Selasa, 14 Januari 2020

BERJUANG DAN BOSAN



Another deep conversation with oldest boy few days ago.

Jadi ceritanya, cah lanang mbarep baru saja menyelesaikan masa PKL selama 6 bulan di salah satu hotel berbintang di Jakarta.

Rhuma (17y) antara sedih dan senang masa PKL berakhir. Senang karena akan kembali ke sekolah bersua guru dan teman-teman setelah selama 6 bulan tidak menginjakkan kaki di sekolah. Sedih karena dalam simulasi kerja nyata selama 6 bulan, Rhuma merasakan mendapat buanyak manfaat.

Lebih dari sekedar keahlian dan kompetensi meramu bahan dan bumbu yang meningkat, menurut Babang Uma, ilmu dan pelajaran hidup yang didapat jauuuuuuuh lebih banyak.

Tentang 'downgrade expectation'.
Tentang kerjasama tim.
Tentang kepekaan membaca situasi.
Tentang naluri dan intuisi.
Tentang memecahkan masalah kala terdesak kondisi.
Tentang keseimbangan antara kepercayaan diri mencipta dan menghasilkan ide baru, tanpa mengabaikan saran dan pendapat orang lain.
Tentang menghargai rekan sejawat.
Tentang inisiatif dan 'support system'.
Tentang keluwesan dan fleksibilitas tanpa terbawa arus negatif.

Dan masih banyak sekali kisahnya di pagi itu...

Dan sebagai penutup, inilah pelajaran hidup terbesar yang didapatnya:

"Uma jadi sadar Miy.. Ternyata hidup itu membosankan ya."

"Dari kecil rutinitas utama Uma kan sekolah. Rasanya bosan banget. Makanya waktu mau PKL tuh semangat. Uma pikir gak bakal bosan karena tantangannya lebih banyak di dunia kerja."

"Ternyata orang kerja juga sama aja ya. Bisa bosan juga. Awalnya aja waktu belum tahu apa-apa tuh rasanya penasaran, pingin tahu. Waktu sudah bisa, lama kelamaan bosan juga."

"Tapi kalau dipikir-pikir, semua rutinitas atau hal yang kontinyu itu emang pasti jadi bikin bosan ya."

"Orang yang ekonomi pas-pasan ngerasa bosan karena harus terus-terusan kerja keras.
 Orang yang banyak duit juga bisa bosan ngabisin duit.

Orang yang gak pernah kemana-mana bosan di rumah terus. Tapi orang yang pergi terus juga mungkin bosan naik pesawat melulu, pergi melulu.
Yang keluarganya bahagia bisa bosan karena hidup terlalu tenang.
Yang keluarga berantakan juga bosan ketemu masalah mulu"

"Uma jadi mikir, sebenarnya perjuangan hidup yang utama itu adalah bertahan hidup untuk mengatasi kebosanan (menjalani) rutinitas ya Miy...
Walaupun bosan, ya tetap harus bertahan.
Walau bosan, ya harus berjuang terus untuk tetap survive menjalani rutinitas... Harus survive mengalahkan rasa bosan."

"Nabi Musa dulu nyuruh Nabi Muhammad minta ke Alloh supaya waktu solat dikurangi dari 50x sehari jadi cuma 5 waktu aja.... Mungkin bukan karena ibadah solatnya yang berat dikerjain kali ya...

Tapi rasa bosan  melakukan hal yang sama berulang kali itu perjuangan utamanya ya.."

"Jadi kita ini Harus mikir, harus cari tantangan hidup yang positif, yang gak melanggar larangan di quran hadist, supaya gak bosan hidup...
Harus cari cara untuk bisa survive mengalahkan kebosanan hidup...
Menunggu mati."

Me: another speechless moment.

My boy is no more a boy.

#repost
#Juli2018
Read more

Jumat, 27 Desember 2019

'We Time' Seru di World Of Imagination Nivea

World Of Imagination
Saat mendengar kata tersebut, terus terang sama sekali tak ada gambaran di kepala saya, seperti apa wujudnya. Rasa penasaran ingin tahu, plus iming-iming akan mendapat goodie bag dengan nilai tak sedikit yang memicu saya untuk datang hehe... Makluuuum, kita kan emak irit cyiiin...

Sempat akan membatalkan untuk pergi di Sabtu pagi itu (21 Desember 2019) karena kondisi fisik yang kurang fit dan paksuami yang berhalangan mengantarkan. Walau paksuami merelakan saya membawa mobil sebagai moda transportasi, tapi kaaaaannnn....

Masalahnya adalah, daku bisa nyetir sih... Tapi buta arah. Butuh pendampingan navigator karena kemampuan spasial ruang yang di bawah rata-rata. Dan mata ini juga sering langsung berkunang jikalau terpaksa memantau peta ukuran mini ala google maps. Jadi nyetir dari Meruya ke Ancol itu ibarat perjuangan fii sabilillah untuk saya..

Selain itu, semula rencana mengajak 3 krucil karena saya memiliki 4 tiket. Tapi ternyata yang bisa ikut pergi cuma neng butet anak wedhok semata wayang. Sementara abang dan adeknya ternyata sudah punya agenda sparring tanding bola.. Sighhh...

Akhirnya diputuskan kami pergi berdua saja, me and neng Azza, anggap saja we time ibu-anak. Kami pergi menggunakan transportasi umum yang ternyata sangat mudah, murah dan nyaman.

Dari gang depan perumahan tempat tinggal kami, langsung naik angkot Jaklingko warna merah jurusan Meruya-Citraland dengan tarif Rp. 0 alias gratis. Cukup tap kartu Jaklingko saja. Turun di halte transjakarta Kedoya.

Berganti moda transportasi dengan busway, transit di Harmoni, dan langsung menuju Ancol. Gampang sangat rupanya. Dan Alhamdulillah selalu dapat tempat duduk.

Turun di Ancol, kami menggunakan shuttle bus Wara-wiri yang disediakan gratis oleh pengelola Ancol. Menuju lokasi Econvention dan Ecopark, tempat World Of Imagination berada.

Setelah menukarkan tiket, kami menerima kupon yang dapat digunakan untuk pengambilan hampers goodie bag. Ternyata isi goodie bag nya buanyaaaaak euy.. 
Untung bawa ransel ukuran jumbo. Jadi segala rupa printilan bisa langsung masuk.

