Kamis, 12 September 2019

TIPS MEMILIH KOMIK ANAK

Siapa yang tak tahu komik?
Media literasi bergambar ini banyak digemari oleh berbagai kalangan dan usia. Walau di Indonesia, komik identik dengan bacaannya anak-anak, namun tak sedikit orang dewasa dan para sesepuh yang juga menikmati membaca komik. Termasuk saya hehe...



Bagi anak-anak, komik adalah bahan bacaan yang cukup efektif untuk membangkitkan minat baca dan membangun budaya literasi. Sebab komik merupakan kolaborasi antara gambar dan huruf. Sehingga tidak membuat anak bosan dan memancing ketertarikan. Apabila anak bosan melihat huruf berjajar, maka dapat beralih memperhatikan detil gambarnya.

Perpaduan gambar dan huruf ini juga membuat mata anak tidak cepat lelah saat menikmati membaca komik.  Selain itu, penggunaan diksi kata dalam komik umumnya cenderung lebih ringan ketimbang buku atau novel. Sehingga lebih mudah dicerna dan dipahami oleh otak anak.

Meski demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua sebelum memberikan komik kepada anak-anak di rumah. Berikut adalah beberapa tips untuk memilihkan komik yang baik dan sesuai bagi ananda tercinta.

1. Orangtua Wajib Baca
Sebelum memberikan bahan bacaan apapun pada anak, pastikan orangtua sudah membacanya terlebih dulu. Karena orangtua adalah filter pertama dan utama yang memastikan layak atau tidaknya media tersebut untuk dikonsumsi oleh anak di rumah.

Jika orangtua mengetahui apa saja info yang dibaca anak, hal ini juga membantu untuk membuka keran diskusi literasi dengan anak. Diskusi atau obrolan santai ini pada akhirnya akan memberi imbas positif bagi kelekatan serta kualitas komunikasi antara anak dan orangtua.

2. Alur Cerita yang Realistis
Ide dan gagasan kisah yang tertuang dalam komik yang akan diberikan pada anak (terutama di usia dini), sebaiknya sebisa mungkin dekat dengan realita keseharian. Tidak terlalu imajiner atau terlalu berfantasi.


Sebab konsep kerja otak anak masih sangat kongkrit. Jika mendapat suguhan kisah yang terlalu imajiner, maka otak anak akan kesulitan membedakan antara fantasi dan realita. Perkembangan dunia literasi, termasuk komik saat ini cukup mendukung, karena kini cukup banyak komik yang kontennya sangat realistis. Seperti komik sains ilmiah, atau komik bergenre sejarah dan biografi tokoh terkenal.

3. Konten Cerita Sesuai Tahap Usia
Walau komik identik dengan dunia anak, namun tak selamanya semua komik diperuntukkan untuk konsumsi anak. Terlebih jika kita merujuk pada komik-komik yang berasal dari Jepang. Banyak komik yang sesungguhnya menyasar target pembaca remaja atau bahkan dewasa.

Salah satu jenis komik untuk kalangan dewasa yang cukup sering dibaca anak-anak

Karena itu orangtua harus sangat selektif dan berhati-hati memilihkan komik. Jangan sampai, misalnya, komik bergenre remaja dengan ide utama cerita relasi percintaan diberikan kepada anak usia TK. Atau komik dewasa dengan muatan cerita fiksi pembunuhan yang detil berbalut tokoh detektif dijadikan koleksi baca untuk anak usia SD.

4. Tampilan Gambar Visual yang Sopan
Yang namanya komik tentu saja penuh dengan gambar para tokoh dalam cerita. Detil penggambaran para tokoh maupun rinci gerakan yang ditampilkan dalam sebuah komik juga perlu jadi bahan pertimbangan sebelum memilih komik.

Contoh komik dengan tampilan visual tokoh berpakaian santun

Sebaiknya pilih visualisasi yang menampilkan gambaran tokoh yang sopan. Misalnya dari segi pakaian para tokoh yang tidak mengumbar aurat. Atau penggambaran alur cerita yang tidak anarkis penuh dengan adegan kekerasan berlebihan yang tak layak ditampilkan.

Hal ini sangat penting diperhatikan. Karena gambar visual karakter dan tokoh cenderung lebih melekat di otak dari pada kalimat dan kata. Dan komik adalah salah satu media yang kini rentan disusupi oleh pornografi terselubung.

