tahun, sudah tak terhitung pengalaman magang dan kerja sambilan yang sudah dilalui Rhuma. Sejak memasuki masa sekolah menengah atas, nyaris setiap akhir pekan Rhuma bekerja part-time. Kebanyakan di bidang kuliner sesuai jurusan pendidikan yang ditempuhnya, namun sesekali juga menjajal bidang lain seperti menjadi pembawa acara (MC) di beberapa kegiatan pentas seni sekolah, atau menjadi tenaga penjual dan penjaga stand produk di acara pameran. 

2. Service Komputer dan Cuci Mobil/Motor

Roha (16th) sejak kecil memiliki minat besar terhadap segala benda elektronik, apapun itu. Namun seiring waktu, makin tampak ketertarikannya terhadap komputer dan segala isinya. Di usia SD sudah mampu membuat animasi sederhana secara otodidak. Serta sukses mengorbankan beberapa buah laptop menjadi 'hang'. 
Memulai masa magang saat kelas 1 SMP, Roha memilih belajar bekerja di salah satu warnet sekaligus tempat jual beli dan servis komputer milik salah seorang teman saya.

Oleh Sang Majikan, Roha dipercaya mengampu sebuah komputer sebagai wadahnya bereksplorasi dengan berbagai program komputer. Dengan syarat, jika terjadi error dan kerusakan, maka Roha harus bertanggungjawab pula memperbaiki. Tak hanya itu, Roha juga bertanggungjawab menjaga kerapihan dan kebersihan toko. Sesekali juga membuatkan minuman untuk Pak Bos dan karyawan yang lain. Jika Pak Bos berbelanja kebutuhan toko, seperti 'spare part' komputer misalnya, Roha pun turut serta membantu dan mencari semua yang diperlukan.
Roha juga pernah diajak membantu Pak Bos untuk memasang jaringan komputer dan internet internal di perkantoran. Walhasil di kelas 1 SMP Roha sudah mampu merakit komputer.

Berbeda dengan Rhuma yang melakukan masa magang di waktu libur sekolah, Roha melakukan magang sepulang sekolah. Jika tidak ada tugas sekolah, selepas ashar saya mengantar Roha ke tempat magang dan menjemputnya setelah isya. 

Kini di kelas 2 SMK, pengalaman Roha bekerja juga sudah bertambah. Sesekali di akhir pekan Roha bekerja di tempat cuci mobil dan motor. Atau menjadi SPB (sales promotion boy) di mal dan CFD. 
Dan karena Roha aktif serta sangat mencintai kegiatan pramuka, saat ini dia juga menjadi pelatih pramuka.



3. Panti Asuhan Anak Berkebutuhan Khusus

Melakukan magang sosial di salah satu Panti Asuhan Anak Berkebutuhan Khusus sebagai relawan menjadi pilihan Ai (13th) untuk menjajagi pengalaman bekerja pertamanya. Dan ini menjadi pengalaman pertama saya terlibat dengan birokrasi formal agar Ai bisa diizinkan menjadi relawan. Maklum saja, panti asuhan tersebut sudah dikelola oleh yayasan yang sangat profesional dengan segala jenjang hierarki jabatan.

Jika pada magang pertama kakak dan adiknya, saya hanya cukup meminta izin secara lisan, kali ini saya harus mengajukan proposal resmi pada pihak yayasan pengelola. Sempat ditolak beberapa kali karena pengajuan proposal atas nama perorangan (bukan dari organisasi atau institusi), serta usia Ai yang masih 12 tahun. Sementara umumnya para relawan di panti tersebut berusia di atas 18 tahun. Beberapa purnama sejak pertama kali mengajukan proposal, akhirnya Ai bisa menjalani magang pertama sebagai relawan di bagian pengasuhan.

Tugas Ai adalah menemani dan mengawasi anak-anak penghuni panti bermain. Menyuapi, memakaikan baju, menyisiri rambut mereka. Mendorong kursi roda, memapah naik turun tempat tidur dan lain sebagainya.


Kenapa saya dan Ai bersepakat memilih panti asuhan sebagai tempat belajar bekerja?
Tentunya tak lepas dari karakter dan minat Ai. Sejak kecil Ai seperti memiliki aura tertentu yang membuat anak-anak kecil menyukainya. Di sekolah, Ai selalu memiliki teman sekelas yang berkebutuhan khusus. Dan menurut para guru, Ai dianggap sebagai anak normal yang paling sabar, telaten, ngemong, dan bisa memahami teman-temannya yang spesial.

Dan sesuai perkiraan, walaupun tidak mendapat gaji, Ai sangat menikmati waktu di panti asuhan bersama puluhan anak berkebutuhan khusus. Bahkan di hari kedua menjadi relawan, langsung timbul keinginannya untuk tinggal menetap di panti asuhan tersebut, minta dicarikan sekolah terdekat agar bisa pulang pergi sekolah dari panti asuhan.

4. Restoran dan Kebun Hidroponik



Azza melakukan magang pertama saat usia 11 tahun. Pengalaman pertama tersebut dilalui di Kampung Jajan Bilabong, sebuah restoran dengan konsep saung di pinggiran Bogor. Dan karena pemilik rumah makan juga memiliki kebun hidroponik bersebelahan dengan restoran, maka saat itu Azza melakukan kegiatan magang di dua jenis bidang usaha sekaligus.

Di rumah makan, Azza bertugas mencatat pesanan pembeli, membantu petugas dapur menyiapkan menu pesanan dan mengantarkan pesanan kepada konsumen.


Sementara saat berada di kebun sayur hidroponik, Azza belajar tentang pembenihan, pembibitan, bagaimana memindahkan sayur dari satu media tanam ke media tanam yang lain. Setiap pergantian media tanam dilakukan menyesuaikan dengan usia tanaman.