Item paling banyak yang diterima adalah krim Nivea. Dan setelah berbincang cantik dengan para petugas dari Nivea, saya baru paham maksud dan tujuan dibagikannya banyak krim tersebut.

Rupanya, Nivea mencoba membantu para ibu dan anak untuk dapat lebih dekat dan mendapatkan bonding yang lebih erat dengan kegiatan fisik skin to skin. Misalnya saat sebelum tidur, para ibu dan anak dapat saling mengoleskan krim Nivea satu sama lain..
Owwwwhhhh  😍😍😍
So sweeeet bangeeeet...
Dan malam harinya langsung kami praktekkan di rumah loh...

Singkat kata singkat cerita, saya dan Azza kemudian memulai petualangan di World Of Imagination. Berawal di mini teater yang menampilkan video hologram sepenggal kisah Ibu Semesta dan empat anaknya di World Of Imagination.

Ibu Semesta mengajarkan empat nilai kebajikan kepada anak-anaknya. Yaitu nilai keberanian, kesederhanaan, kepercayaan dan kepedulian. Setiap nilai kebajikan dilambangkan lewat sebuah medali. Para pengunjung harus bekerja sama berpasangan orangtua dengan anak untuk mengumpulkan medali-medali tersebut di empat dunia bermain. Yaitu, Dunia Hutan, Dunia Angin, Dunia Air dan Dunia Pasir.

Sejujurnya, ketika mulai memasuki World Of Imagination dan memulai petualangan di Dunia Hutan, saya sempat membatin. Wah sudah bukan masanya anak-anak saya nih. Apalagi Azza sudah abege 13 tahun. Wahana ini sangat saya anjurkan untuk para orangtua dengan anak usia maksimal 10 tahun.

Tapi ternyata saya salah hehe..
Azza yang sudah remaja cukup menikmati kegiatan di setiap wahana..
Salah satunya karena sangat banyak spot cantik yang selfiable wakakakakak..

Seperti ketika memasuki Dunia Hutan yang suasananya gelap dan remang-remang. Namun tampilan hologram yang ciamik untuk menjadi latar belakang swafoto yang menarik sih. Juga sulur-sulur hijau yang melambangkan kerimbunan hutan ternyara dapat menjadi tampilan unik latar belakang foto.

Aktivitas menari bersama para mahluk hutan juga cukup bisa membuat saya dan Azza tertawa-tawa gembira menikmati olahraga sederhana.

Ketika memasuki Dunia Angin, tangan kami diikat dengan satu gelang rapuh yang terbuat dari kertas krep yang ringkih. Disini dituntut kerjasama ibu-anak untuk saling percaya agar gelang tersebut tidak putus atau robek saat beraktivitas.

Kami sempat melewatkan Dunia Air, dan memilih langsung ke Dunia Pasir yang tampilannya eye catching sangat di mata saya.. Indah....
Tantangan di Dunia Pasir adalah melalui labirin yang berkelok-kelok, dan harus berhadapan dengan Monster Pasir.

Labirinnya sederhana sih, ya maklum lah, Neng Azza kan sudah usia remaja, jadi tak terlalu menantang untuknya. Tapi sekali lagi, kami cukup bergembira karena menemukan banyak spot foto asyik di dalam labirin hahaha...

Keluar dari labirin, kami berlomba menemukan sebanyak mungkin stiker medali Kesederhanaan yang tersebar di dalam hamparan pasir putih nan menyilaukan.

Saya sempat malas memasuki Dunia Air. Karena malas berbasahan, malas lepas sepatu. Tapi si butet mupeng ingin menikmati keseruan main air. Jadilah Neng Azza memasuki Dunia Air sendiri. Dan saya menanti di pinggir wahana sebagai seksi dokumentasi pengambil gambar Neng Azza in action bermain tembakan air, panjat tali dan perosotan air raksasa.
Dan ternyata Dunia Air inilah yang menjadi favorit Neng Azza.

Walau sasaran utama kegiatan ini kemungkinan besar adalah anak-anak usia di bawah 10 tahun, tapi ternyata kami sebagai pribadi dewasa dan remaja pun sangat bisa menikmati semua keseruannya.

Karena sejatinya bermain adalah jiwa terdalam setiap orang...
There's a kid live inside adult forever.
Dan World Of Imagination dari Nivea telah mewujudkan khayalan dari sisi kanak-kanak setiap orang di usia berapa pun.
Tak menyesal menghabiskan jatah nge-date dengan anak wedhok di event ini.
Juga tak sabar untuk mengajak si bungsu ke acara serupa di lain kesempatan.
Read more

Senin, 16 Desember 2019

Tiga Macan Safari: Akrobat Keliling, Gigitan Harimau Hingga Taman Safari Cisarua


Yang mengaku WNI, siapa yang tak kenal nama Taman Safari Indonesia? Tak ada pastinya.
Taman Safari Indonesia baik yang berlokasi di Cisarua sebagai pionir konservasi hewan di negara ini, mau pun di lokasi lain seperti Pringen-Jawa Timur, Bali Safari, Batang Dolphin Center di Jawa Tengah, serta Jakarta Aquarium di Neo Soho adalah salah satu tujuan wisata keluarga dan edukasi yang tak pernah sepi pengunjung.

Saya pun pernah menjadi salah satu penikmatnya. Tapi adakah yang mengetahui asal muasal didirikannya Taman Safari Indonesia pertama di Cisarua?

Sabtu, 14 Desember 2019 saya berkesempatan menghadiri undangan peluncuran buku Tiga Macan Safari yang mengungkap semua kisah sejarah di balik hadirnya Taman Safari Indonesia di tengah masyarakat.

Acara peluncuran ini diadakan di Jakarta Aquarium-Neo Soho, Jakarta Barat. Buku yang ditulis oleh tak kurang dari 17 orang tim riset dan penulis ini diterbitkan oleh penerbit mayor idaman semua penulis tanah air, Gramedia Pustaka Utama. Riset dan penulisan buku ini dimulai sejak tahun 2017. Tentu saja peluncuran buku ini dihadiri oleh perwakilan dari Gramedia, tim penulis dan tentunya ketiga macan penopang Taman Safari Indonesia, yaitu kakak beradik Bapak Jansen Manansang, Bapak Frans Manansang dan Bapak Tony Sumampau.