Komik sejarah atau biografi tokoh dapat menjadi pilihan bijak untuk koleksi media baca

Yuk lebih selektif dan waspada.
Tebarkan semangat literasi, dan tetap bijak memilih asupan media baca bagi keluarga.
Semoga bermanfaat....

#sahabatkeluarga
Read more

Senin, 09 September 2019

KORAN DAN DEGRADASI BAHASA ( DAN MORAL?)

Belum lama ini saya menulis tentang koran dan budaya literasi keluarga. Barangkali masih ada yang ingat... Atau bagi yang belum membacanya, silahkan meluncur ke Koran dan Budaya Literasi Keluarga.

Sumber: www.google.com

Dalam artikel tersebut saya  mengulas beberapa alasan, mengapa koran tetap penting hadir dalam ruang baca keluarga sebagai salah satu materi penunjang budaya literasi keluarga.

Dan kemudian, saya menemukan kembali, alasan yang mendukung untuk menggalakkan serta melestarikan kembali budaya membaca koran atau majalah di tengah keluarga.

Sebagai seorang guru BK (Bimbingan Konseling), saya kerap menghadapi dan menangani berbagai hal yang menimbulkan ketidaknyamanan akibat gesekan pergaulan para siswa di sekolah.
Dan selama beberapa tahun terakhir ini, permasalahan sosial antar siswa umumnya bermula dari gawai dan media sosial. 


Sumber: www.google.com
Termasuk yang baru-baru ini terjadi di sekolah menengah pertama (SMP) tempat saya mengajar. Perkara yang terlihat sepele namun ternyata berbuntut panjang hingga melibatkan puluhan siswa, guru, wali kelas hingga orangtua murid.

Berawal dari dua orang sahabat sekaligus teman sebangku yang saling memberi julukan atau panggilan sayang di antara mereka. Sebut saja mereka Mawar dan Anggrek.

Anggrek menciptakan panggilan sayang untuk Mawar dengan sebutan Mago (Mawar Bego). Demikian pula sebaliknya, Mawar pun menyebut Anggrek dengan panggilan Anggo (Anggrek Bego).

Panggilan sayang ini mereka gunakan satu sama lain, tanpa ada di antara mereka berdua yang merasa terganggu. Tidak juga merasa direndahkan, tidak merasa dilecehkan, pun tidak merasa di-bully secara verbal.

Kerap menggunakan panggilan ini setiap hari, sehingga akhirnya seluruh teman satu kelas pun memanggil mereka dengan singkatan Mago dan Anggo. Bahkan melebar hingga ke teman-teman ekskul dari kelas lain.

Hingga suatu ketika, Mawar dijemput sang Ayah dan adik saat pulang sekolah. Di gerbang sekolah, salah satu teman berkata dengan riang gembira, "Dadah Magooo... Sampai ketemu besok ya Magooo, Mawar Begooo..."
Mawar pun menanggapi santai dengan keceriaan yang sama.

Menjadi masalah saat kemudian si adik bercerita kepada ibunda di rumah. "Mama.. Kok kakak dikatain Mawar bego sih sama temannya?"
Sang ibu langsung meradang. Dan mengambil kesimpulan instan bahwa anak tercintanya telah menjadi korban bully oleh teman-teman sekelas. Khawatir si anak menjadi pihak marjinal yang tak berani melawan, bahkan tak mampu bercerita kepada ibunda.

Sumber: www.google.com

Malam itu juga, sang Ibu melaporkan kejadian tersebut kepada wali kelas. Dan wali kelas segera mengambil tindakan persuasif kepada siswa sekelas.

Sekitar seminggu kemudian, hal yang sama kembali terulang. Malangnya, kali ini sang Ibu mendengar sendiri dengan telinganya. Saat sedang bersama Mawar mengunjungi guru-guru di sekolahnya terdahulu (SD), salah satu teman menelepon Mawar. Dan Mawar berbicara dengan pengeras suara ponsel yang diaktifkan.

Di penghujung percakapan, kembali teman tersebut berkata, "Sudah dulu ya Magooo, Mawar Bego...".
Ibunda dan para guru SD yang mendengar sontak meradang seketika. Para guru SD Mawar menyarankan sang Ibu untuk melaporkan hal tersebut kepada Tim BK sekolah, bahkan bilamana perlu juga ke Kepsek.

Dan itulah yang dilakukan ibunda. Datang ke ruang BK sekolah dengan berderai air mata. Merasa tidak terima anaknya disebut bego. Tidak terima anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, perhatian, diberi makan dan gizi, anak kebanggaan yang berprestasi, ternyata mendapat hinaan dari teman-teman di sekolah.