Azza yang berkarakter ekstrovert, ternyata jauh lebih menyukai dan menikmati pekerjaan di restoran, sebab membuatnya selalu bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Walaupun secara fisik terlihat lebih melelahkan ketimbang pekerjaan di kebun sayur yang kebanyakan dilakukan dalam posisi duduk.
Di lain kesempatan, Azza juga pernah magang di 'daycare', membantu mengasuh dan mengawasi adik-adik bayi dan balita. Sudah bisa ditebak, Azza juga sangat menikmati pekerjaan ini.

5. Penggunaan Uang Hasil Magang

Tak selamanya pekerjaan yang dilakoni anak-anak saya dalam proyek magang ini menghasilkan nominal uang bagi mereka. Karena memang sejak awal ditanamkan, bahwa tujuan program ini adalah untuk belajar bekerja di dunia nyata, jadi sejak awal pun tidak ada yang berharap mendapat imbalan dari pekerjaan yang dilakukan.

Namun terkadang rejeki tak dapat ditolak. Beberapa pihak pemberi pekerjaan magang pada anak-anak saya sesekali juga memberi tanda syukur dalam bentuk nominal uang. Dan untuk melatih sikap #CerdasDenganUangmu biasanya anak-anak akan memanfaatkan setiap rezeki berupa uang yang mereka dapat untuk beberapa pos belanja dan kebutuhan sebagai berikut:


💰💵💰💵💰💵💰💵💰💵

a. Shodaqoh
Adalah menjadi yang utama dan pertama. Setiap kali mendapat rejeki, wajib langsung dikeluarkan infak/shodaqohnya untuk pembersih harta.

b. Tabungan Duniawi Jangka Pendek
Target menabung jangka pendek bisa berbeda bagi tiap anak. Tergantung apa yang sedang mereka inginkan saat itu.

c. Tabungan Duniawi Jangka Panjang
Untuk jangka panjang, kami mengarahkan anak-anak agar target jangka panjang mereka adalah biaya kuliah (walaupun sebagai orangtua kami juga pasti menyiapkan tabungan biaya kuliah anak). Agar mencari ilmu yang bermanfaat menjadi salah satu tujuan menabung, tak sekedar mengahabiskan uang untuk belanja konsumtif.

d. Tabungan Akhirat Jangka Pendek
Kami berusaha mengarahkan anak-anak untuk menabung sebagai persiapan ibadah qurban setiap tahun 🐮🐏🐮🐏
Sebab berkurban adalah hajat tahunan bagi umat islam dengan potensi pahala yang luar biasa.

e. Tabungan Akhirat Jangka Panjang
Sebagai orangtua, kami berupaya merangsang ananda untuk memiliki semangat menabung dan menunaikan ibadah haji, sebagai salah satu kewajiban dan rukun islam.
🕋🕋🕋🕋🕋

f. Modal Investasi
Pos ini adalah opsional. Kami memutuskan ada pos ini, karena salah satu anak saya bertanya darimana modal didapat saat ingin berinvestasi di bidang usaha.

Jadi kami berdiskusi, dan membahas bahwa umumnya manusia mencari rezeki dengan berdagang/bisnis atau bekerja terlebih dahulu, lalu dari penghasilannya mereka menabung dana sebagai persiapan untuk melakukan investasi di bidang-bidang usaha yang menguntungkan.

Karena membahas tentang ini, maka sebagian anak saya memutuskan untuk mencantumkan pos modal investasi dalam list pos penggunaan uang mereka. Dalam rangka menabung untuk memiliki modal berinvestasi.

g. Dana Darurat
Penggunaan pos dana darurat dapat berupa keperluan untuk keperluan pengobatan, dana takziah jika ada kerabat yang berduka dan lain-lain.
Bagi anak-anak saya, pos ini terutama ditujukan untuk dana pengobatan apabila terserang sakit.

h. Belanja
Nah setelah menyisihkan uang untuk semua pos di atas, maka sisa dana yang ada dapat digunakan seluruhnya untuk keinginan konsumtif.


6. Manfaat Kegiatan Magang

Program magang ini tentu saja memberi beberapa hal positif bagi anak-anak. Mendapat pengalaman batin yang baru adalah salah satunya. Anak-anak jadi memahami, bahwa ternyata mencari uang itu tidak mudah. Selain itu, anak-anak juga merasakan kebanggaan saat menghasilkan uang dari kerja keras dan keringat sendiri, dan bisa membeli beberapa barang dari rezeki halal yang dihasilkannya sendiri. Belajar menurunkan ego untuk bekerjasama. Keterampilan berempati dan menghargai pun makin terasah. Bertambahnya jalinan pertemanan dan relasi pun dapat menjadi investasi non materil jangka panjang.

Dan tentunya, kegiatan magang ini dapat menambah pengalaman bekerja di dunia nyata. Misalnya Rhuma dan Roha, kini setelah magang di berbagai tempat, tak selamanya mereka mendapat pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keinginan mereka. Namun jika ada kesempatan untuk mencoba beragam jenis pekerjaan halal, Rhuma dan Roha tak segan untuk bereksplorasi, menambah ilmu dan wawasan.

Menurut artikel berikut (klik disini) pengalaman kerja adalah salah satu faktor penting sebagai pertimbangan apakah seorang pelamar kerja akan diterima bekerja di suatu perusahaan. Karena itu, dengan proyek magang keluarga ini, kami sebagai orangtua berharap dapat memberi anak-anak tambahan bekal (selain pendidikan formal) yang dapat menunjang sukses mereka di masa depan.
Untuk mengakses berbagai info menarik lain seputar dunia keuangan dan finansial, silahkan meluncur ke Moneysmart.id

#CerdasDenganUangmu
Load disqus comments

0 komentar

Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.