Seremoni acara diawali dengan pembukaan tabir penutup mock up cover buku Tiga Macan Safari berukuran raksasa yang dilakukan oleh dua orang putri duyung cantik di dalam akuarium besar.



Kemudian berlanjut dengan talkshow bersama ketiga macan safari yang mengisahkan perjalanan hidup mereka sejak kecil dalam didikan keras Sang Ayah, Hadi Manansang, pendiri Taman Safari Indonesia.

Siapa yang menduga bahwa awalnya keluarga ini adalah pemain akrobat keliling yang mengamen mempertontonkan keahlian akrobatik di pinggir jalan dan berpindah-pindah tempat. Sebelum kemudian akhirnya memiliki pertunjukan sirkus terbesar di Indonesia pada masa itu.


Tony Sumampau mengatakan, bahwa "Saat itu ada kekecewaan pada orangtua. Karena teman yang lain saat pulang sekolah bisa main, bisa istirahat. Tapi kami harus latihan akrobat.. Saya setiap hari harus latihan handstand minimal 45 menit."

"Tapi ayah bilang: 'harus fokus minimal padasatu hal dalam hidup, maka kamu pasti akan sukses di hal tersebut."

Bapak Jansen Manansang menambahkan, "Awalnya Ayah kami, Hadi Manansang memiliki keinginan untuk tetap menjaga agar para karyawan sirkus tidak kehilangan pekerjaan, para hewannya juga terawat walaupun tidak ada show sirkus. Karena saat musim hujan biasanya sirkus tidak bisa melakukan show."
Namun bagaimana caranya agar keinginan tersebut dapat terwujud? Dalam bentuk seperti apa? Inilah yang terus berkecamuk di benak Hadi Manansang.

Tiga Macan Safari: Jansen Manansang, Frans Manansang dan Tony Sumampau.

Lalu suatu saat Tony tergigit harimau, sehingga harus melakukan pengobatan di Australia. Dan disana lah pertama kalinya keluarga ini melihat sebuah safari. Dan kemudian berpikir untuk membangun Taman Safari di Indonesia.

Frans Manansang melengkapi, "Semula blueprint Taman Safari ditawarkan ke Gubernur DKI saat itu, Bapak Ali Sadikin. Lalu ditawarkan ke beberapa instansi untuk mendapatkan perizinan. Hingga akhirnya mendapat lokasi di Cisarua yg saat itu masih sepi. Tidak ada rumah makan. Masih antah berantah."


Kini sudah 50 tahun berselang sejak Taman Safari Indonesia berdiri di Cisarua, Bogor. Ketiga bersaudara ini pun telah mengembangkan unit-unit lain seperti Taman Safari ll di Pringen Jawa Timur, Bali Safari and Marine Park di Gianyar-Bali, Batang Dolphin Center Jawa Tengah dan Jakarta Aquarium di Neo Soho. Setelah menjadi tujuan wisata nasional dan internasional, Taman Safari Indonesia tidak hanya fokus di bidang konservasi satwa liar, namun juga berperan sebagai sarana pendidikan dan penelitian.

Seperti diungkapkan oleh ketiga macan ini, "Kami akan konsisten di bidang konservasi pelestarian hewan. Agar anak cucu kita di masa depan tetap dapat melihat langsung dan tahu bagaimana bentuknya gajah, seperti apa jerapah itu. Jangan sampai terjadi seperti beberapa anak di negara maju yang hanya kenal dunia digital, sehingga kerbau pun dikira dinosaurus. Wujud ayam hidup pun tak pernah menemui."

Buku ini juga mengisahkan perjalanan hidup seorang Hadi Manansang yang bernama lahir Cai Ling Sian, mulai dari tempat kelahirannya di Shanghai, Cina. Kemudian bekerja di toko beras, hingga bergabung dalam show sirkus keliling dunia. Sampai terdampar di Indonesia setelah Perang Dunia pecah, kemudian menikah dengan Tuti Manansang dan berganti nama Indonesia.

Banyak sekalu inspirasi hidup yang dapat ditemui dalam buku ini. Tiga Macan Safari: Kisah Sirkus Ngamen Sebelum Permanen dapat diperoleh di berbagai toko buku di seluruh Indonesia.

Ukuran: 15x23 cm.
Tebal: 234 halaman.
Cover: Softcover.
ISBN: 978-602-06-3647-4
Harga: Rp. 120.000
Terbit: 25 November 2019
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Read more

Berbagi Bahagia Bersama AirAsia di Yogyakarta


Semua bermula ketika di awal April 2019 yang lalu saya dihubungi oleh Mbak Nesri, salah satu panitia penyelenggara Konferensi Ibu Profesional, yang memberi kabar bahwa tulisan berjudul "Ask to Solve Sebagai Kegiatan Keluarga" yang saya ikusertakan dalam ajang Call for Paper Konferensi Ibu Profesional ternyata terpilih untuk ditampilkan dalam konferensi tersebut.

Singkat kata, saya diundang untuk menjadi salah satu narasumber yang akan menyampaikan materi dalam bentuk workshop pada Konferensi Ibu Profesional yang berlangsung selama 3 hari, 16-18 Agustus 2019 di Sahid Jaya Hotel, Yogyakarta.

Respon spontan saya saat itu adalah, terkejut, bahagia, tak mampu berkata, serta bangga. Bagaimana tidak, kegiatan ini tarafnya internasional loh. Dengan para narasumber kualitas bintang lima, serta ratusan peserta dari seluruh nusantara dan beberapa negara tetangga dekat seperti Malaysia, Singapur bahkan India. Tak hanya dalam wujud offline, gelaran ini juga disiarkan langsung melalui teleconference ke puluhan negara di lima benua.

Melihat daftar para narasumber inspiratif dan paten saja sudah cukup membuat saya merinding membayangkan akan berada satu panggung dan bertemu langsung dengan mereka.