Kasus kemudian berkembang dengan pemanggilan semua siswa yang pernah menyebut Mawar dengan sebutan Mago (Mawar Bego). Terjaring puluhan siswa.

Setelah ditelusuri, ternyata Mawar bukan lah korban bully verbal. Bukan pula pihak marjinal. Karena Mawar pun pernah menyebut beberapa temannya dengan sebutan anak haram, Anggrek Bego dan lain sebagainya.

Namun bukan berarti pula bahwa Mawar adalah pihak dominan yang melakukan penghinaan verbal kepada teman-temannya. Tidak ada korban atau pun pelaku perisakan/bully dalam kasus ini.
Semua siswa ini berada di posisi yang seimbang.

Mereka saling ngatain, saling menghina, saling memanggil dengan sebutan yang merendahkan, saling memberi julukan dengan istilah yang kurang positif.
Intinya....
Telah terjadi degradasi bahasa yang menjadi budaya di antara siswa milenial ini.


Menurunnya kualitas berbahasa para siswa ini menarik perhatian saya untuk menggali lebih dalam. Dan membuat saya melakukan beberapa eksperimen sosial di dalam kelas, mau pun di Ruang BK.

Saat kegiatan belajar mengajar Bimbingan Konseling di kelas, saya sempat meminta para siswa untuk saling menyebutkan sisi positif teman-teman sekelas. Dan ternyata cukup banyak kosakata ajaib yang terlontar dari bibir para siswa ini.

"Si A anaknya asyik bu, suka mabar."
"Si B orangnya keren,, karena dia barbar."
"Anjayyyy... Dia sih anaknya bucin banget bu..."

Wewwww..
Saya sempat mengerutkan kening, barbar itu dianggap keren?
Apakah sudah terjadi pergeseran makna kata "barbar" dari apa yang tertera di KBBI ya....?

Dan ketika saya tanyakan apa yang dimaksud dengan mabar, barbar, bucin, anjayyy, anjirrr...
Ternyataaaa..
Para siswa ini sempat kesulitan untuk mendeskripsikan makna kata-kata tersebut dengan menggunakan kalimat baku dan kosakata yang baik dan benar.

Setelah menggali lebih dalam karakteristik para siswa yang dijuluki mabar, barbar, bucin dll...
Saya menyimpulkan bahwa mabar adalah akronim dari "main bareng", yang berarti mereka sering berinteraksi atau melakukan kegiatan bersama.
Barbar adalah anak yang memiliki keberanian dan percaya diri sangat tinggi, namun terkadang melakukan tindakan spontan tanpa pikir panjang
BuCin singkatan dari budak cinta, julukan ini disematkan pada mereka yang sedang mengalami kasmaran masa puber dan naksir lawan jenis.

Lalu dimana mereka mendengar istilah-istilah kekinian tersebut?
Mudah ditebak jawabannya, dari tayangan youtube dan ig story para selebritis internet.

Sempat saya meminta para siswa untuk menunjukkan pada saya, tayangan-tayangan yang mereka gemari di internet. Dan saat saya menontonnya bersama mereka, saya jadi memahami mengapa tata bahasa generasi milenial ini sangat menurun kualitasnya dibandingkan generasi 90-an.

Kata-kata yang bagi telinga generasi terdahulu terasa kasar, tak pantas dan tak sopan, kini dianggap lumrah untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Yah seperti julukan-julukan barbar, bego, tolol, anak haram dan lain sebagainya. Tidak ada niat untuk melecehkan atau menghina saat mereka saling mengucapkan itu. Bahkan seringkali dianggap sebagai bahan canda di antara mereka. Namun bagi para orangtua yang mendengarkan, tentu akan beda sikap menerimanya.

Degradasi tata bahasa ini kemudian diasumsikan oleh para generasi tua sebagai degradasi moral perilaku generasi milenial.

Bagi generasi lawas, para remaja ini dianggap tidak sopan, kurang beradab, tak memiliki manner bila ditilik dari pemilihan kata yang diucapkan sehari-hari.
Walau bagaimana pun, benar adanya makna salah satu filosofi Jawa kuno:

Ajine diri ono ing lathi: harga diri seorang manusia itu terletak di ujung lidahnya. Kata-kata yang diucapkan, akan menunjukkan kualitas diri seseorang.