Ada Ibu Tri Mumpuni, sang pejuang listrik pedesaan yang bahkan sudah pernah menerima penghargaan internasional dari Pangeran Charles (Inggris) dan Barack Obama (USA). Lalu ada Ustadz Salim A Fillah beserta tim keren Mesjid Jogokariyan. Ada pasutri teladan, Ibu Septi Peni Wulandari dan Bapak Dodik Mariyanto. Serta Sumitra Pashupathy dari Ashoka Foundation yang jauh-jauh datang dari India.

Jadi, saat Mbak Nesri menanyakan kesediaan saya untuk berbagi materi workshop Ask To Solve untuk para peserta konferensi ini, maka tanpa pikir panjang saya langsung menyanggupi saat itu juga.

Selepas itu, sepanjang bulan April hingga Juli, terjalin beberapa kali kontak antara saya dengan tim panitia. Kebanyakan untum persiapan alat dan bahan sebagai penunjang materi workshop yang akan saya bawakan nantinya. Dan menurut jadwal, saya akan tampil di tanggal 17 Agustus 2019. Namun tak pernah dibahas sedikit pun tentang teknis keberangkatan kami, para narasumber ke tempat lokasi di Yogyakarta.



Hingga di saat putaran hari memasuki awal bulan Juli 2019, saya baru teringat belum mengkonfirmasi perihal tiket perjalanan, akomodasi dan sebagainya. Dan ketika saya tanyakan kepada pihak panitia, ternyata panitia tidak melakukan pembelian tiket bagi para narasumber. Dengan tujuan agar kami dapat lebih fleksibel mengatur jadwal keberangkatan di tengah kesibukan masing-masing. Dan penggantian biaya tiket akan diurus setelahnya.

Saya pun langsung kelabakan. Karena sudah mendekati Hari H. Dan terlebih karena saya saat itu kebetulan baru saja pindah tempat mengajar ke salah satu sekolah negeri sebagai tenaga pengajar honorer yang terima gaji per tiga bulan. Dengan kata lain, di bulan Juli dan Agustus itu gaji belum akan saya terima, baru di bulan September saya akan menerima gaji pertama yang dirapel 3 bulan.

Intinya adalah, dana yang saya miliki sangat terbatas. Saat itu saya langsung hunting tiket kereta api. Karena saya berasumsi bahwa tiket kereta api akan lebih terjangkau harganya dibandingkan tiket pesawat.

 Ternyata tiket kereta api hanya dapat dipesan maksimal 30 hari sebelum tanggal keberangkatan. Artinya, jika saya berencana untuk melakukan perjalanan di tanggal 16 Agustus, maka saya baru dapat memesan tiket pada tanggal 17 Juli 2019.

Saya pun dengan sabar menunggu hari bergulir menuju tanggal 17 Juli 2019 untuk dapat melakukan pemesanan tiket kereta api. Namun apa daya, di pagi hari sebelum pukul 10.00 tanggal 17 Juli 2019 semua tiket kereta yang jadwal jam keberangkatannya memungkinkan untuk saya ikuti ternyata sudah habis dipesan.

Masih ada beberapa tiket tersedia, tetapi waktu keberangkatannya tak memungkinkan untuk saya. Karena di pagi hari saya masih harus menunaikan kewajiban sebagai guru di sekolah tempat saya mengabdi, maka saya hanya dapat memesan tiket dengan jam keberangkatan sore atau malam hari.

Saat itu juga saya mulai berburu dan mencari informasi harga tiket bus malam menuju Yogyakarta, beserta lama durasi perjalanan dari Jakarta. Rupanya dari beberapa informasi yang saya dapat, perjalanan dengan cenderung sulit diprediksi durasi waktunya. Karena melalui jalan raya darat yang rentan kondisi macet tak terduga.

Selama beberapa hari berusaha memikirkan solusi keberangkatan ke Yogyakarta. Sempat terlintas untuk meminjam uang dalam rangka membeli tiket pesawat. Atau mengundurkan diri dari acara tersebut.

Lalu di tengah rasa putus asa, iseng mencoba cek harga tiket pesawat Air Asia DISINI. Dan mata saya langsung berbinar karena ternyata harga tiket Air Asia tujuan Yogyakarta hanya selisih seratus ribu saja dari harga tiket kereta api dengan kota tujuan yang sama. Tanpa pikir panjang saya pun segera melakukan pemesanan tiket untuk keberangkatan di tanggal 16 Agustus 2019 siang hari.

Sangat mudah memesan tiket Air Asia secara online. Hati menjadi tenang menanti hari keberangkatan. Dan yang tak saya duga, sehari sebelum keberangkatan, saya mendapat surat elektronik yang mengingatkan bahwa saya memiliki jadwal terbang bersama Air Asia esok harinya. Waaah ini layanan yang keren sangat menurut saya. Sebab baru kali ini saya mendapat email pengingat seperti ini.


Di tanggal 16 Agustus 2019 setelah Dhuhur saya menuju Bandara Soekarno Hatta menggunakan taksi online. Langsung menuju terminal keberangkatan, melakukan check in dan sesuai permintaan saya, mendapatkan seat di deret tepi lorong pesawat. Sengaja meminta tempat duduk pinggir, bukan dekat jendela seperti kebanyakan penumpang. Sebab saya cenderung sering bolak-balik ke kamar mandi hehe..

Pesawat lepas landas tepat waktu sesuai jam keberangkatan, alhamdulillah tidak ada penundaan jadwal berangkat. Sehingga tiba di Bandara Adi Sutjipto pun tepat waktu sesuai jadwal. Saya pun langsung menuju Sahid Jaya Hotel menggunakan ojek online, yang ternyata jaraknya tak jauh dari bandara.

Sumitra Pasuphaty dari Ashoka Foundation, India

Pembukaan acara konferensi sebenarnya sudah berlangsung sejak selepas waktu Dhuhur, jadi dengan terpaksa saya melewatkan sesi pembuka. Tapi tak mengapa, sebab masih banyak agenda berharga lain yang dapat saya ikuti.
Saya masuk ke ballroom hotel, tepat saat Sumitra Pasuphaty dari India menyampaikan materi tentang perempuan dan ibu sebagai agen perubahan di lingkungannya masing-masing.

Sesi malam berlanjut dengan materi Pergerakan Perempuan dan Ibu dari Ibu Septi Peni Wulandani sebagai pendiri Institut Ibu Profesional (IIP). Antara lain berkisah tentang sejarah berdirinya yang di mulai dari kegiatan belajar di depan cermin, hingga kini memiliki lebih dari 25.000 orang anggota tersebar di berbagai negara.

Ibu Septi Peni, Founder Institut Ibu Profesional

Pada Jumat malam, setelah sesi Bu Septi, saya berkesempatan bersua sahabat lama yang telah sekian tahun lamanya tak berjumpa. Kami berkeliling Yogyakarta di malam hari. Menikmati gelato hits di Yogya, juga suasana malam Malioboro yang ramai namun menenangkan.





Pada tanggal 17 Agustus 2019, selama sehari penuh dari pagi hingga malam kami, para peserta dan narasumber disuguhi berbagai materi padat gizi dan berisi. Materi tentang zero waste dan bank sampah disampaikan oleh Mbak Efi Femiliyah dari Jakarta. Kisah pembinaan UMKM skala kecil di Lampung oleh keluarga Mbak Puspa Fajar. Bagaimana cara menyusun menu belajar anak di rumah dipersembahkan oleh Mbak Restu dari Banten.

Ada pula materi pengembangan metode komunitas sebagai pencegah depresi pada Ibu yang merupakan hasil penelitian Mbak Elsy dari Yogyakarta. Masih ada materi kampanye anti bully di sekolah yang dimotori oleh para Ibu Profesional di Semarang.

Tak lupa salah satu materi yang sangat saya nantikan yaitu, pengelolaan Mesjid Jogokariyan, Yogyakarta dengan konsep saldo nol kotak infak. Bagaimana para pengurus mesjid memiliki data yang akurat tentang warga di sekitar mesjid, sehingga mesjid menjadi pusat kegiatan hampir seluruh lini kehidupan. Tak hanya sisi reliji, tapi juga menyentuh aspek budaya hingga ekonomi warga sekitar yang terbantu karena dukungan para pengurus mesjid.

Salah satu peta data statistik Mesjid Jogokariyan. Warna yang berbeda melambangkan kondisi tingkat aktivitas warga ke mesjid, kondisi tingkat ekonomi warga dll. Sehingga pihak pengirus mesjid memahami, mana warga yang perlu bimbingan rohani lebih intens, dan warga mana yang perlu didukung perekonomiannya.


Sesi pelatihan saya terjadwal di sore hari. Saya awalnya sempat pesimis, ada kekhawatiran jika para peserta sudah lelah, atau mengantuk karena sehari penuh mengikuti beragam sesi pemaparan dari berbagai narasumber. Ternyata kekhawatiran saya tak terjadi. Seluruh ibu pembelajar ini tetap terlihat antusias dan bersemangat mengikuti sesi pelatihan Ask To Solve.

Dan di akhir sesi, banyak peserta yang menghampiri, untuk bertanya lebih lanjut tentang metode Ask To Solve yang saya kembangkan beberapa tahun terakhir ini. Dua orang dosen di Yogyakarta bahkan menyarankan agar saya mengajukan hak paten atas metode belajar yang awalnya saya rancang dan kembangkan untuk anak-anak di rumah ini. Terharu rasanya melihat antusias dan respon peserta.

Beberapa kali diminta menjadi narasumber atau fasilitator, tapi baru kali ini sesi pelatihan saya disiarkan langsung ke lima benua melalui teleconference



Selama 3 hari di Yogyakarta, saya mendapat beragam kesempatan dan pengalaman berharga. Mendapat teman dan saudara baru dari penjuru negeri. Berkesempatan beramal jariyah dengan berbagi ilmu dan kebahagiaan. Juga mendapat berbagai ilmu baru dari para narasumber lain.

Semua itu tak mungkin menjadi rekam jejak hidup saya jika saat itu saya tidak menemukan tiket pesawat semurah harga tiket Air Asia. Sungguh, momen Berbagi Bahagia Bersama AirAsia di Yogyakarta bulan Agustus lalu akan selamanya menjadi pengalaman berharga bagi saya. Tak hanya itu, portofolio saya sebagai seorang fasilitator pendidikan keluarga pun bertambah, dan menjadi catatan positif dalam histori jam terbang saya secara profesional.
Terimakasih sangat pada Air Asia yang telah memberikan pengalaman terbang yang aman, nyaman, serta murah tapi tidak murahan dalam kualitas.

#BahagiaBersamaAirAsia

Read more

Jumat, 06 Desember 2019

Pendidikan Formal Merata tanpa Guru Honorer, Lahirkan SDM Unggul



"Dunia usaha akan mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, yaitu pertumbuhan ekonomi yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang layak, mengurangi tingkat kemiskinan dan tingkat ketimpangan ekonomi. Sehingga tercipta pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan." demikian ungkap Rosan P Roesiani, Ketua Umum Kadin Indonesia dalam Rapimnas Kadin 2019 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, 28-29 November 2019 lalu.

Selain itu, terdapat pula beberapa poin lain sebagai hasil Rapimnas Kadin 2019 (selengkapnya dapat dilihat di https://www.kadin.id/ ). Salah satunya adalah tentang keberlanjutan akreditasi penerbitan sertifikasi atau surat keterangan kompetensi.  Hasil Rapimnas Kadin 2019 ini sejalan dengan program prioritas pemerintah dan turut berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Terkait dengan sertifikasi profesi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia, maka tentu tak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikan. Standar kompetensi dan kualitas pendidikan seseorang adalah dua hal yang selalu berjalan beriringan. Dan bila bercita-cita akan terciptanya ekonomi yang berkeadilan, tak pelak keadilan dan pemerataan pendidikan turut menjadi bagian di dalamnya.

Bicara tentang masalah pendidikan di nusantara tercinta ini memang bagaikan bergelung dengan lingkaran setan yang tak berujung pangkal. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan nasional Indonesia. Sebut saja masalah kompetensi guru yang ternyata sangat minim, fasilitas pendidikan yang jauh lebih minim lagi, pemerataan tenaga guru yang berimbas pada ketidakseimbangan pemerataan pendidikan, hingga pelaksanaan ujian kelulusan yang tak henti menuai kontroversi.