 Kesulitan yang dialami para remaja tanggung ini untuk mendeskripsikan sesuatu dengan menggunakan tata bahasa dan kosakata yang baik dan benar, menunjukkan bahwa mereka minim perbendaharaan kata yang baku, baik dan benar.



Lalu apa penyebab minimnya kosakata yang baik dan benar pada generasi milenial?

1. Sumber Informasi Digital Populer
Hal ini dapat dimaklumi saat kita mengetahui sumber asupan informasi yang mereka terima dari berbagai media digital.
Jika tontonan dengan tata bahasa kacau yang menjadi sumber informasi sehari-hari, maka tidak mengherankan apabila aneka kosakata alay tersebut yang menjadi koleksi dalam memori otak mereka.

Walau cukup banyak sumber informasi resmi di laman internet yang menggunakan tata bahasa baku, namun para remaja cenderung lebih memilih melihat tayangan populer dengan penggunaan bahasa gaul kekinian.


2. Kurang Membaca Media Literasi Cetak
Minimnya minat remaja untuk membaca media cetak, juga turut memiliki andil dalam degradasi bahasa ini.

Padahal, artikel cetak atau digital yang paling ringan sekalipun, biasanya tetap berada dalam koridor penggunaan tata bahasa dan kosakata yang baku. Sehingga bagi mereka yang membacanya, secara tidak langsung dapat menjadi suplai asupan koleksi perbendaharaan kata yang baik dan benar untuk dapat terekam dalam memori otak.


Masalahnya adalah:

 Para remaja ini mayoritas tidak akan mengakses dan membaca artikel-artikel tersebut dengan inisiatif sendiri. Sebab mereka kebanyakan telah lebih dulu terpapar tayangan audio visual sejak balita, jauh sebelum mereka mengenal huruf dan bisa membaca. 
Maka sumber informasi yang hanya bersifat visual tanpa suara, tanpa gerak dinamis tentu saja kurang menarik perhatian untuk dilirik.

Saya kemudian mencoba menggunakan wewenang sebagai seorang guru untuk menggiring mereka membaca artikel dari sumber media cetak. Membaca sumber literasi yang menggunakan kosakata baku yang baik dan benar.

Pojok Baca Bimbingan Konseling di Ruang BK

Kebetulan di dalam Ruang BK sekolah tempat saya mengabdi, ada Pojok Baca dengan berbagai macam buku, jurnal ilmiah, novel inspiratif bahkan komik. Dan setiap jam istirahat tiba, ada saja siswa yang berkunjung ke Ruang BK untuk sekedar berbincang santai atau bermain gitar.

Setiap hari saya coba meminta para siswa ini untuk membaca sumber literasi cetak apa saja yang ada di Pojok Baca, dan menceritakan secara lisan kepada saya isi artikel yang telah mereka baca. Saya bebaskan mereka untuk memilih sumber bacaan yang mereka inginkan.

Fakta menarik yang terjadi dan tidak saya duga adalah, mayoritas dari remaja milenial ini memilih untuk membaca koran dan jurnal ketimbang sumber literasi populer seperti novel atau komik. 

Beberapa contoh Koran dan Jurnal yang dipilih siswa untuk dibaca
               

Dan hal ini terjadi berulang-ulang. Padahal asumsi saya semula, kedua jenis bahan baca yang tergolong berat tersebut tidak mungkin akan dilirik oleh para remaja kekinian. Itu pula alasan saya menyediakan novel dan komik di Pojok Baca BK, agar para siswa tertarik untuk membaca.

Lalu apa sesungguhnya alasan yang mendasari para siswa ini lebih memilih koran dan jurnal ketimbang buku, novel atau komik?



Panjang Artikel 
Jumlah kata pada artikel dalam koran, majalah atau pun jurnal tentu tidak bisa dibandingkan dengan buku dan novel.
Betapa pun menariknya tema novel/ buku/ komik, jumlah kata serta paragraf yang tak terhitung banyaknya sudah lebih dulu menjadi momok yang menyurutkan rasa tertarik para remaja ini. Apalagi bagi mereka yang memang belum memiliki budaya membaca.

Durasi Waktu 
Terlahir sebagai generasi yang serba instan, lama atau sebentar durasi waktu yang diperlukan untuk membaca juga menjadi alasan para remaja ini lebih memilih jurnal ketimbang komik.
Durasi waktu yang diperlukan untuk membaca satu artikel dalam koran/majalah/jurnal cukup memakan waktu beberapa menit. Pastinya jauh lebih cepat dari pada waktu yang tersita untuk membaca buku atau komik yang bisa memakan hitungan jam, bahkan hari.