Bila membahas lebih lanjut tentang pemerataan pendidikan di negara ini tentu akan ada banyak pasal yang dapat diulik. Secara subyektif, penulis berpendapat bahwa pemerataan pendidikan hingga ke pelosok desa, dan terutama di wilayah-wilayah perbatasan terluar Indonesia adalah salah satu masalah pendidikan yang pertama dan utama harus ditangani terlebih dahulu ketimbang sibuk memikirkan format sistem dan kurikulum pendidikan nasional yang harus diubah dan diperbarui.

Fasilitas dan sarana prasarana maupun sumber daya manusia untuk memajukan pendidikan di wilayah-wilayah perbatasan dengan negara lain sangat krusial dan butuh perhatian khusus. Tidak hanya berkaitan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat wilayah perbatasan. Namun lebih jauh lagi hal ini penting dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menjaga keamanan dan keutuhan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari runtuhnya kejayaan keluarga dinasti-dinasti Cina yang umumnya menurut sejarah runtuh bukan karena ancaman serangan dari luar bangsa Cina, tetapi lebih banyak karena pemberontakan suku-suku minoritas yang merasa dianaktirikn oleh pemerintah pusat, atau warga wilayah perbatasan yang sukarela menjadi mata-mata negara lain karena merasa tidak diperhatikan.

Dalam bukunya The Last Emperor, Paul Kramer secara implisit menyatakan bahwa pemerintahan Cina modern telah melakukan suatu langkah yang cerdas untuk menjaga kesetiaan suku minoritas dan warga perbatasan khususnya, agar tidak membelot atau menjadi mata-mata negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Cina, dengan cara memberi kuota khusus dalam parlemen bagi wakil warga perbatasan dan suku minoritas. Termasuk memberi perhatian khusus bagi kesejahteraan hidup warga perbatasan, diantaranya adalah sarana dan prasarana pendidikan.

Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia yang berbatasan langsung dengan beberapa negara. Bukan berita baru jika banyak warga pebatasan yang lebih sering menjual hasil ladangnya ke negara tetangga. Juga bukan hal yang langka jika warga perbatasan lebih mudah mendapatkan barang-barang  kebutuhan dasar hidup di negara tetangga karena akses jalan dan transportasi ke negara tetangga yang lebih memadai daripada menuju pasar negeri sendiri.



Fakta juga berbicara, bahwa sejak Indonesia merdeka, masih banyak wilayah perbatasan yang masih tidak memiliki akses pendidikan karena pemerintah luput menyediakan sarana dan tenaga guru pendidik untuk mereka. Sehingga tak sedikit anak-anak usia sekolah di wilayah terluar Indonesia yang tidak pernah melakukan penghormatan pada bendera merah putih saat upacara. Mereka tidak pernah menghafal dan melantunkan bait-bait Indonesia Raya, atau pun berpartisipasi dalam gempita perayaan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.

Seharusnya hal ini menjadi pemikiran serius bagi para pejabat yang berkuasa. Karena mereka adalah orang-orang wilayah perbatasan yang berdasarkan penampilan, bahasa dan kebiasaan mereka, bisa lalu lalang tanpa menimbulkan kecurigaan melalui sejumlah jalan terpencil dari Indonesia menuju negara tetangga dengan membawa berbagai misi kekerasan, subversi dan mata-mata yang telah menjadi bagian integral dari persaingan Negara modern di era globalisasi ini.

 Jika pemerintahan pusat Cina di Beijing tidak bisa meyakini bahwa orang-orang perbatasannya tidak akan dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh pihak-pihak asing kecuali dengan menjaga kesetiaan kaum perbatasan dalam bentuk membagi kekuasaan parlemen dengan wakil warga perbatasan dan suku minoritas. Serta selalu berusaha menjamin kesejahteraan mereka semaksimal mungkin, termasuk dalam hal jaminan pendidikan bagi warga. Lalu bagaimana dengan pemerintah Indonesia yang memiliki ratusan ribu pulau, ratusan suku bangsa, puluhan garis pantai dan berbatasan langsung dengan beberapa negara sekaligus?

Bicara tentang pemerataan pendidikan hingga garis batas terluar negeri ini, tentu tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan kebutuhn guru dan pemerataan tenaga pendidik yang berkualitas Fakta unik yang terjadi adalah, menurut Departemen Pendidikan rasio jumlah guru dan murid di Indonesia adalah 1 : 15.  Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia rasio jumlah guru dan murid di Indonesia tergolong yang “termewah” di dunia. Misalnya saja dibandingkan dengan rasio guru dan murid di Amerika yang perbandingannya 1 : 20, atau dengan Korea Selatan yang berbanding 1 : 30.

Namun ironisnya masih banyak wilayah terpencil di Indonesia yang kekurangan tenaga pengajar. Bahkan sama sekali tidak memiliki fasilitas pendidikan. Dan fakta di lapangan yang terjadi adalah, meskipun rasio guru dan murid adalah 1 : 15, namun mayoritas guru di lapangan ternyata harus menghadapi rata-rata 30-40 orang siswa dalam setiap kelas rombongan belajar.

Hal ini terjadi karena adanya desentralisasi tenaga guru terutama guru honorer. Distribusi guru yang tidak merata dan kebanyakan hanya terpusat di wilayah perkotaan. Namun masih banyak wilayah desa, pelosok dan perbatasan yang tak tersentuh pendidikan dasar minimal hingga tingkat sekolah menengah atas.

Keberadaan guru honorer di sekolah negeri pun menjadi pilihan solusi. Meskipun selama ini menimbulkan polemik yang tidak sedikit. Karena sistem perekrutan guru honorer yang menjadi hak otonomi kepala sekolah, sehingga sarat dengan praktek kolusi dan nepotisme. Sudah menjadi rahasia umum dunia pendidikan bahwa sering terjadi saling sikut dan persaingan tidak sehat antar sesama guru honorer.

Sampai timbul istilah bahwa seorang sarjana Keguruan dan Ilmu Pendidikan mustahil dapat menjadi guru honorer di sekolah negeri tanpa bantuan “orang dalam” atau koneksi di sekolah negeri. Namun peminat posisi guru honorer tidak pernah surut kendati gaji guru honorer di Indonesia tergolong tidak manusiawi karena rata-rata hanya berkisar Rp 200.000-400.000/ bln. Itu karena para guru honorer menggantungkan harapan untuk dapat diangkat menjadi guru PNS suatu saat kelak. Dan tergiur dengan nominal gaji guru PNS yang memang terbilang cukup besar saat ini.

Idealnya memang tidak perlu ada perekrutan guru honorer bila distribusi guru bisa dilakukan dengan merata hingga ke pelosok dan daerah terpencil. Penulis berpendapat, sebaiknya pemerintah menghentikan penerimaan guru honorer. Dan segera mengangkat semua guru honorer secara bertahap menjadi guru PNS.

Di masa yang akan datang mungkin Departemen Pendidikan dapat belajar atau mengadopsi sistem dan teknis perekrutan personil kepolisian atau TNI. Karena jika menilik kebutuhan sumber daya manusia, beberapa instansi pemerintah lain pun memiliki kebutuhan untuk mendistribusikan sumber daya manusia hingga ke pelosok desa dan wiayah perbatasan.

Antara lain personil polisi, tentara, petugas perpajakan, petugas administrasi pemerintahan pun dibutuhkan hingga ke pelosok desa dan area perbatasan. Namun nyaris tidak pernah terdengan berita bahwa di wilayah tertentu mengalami kekurangan tenaga polisi, atau tentara, atau petugas pajak.

Seperti yang kita ketahui bersama, instansi-instansi tersebut melakukan perekrutan sumber daya manusia sejak masa pendidikan tinggi para pegawai tersebut. Kepolisian memiliki Akademi Kepolisian untuk merekrut personil-personil polisi sejak mereka lulus SMA. TNI pun memiliki akademi ketentaraan untuk masing-masing angkatan bersenjata. Demikian juga Departemen Keuangan yang tidak pernah kekurangan petugas pajak dan bea cukai karena memiliki Sekolah Tinggi Akutansi Negara atau STAN. Pegawai-pegawai pemerintahan hingga tingkat kelurahan pun telah direkrut oleh Departemen Dalam Negeri sejak masa pendidikan tinggi melalui STPDN dan APDN.



Sistem perekrutan yang dilakukan Akpol, STAN atau STPDN/ APDN pun tidak jauh berbeda. Sejak masa pendidikan tinggi atau kuliah, para mahasiswa instansi tersebut telah diikat dengan ikatan dinas dan setelah lulus otomatis akan menjadi pegawai negeri. Umumnya perekrutan mahasiswa di lakukan di tingkat provinsi atau wilayah masing-masing. Jumlah mahasiswa yang diterima pun dibatasi sesuai kebutuhan di wilayah masing-masing dan melalui seleksi yang cukup ketat. Dan kelak setelah lulus para mahasiswa itu pun akan kembali mengabdi di wilayah asal mereka.  Sehingga distribusi sumber daya manusia instansi-instansi tersebut terbilang lebih merata dari pada distribusi guru. 

Bukan tidak mungkin Departemen Pendidikan dapat mengadopsi sistem serupa dengan melakukan beberapa penyesuaian. Karena saat ini toh Departemen Pendidikan sudah memiliki Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan hampir di semua perguruan tinggi negeri di tiap provinsi. Sehingga infrastruktur dasar yang dibutuhkan sudah tersedia. Hanya tinggal mengolah sistem dan kebijakan perekrutan dan penugasan para guru ini.

Pemerataan pendidikan hingga ke titik terluar wilayah NKRI adalah salah satu syarat mutlak untuk mewujudkan meratanya jumlah SDM  generasi muda bangsa yang unggul dan kompeten di bidangnya. SDM unggul kompeten akan menjadi pribadi-pribadi yang kreatif dan produktif.

Dan pada akhirnya, kreativitas dan produktivitas ini akan memacu peningkatan standard ekonomi dan kesejahteraan. Karena itu, pemerataan pendidikan adalah kunci utama bagi kesejahteraan ekonomi yang merata dan berkeadilan ke seluruh nusantara.

Read more

Senin, 02 Desember 2019

SERUNYA WISATA MESJID DI BENUA KANGGURU

Australia.
Benua asing yang relative berjarak paling dekat dengan nusantara tercinta ini memang memiliki juataan magnet yang memikat warga Indonesia untuk mengunjunginya. Hal ini  berlaku timbal balik juga sebenarnya. Karena para warga benua kangguru itu pun banyak yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu tempat berlibur favorit. 




Salah satu alasan adalah karena banyaknya perbedaan kondisi alam, budaya dan masyarakat kedua negara ini. Sesuatu yang berbeda dari keseharian kita memang selalu menarik perhatian untuk dikunjungi, bukankah begitu?

Selain itu jarak antara Australia dan Indonesia relatif cukup dekat dibandingkan jarak dan waktu tempuh untuk mengunjungi kebanyakan negara lain untuk berlibur. Bentangan alam Indonesia dan Australia hanya terpisah oleh satu samudera. Sehingga tujuan warga Indonesia untuk mengunjungi Australia tak melulu untuk berlibur.  Ada juga yang memiliki kepentingan bisnis, pekerjaan atau pun untuk alasan melanjutkan pendidikan.

Dan saya juga menjadi bagian dari sekian juta warga Indonesia yang penasaran ingin mengunjungi Australia. Memang, hingga kini saya belum pernah mendapatkan kesempatan untuk menjejakkan kaki di benua tersebut. Namun beragam kisah dan deskripsi tentang Australia tak terlalu asing saya dengar.

Di satu masa dahulu, saya pernah mendapatkan peluang untuk menetap selama beberapa tahun di negeri Aborigin tersebut, melalui program beasiswa pasa sarjana. Apa daya takdir berkata belum saatnya bagi saya untuk mencicipi atmosfer Australia. Di detik akhir, saya baru  mengetahui ternyata telah mengandung anak ketiga, yang mana fakta itu membuat saya tereliminasi sebagai calon mahasiswa pasca sarjana. Terpaksa saya mengikhlaskan sejenak  peluang tersebut.



Lalu apa sih yang sangat ingin saya lakukan apabila mendapat kesempatan untuk mengunjungi Australia?
Ada beberapa kegiatan yang sudah saya rancang dalam to do list jika saya berkesempatan melakukan perjalanan ke Australia. Salah satunya adalah melakukan..