Tidak membosankan
Dalam tiap edisi koran/majalah/jurnal terdapat beragam artikel dan informasi yang dapat dipilih. Siswa sebagai pembaca dapat memiliki pilihan untuk membaca topik yang menarik minatnya saja. Sedangkan buku, novel atau komik hanya memiliki satu tema cerita yang sama sepanjang ratusan halaman.

Perlu digarisbawahi, para remaja usia 12-15 tahun ini terlahir di era digital yang cenderung serba instan ketimbang beberapa dekade lalu.

Ditambah dengan fakta, bahwa topik apa pun yang kini tersaji di media literasi cetak dalam wujud visual, umumnya dapat juga diperoleh versi digitalnya dalam skema audio visual yang jauh lebih variatif dan menarik.

Karena itu untuk mengenalkan dan membiasakan para remaja ini membaca media literasi dalam koridor tata bahasa yang baik dan benar, bahan membaca yang padat, tidak terlalu panjang dan tidak bertele-tele (seperti artikel koran/jurnal/majalah) merupakan pilihan yang lebih tepat, sebelum melakukan upaya untuk menstimuli mereka membaca buku dan karya sastra lain.

Realita yang terjadi di Pojok Baca BK, ruang kerja saya, selama beberapa bulan terakhir ini bagi saya cukup menjadi fakta yang membuktikan bahwa:

  • Artikel-artikel singkat, padat, jelas yang termuat dalam koran/majalah/jurnal dapat berperan cukup efektif untuk memberi suplai koleksi kosakata yang baik dan benar bagi para remaja milenial.
  • Koran, majalah dan jurnal dalam versi cetak masih relevan untuk tetap digunakan pada era digital ini. 
Dan akhirnya,
Koran, majalah dan jurnal ternyata memiliki peran cukup penting tidak hanya bagi dunia literasi, tapi lebih jauh lagi bagi pembentukan moral dan karakter generasi milenial.

Jadi.....
Mari para sejawat orangtua...
Yuuuk... tetap hadirkan koran dan majalah dalam ruang-ruang keluarga di rumah kita.
Karena koran dan majalah  dapat menjadi koleksi media baca yang murah meriah dan sarat manfaat bagi pembentukan karakter generasi muda penerus bangsa ini.

#sahabatkeluarga
Read more

Selasa, 03 September 2019

From International Symposium Of Education 2019


Kemarin saya berkesempatan untuk hadir dalam International Symposium On Education di Gedung A, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Simposium sehari ini termasuk dalam rangkaian gelaran Indonesia International Book Fair 2019 yang diprakarsai oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Ajang ini sendiri akan berlangsung selama 4-8 September 2019 di JCC, jakarta.


Dan sungguh tidak rugi menghadiri simposium ini. Deretan narasumber yang cetar membahana, merupakan para ahli di bidangnya dari dalam dan luar negeri. Garis hubung tema simposium ini secara umum adalah keterkaitan antara dunia pendidikan dengan buku.

Nah jadiiiii..
Kali ini saya ingin membagikan beberapa hal yang menurut saya menarik untuk digarisbawahi dan menjadi catatan penting bagi diri ini.

Tantangan-Pencapaian-Kepuasan
Apa sih korelasi antara ketiga hal tersebut?
Bagaimana mungkin tantangan hidup dapat membuat seorang individu merasa bahagia dan bernilai?
Paparan dari Rhenald Khasali ini adalah salah satu yang paling jleb untuk saya.


Menurut Pak Rhenald, tantangan hidup dapat menstimuli keluarnya hormon dophamine atau hormon bahagia dalam tubuh yang sangat penting untuk kesehatan seluruh organ.

Bagaimana bisa?
Karena saat mendapat tantangan, manusia akan berusaha untuk mengatasi dan mencari solusi. Setelah dapat mengatasi, maka hal ini akan menjadi salah satu pencapaian dalam hidup. Pencapaian dan keberhasilan menghadapi tantangan akan menimpulkan kepuasan batin. Yang dapat berujung pada kebahagiaan individu.

Dan menurut Pak Rhenald, semua anak membutuhkan perasaan ini. Oleh karena itu, setiap orang membutuhkan tantangan hidup,agar bisa merasakan kepuasan batin, juga merasa bahwa dirinya "berarti".

Sekolah adalah taman bermain
Dalam simposium ini, Rhenald juga mengutip petuah Ki Hajar Dewantara saat mendirikan sekolah Taman Siswa.


Bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang tidak membosankan. Sekolah harus menjadi tempat yang dirindukan oleh siswa. Dan sekolah juga menjadi salah satu pusat kegiatan, ibarat taman bermain yang selalu menyenangkan untuk didatangi.
Dan guru memegang peranan sangat penting untuk mewujudkan sekolah yang dirindukan anak.

Kenali dirimu
Selain Rhenald Khasali, narasumber lain dalam simposium ini adalah Heru Widiatmo, seorang doktor lulusan University of Iowa.


Beliau mengatakan, "Tak perlu ngoyo untuk menjadi yang terbaik. Tapi cukup kenali saja diri sendiri. Pahami kelebihan dan kekuranganmu. Agar bisa mengoptimalkan kelebihan, dan meminimalisir efek dari kekurangan yang kita miliki."

Waaaah jleb banget juga nih...
Dan tahukah moms, bahwa ternyata seorang pakar seperti Pak Rhenald Khasali pun pernah mengalami tinggal kelas looooh...

Pak Rhenald juga sempat bercerita, bahwa beliau pernah mengalami variasi jalan hidup. Dari prestasi akademik, beliau pernah berada di posisi buncit paling akhir di kelas.
Pernah tinggal kelas.
Juga pernah berada di posisi puncak secara akademis.
Dan ternyata, "Saya merasa lebih bahagia saat berada di posisi bawah. Sebab mempertahankan posisi puncak itu membuat rawan stress...", kata Pak Rhenald.

Kisah masa lalu para narasumber ini juga menjadi catatan berharga bagi saya.
Bahwa proses hidup itu ternyata tak pernah berhenti.
Sebagai ibu, hal ini mengingatkan saya agar tak jumawa atau pun kecewa berlebih dengan segala prestasi dan tingkah polah anak-anak.

Karena roda hidup akan selalu berputar. Terkadang di atas, besok bisa di bawah. Yang terpenting adalah terus bergerak. Tidak pernah berhenti atau menyerah menghadapi tantangan hidup.

Saya jadi tak sabar menanti deretan ilmu kehidupan lain yang akan tersaji dalam gelaran Indonesia International Book Fair 2019 di JCC nanti. Karena ternyata buanyaaaak loh agenda dan narasumber lain yang tak kalah cetar disana nanti.

Yup...
Di IIBF tak cuma ada jajaran buku berbaris rapi loh. Tapi juga ragam talkshow,  mini seminar, dan lain lain...
Cek jadwalnya nih...



See you there yaaaaaa moms...






Read more

Kamis, 01 Agustus 2019

Koran dan Budaya Literasi Keluarga


Membuat klipping koran konvensional

Berikut copas status  fb mbakyu sepupuku tersayang, mbak Terra Kurnia Desita (salah seorang pendongeng profesional dan praktisi dunia pendidikan anak di Bandung) :


Anak dan orangtua sekarang (termasuk saya) sepertinya memang lebih mengandalkan googling daripada mencari dari buku saat membantu anak membuat PR


Alasannya :
Lewat googling lebih mudah. Langsung to the point, ndak perlu susah membaca panjang. Hanya perlu waktu singkat.

Akibatnya :
Saat anak-anak mencari jawaban utk PR nya.
# Mereka tidak tahu bagaimana asyiknya dan cara mencari informasi dari buku.
# mereka banyak kehilangan info lainnya
# mereka tidak terbiasa untuk memilah mana penting dan tidak penting
# mereka akan menjadi anak yg cepat menyerah jika ada kesulitan
# mengandalkan orang lain
# gak terlalu percaya diri
# minat baca kurang terasah

Dan ini terlihat dari 3 orang anak SD kelas 5 yang saya bantu untuk mengerjakan PR IPS nya
###

Terilhami status ciamik tersebut, beberapa waktu yang lalu saat saya membantu seorang teman untuk mengkoordinir aktivitas di 'kidscorner' suatu seminar, dimana tanggungjawab saya adalah anak-anak usia 8-12 tahun, salah satu aktivitas yang saya berikan adalah membuat klipping koran bersama. Klipping koran dalam versi konvesional seperti saat era saya kecil dulu.