Wisata Mesjid

Sebagai seorang muslim yang berdomisili di negara yang memang mayoritas menganut agama islam, saya memiliki ketertarikan tersendiri untuk mengetahui perjalanan sejarah dan kehidupan sehari-hari saudara seiman saya di tempat-tempat yang mayoritas bukan beragama islam.

Wisata masjid ini kerap saya lakukan bersama anak-anak jika kami mengunjungi negara lain, atau wilayah di dalam negeri yang kebanyakan masyarakatnya bukan pemeluk agama islam. Bagaimana kehidupan sehari-hari para muslim sebagai golongan minoritas di tempat domisili  mereka sangat menarik bagi saya untuk disimak.

Tak terkecuali sejarah rumah-rumah suci tempat ibadah di wilayah-wilayah minoritas tersebut. Beberpa kisah sejarah tempat ibadah yang saya dengar, membagun rumah ibadah agama minoritas di wilayah tertentu pasti memiliki nilai perjuangan yang cenderung lebih berliku.


Salah satunya di Australia.
Kebetulan, beberapa tahun setelah saya gagal dan tertunda melanjutkan studi ke Australia, salah seorang adik kandung saya justru mendapatkan kesempatan umtuk hidup di negeri kangguru tersebut hingga 7 tahun berselang. Sempat menetap di beberapa kota yang berbeda. Dan berikut ini sedikit cuplikan ceritanya tentang berbagai masjid dan persatuan warga muslim Indonesia di negeri seberang itu.


Di Melbourne persebaran umat muslim cukup banyak. Ada pendatang dari India, Indonesia serta Timur Tengah dan mayoritas Lebanon. Dan tentu saja terdapat cukup banyak masjid di Melbourne. Hanya saja seperti kebanyakan kota lain di Australia, luas kota Melbourne pun lumayan cakupannya.

Jadi kendati di area pemukiman tempat Adinda tersayang-ku berdomisili terdapat cukup banyak muslim, namun untuk menuju ke mesjid terdekat tetap saja membutuhkan jarak tempuh perjalanan sejauh lebih dari 50 kilometer.  Kebetulan di area ini terdapat komunitas muslim Indonesia yang kemudian bersepakat untuk mengumpulkan dana mandiri guna membeli bangunan untuk dijadikan mesjid.

Singkat cerita, ditemukan-lah sebuah bangunan tua bekas rumah kremasi jenazah yang sudah cukup lama terbengkalai dan dijual dengan harga cukup terjangkau. Komunitas muslim Indonesia ini kemudian swadana bersedekah untuk membeli bangunan tersebut, dan kemudian dialihkan fungsinya menjadi pusat kegiatan ibadah umat muslim setempat.


Kegiatan ibadah yang dilakukan di bangunaan ini tidak hanya meliputi sholat berjamaah lima waktu, atau ibadah sholat pada hari-hari raya saja. Lebih jauh, bangunan ini kemudian berkembang fungsinya sebagai pusat kegiatan masyarakat dan komunitas muslim.

Antara lain dengan mengadakan madrasah bagi anak-anak mereka. Juga ada kelas – kelas pengajian untuk segala usia, dari anak-anak, remaja, hingga usia dewasa. Selain itu setiap hari juga berfungsi tambahan sebagai tempat penitipan bayi dan anak.

Karena kebanyakan anggota komunitas ini adalh para orangtua muda yang dating ke Australia untuk menuntut ilmu dan berstatus mahasiswa, hingga bekerja, maka merekamencari solusi bersama bagi masalah pengasuhan anak selama para orangtua ini melakukan aktivitas mereka di kampus atau di tempat kerja. 

Para anggota komunitas ini kemudian bersepakat untuk saling bantu menjaga anak-anak mereka dengan membuat jadwal giliran jaga anak yang disesuaikan dengan jadwal kuliah atau kerja tiap personel. Sehingga mereka dapat menghemat  uang cukup banyak yang seharusnya menjadi alokasi dana membayar pengasuh anak.



Lain kandang lain belalang. Lain kota, beda pula kisahnya. Di Perth, ada komunitas muslim Indonesia yang terpaksa menyewa sebuah hall besar untuk dijadikan pusat kegiatan ibadah. Alkisah berkata, sesungguhnya komunitas ini telah membeli bangunan untuk dijadikan mesjid di awal tahun 2000-an. Namun karena kebetulan berada di wilayah penduduk yang dominan kaum redneck  garis keras, maka mesjid tersebut kemudian disegel.
  Sehingga para anggota komunitas ini kemudian berusaha mencari jalan tengah dengan menyewa hall untuk difungsikan sebagai pusat peradaban ilmu Quran dan Sunnah Rasul.

Sementara ini di beberapa kota lain, seperti Sydney, Brisbane, Adelaide dan Victoria, beberapa komunitas muslim Indonesia lain ternyata berhasil membeli bekas gereja yang sudah terbengkalai tak terpakai. Gereja-gereja ini kemudian berubah menjadi mesjid yang hingga kini digunakan sebagai pusat kegiatan ibadah kaum muslim Indonesia di kota-kota tersebut.

Menyimak beragam kisah perjuangan saudara seiman di negara tetangga sebagai kaum minoritas melalui tutur cerita adik tercinta, tentu saja membuat saya tergugah dan bermimpi untuk bisa mendatangi mesjid-mesjid sarat sejarah tersebut. Dan yang lebih menenangkan rencana kunjungan ke Australia ini, adalah antara lain karena kini ada layanan wisata halal Australia  besutan Cheria Travel, yang akan memastikan semua makanan konsumsi selama perjalanan wisata ini dijamin halal. 


Semoga impian saya untuk mengajak anak-anak berpetualang menjelajah dan bersilaturahim ke rumah-rumah Alloh di berbagai penjuru Australia dapat segera terwujud. Karena perjalanan ini tak hanya menjadi liburan hura-hura semata, tapi juga sarat edukasi dengan niat utama beribadah hablumminannas menyambung silaturahim dengan saudara seiman agar menjadi barokah dan kebahagiaan dunia akhirat.

Read more
Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.