Kenapa perlu saya sebut 'klipping koran konvensional'? Karena deskripsi kata klipping di era digital kini telah mengalami pergeseran. Lima orang anak saya (10-18th) acapkali mendapat tugas sekolah membuat klipping. Bagi rekan-rekan generasi saya yang belum memiliki anak usia kelas 3 SD ke atas, jangan bayangkan klipping versi terkini penuh dengan guntingan kertas koran. 

Jika saya dulu berburu  koran hingga ke agen suratkabar di Pasar Kebayoran Lama, maka anak jaman sekarang mengerjakan klipping tugas sekolah dengan tangan bersih karena tidak perlu ternoda redusi tinta koran. Cukup duduk manis depan komputer atau laptop, 'googling' tema yang diinginkan, salin berita dan tempel di laman dokumen kosong, lalu 'print'... taraaaaa tinggal dibawa ke tukang fotokopi untuk dijilid.

Singkat cerita, ketika mengadakan aktivitas membuat klipping konvensional bersama para bocah ini, banyak fakta mengejutkan (untuk saya, mungkin juga saya-nya saja yang norak) dari para bocah peserta kegiatan tersebut.

Dari sekitar 15 orang anak usia 8-12 tahun, ternyata......
  • Ada yang belum pernah melihat wujud fisik koran (ow ow...)
  • Ada yang sudah tahu bahwa benda itu bernama koran, tapi tidak tahu bagaimana cara membaca koran. Karena hanya pernah membaca dalam bentuk paragraf secara mendatar, mereka tidak tahu cara membaca koran kolom per kolom secara menurun.
  • Saat berita yang ingin digunting ternyata bersambung ke halaman sekian, kolom sekian, muncullah pertanyaan: "Kak, kol (kolom.red) ini maksudnya apa?" (jangan-jangan mereka pikir itu jenis sayuran ya...).
  • Banyak anak yang bingung, dari sebelah mana suatu artikel berita berawal dan dimana pula berakhirnya.

Mereka pun terkejut sedikit panik saat menyadari tangan-tangan mereka menghitam hahaha..
Pengalaman super menarik...

Membuat saya jadi berpikir ulang. Setahun terakhir kami sempat memutuskan berhenti berlangganan surat kabar di rumah. Karena toh semua info yang kami butuhkan bisa kami dapat lebih terkini via internet. Tapi setelah pengalaman menarik tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk kembali rutin membeli surat kabar harian.

Di tengah gempuran digitalisasi ini, beberapa media literasi cetak ternyata dapat menjadi pengalaman dengan keseruan tersendiri. Antara lain karena beberapa media literasi cetak memiliki keunikan tersendiri dan butuh seni tertentu untuk membacanya.

Ya semisal surat kabar atau koran, yang cara membacanya sedikit berbeda dengan buku. Lalu ada pula komik yang berbeda pula seni menikmatinya.
Pembaca dituntut untuk dapat beradaptasi dengan berbagai teknik membaca yang berbeda. Hal ini secara tidak langsung memberi efek yang positif bagi terbentuknya karakter positif pada pembaca usia anak. Adaptasi dengan berbagai teknik membaca yang berbeda secara tidak langsung dapat melatih anak untuk berstrategi dalam beragam kondisi dan situasi.

Membaca koran juga memberi anak peluang untuk mendapat lebih banyak informasi ketimbang googling.  Saat membolak-balik lembaran surat kabar, bisa jadi anak akan menemukan variasi judul artikel yang menarik dan menggugah rasa ingin tahunya.

Dan salah satu keunggulan lain dari surat kabar ialah, segala info yang termuat di dalamnya telah melalui rangkaian panjang fit and proper test sehingga lebih terjamin kebenarannya dibandingkan artikel yang beredar di laman internet. 
Sedangkan pada dunia maya, siapa pun bisa menulis tentang apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tak jarang opini subyektif tanpa dasar menjadi viral dan dianggap sebagai kebenaran. 

Memperkenalkan surat kabar pada anak sebagai salah satu sumber info dan literasi sangat layak dipertimbangkan oleh semua orangtua. Fakta bahwa mayoritas konsumen berita/info versi digital yang termakan berita hoax adalah remaja dan kaum dewasa muda (usia awal 20-an) mungkin disebabkan karena mereka sudah mengenal gawai sejak lahir, hingga tak pernah mengkonsumsi berita yang disajikan media cetak.

Benar kah demikian?
Tentu saja hal ini masih berupa hipotesa pribadi emak dasteran ini saja. 
Tapi coba pikirkan...

Informasi apapun yang diterima manusia, akan menjadi tonggak landasan bagi kerangka pikirnya. Kenapa warga dewasa cenderung lebih sulit terpengaruh berita hoax?
Bisa jadi salah satu alasannya karena mereka telah lebih dulu memiliki landasan informasi yang dibaca melalui versi cetak di masa kecil mereka.
Sehingga ketika membaca informasi di laman internet, maka memori otaknya akan secara otomatis melakukan perbandingan antara informasi baru dengan data info lama yang sudah lebih dulu tersimpan.

Bayangkan jika anak-anak kita tidak pernah dibekali landasan informasi yang valid dan sahih kebenarannya. Lalu tanpa sengaja membaca lebih dulu artikel hoax di dunia maya?
Bukan tidak mungkin berita yang tak valid tersebut akan diyakini sebagai suatu kebenaran, dan kemudian berkembang menjadi landasan bagi kerangka berpikirnya hingga dewasa.

Duhai para sejawat ortu...
Sungguh,
Tak ada salahnya mempertimbangkan dengan serius, untuk memanfaatkan media cetak mainstream sebagai salah satu piranti wajib dalam mengembangkan budaya literasi keluarga di rumah.



Read more

Rabu, 26 Juni 2019

Saat Mal Taman Anggrek-Gramedia-Optik Tunggal Berkolaborasi Mendukung Gerakan Literasi

Mal Taman Anggrek untuk pertama kalinya di Indonesia menghadirkan empat
Board Games populer berukuran raksasa di Center Atrium mulai dari 20 Juni hingga 14 Juli 2019. Pada kesempatan kali ini, Mal Taman Anggrek bekerja sama dengan Hasbro untuk menghadirkan Summer Camp with Hasbro Gaming.

Dalam acara ini, Gramedia juga turut berpartisipasi dengan membuka booth menarik
yang berisi produk-produk kompetitif dan permainan edukatif. Dalam kolaborasi ini, Gramedia dan Mal Taman Anggrek berkomitmen untuk menghadirkan program yang unik, edukatif, dan menjadi ruang untuk interaksi bagi keluarga. Helatan ini dapat menjadi alternatif kegiatan liburan dalam kota yang murah meriah tanpa harus pergi jauh ke tempat wisata.

Dan untuk merayakan liburan sekolah kali ini, Gramedia dan Mal Taman Anggrek bersama Komunitas Gerakan Sejuta Kacamata, yang dikomandoi oleh Hb. Denny, untuk Indonesia juga ingin mengedukasi pentingnya makna berbagi untuk sesama dengan mengadakan
kegiatan seremonial penyerahan donasi kacamata dari program Corporate Social Responsibility bertajuk Share Sight Forward. Program ini mengajak para pengunjung berpartisipasi langsung untuk membantu mereka yang membutuhkan dengan mendonasikan kacamata. Program ini didukung penuh oleh Optik Tunggal yang memberikan lensa baru untuk dipasangkan pada frame kacamata yang didonasikan bagi mereka yang tergabung dalam Komunitas Literasi Nusantara Gramedia.

Semangat ini juga hadir pada program Summer Camp with Hasbro Gaming tahun ini. Komunitas Gerakan Sejuta Kacamata untuk Indonesia akan berbagi kisah inspiratifnya dalam membantu penyebaran kacamata di berbagai pelosok negeri. Tidak hanya itu saja, Optik Tunggal akan membuka kelas edukasi tentang
pentingnya kesehatan mata anak. Komunitas Literasi Nusantara Gramedia juga akan memberikan inspirasi untuk meningkatkan minat baca anak melalui kegiatan Story Telling.

Pada 20 Juni 2019 di Atrium Mal Taman Anggrek, pihak Gramedia dan Mal Taman Anggrek menyerahkan 250 kacamata bagi anak dan orang tua yang tergabung pada 3 (tiga) Komunitas Literasi Nusantara
Gramedia. Melihat animo masyarakat yang tinggi, program Share Sight Forward ini akan dilanjutkan dan berusaha menyebarkan donasi seluas-luasnya. Hal ini dilakukan untuk menyebarkan pentingnya semangat membaca bagi masyarakat luas karena buku adalah jendela dunia.

Lebih lanjut, Ibu Elvira Indriasari - A&P Manager Mal Taman Anggrek menyatakan, bahwa selama ini sering mengamati betapa seringnya pengunjung Mal Taman Anggrek berganti frame kacamata untuk mengikuti trend mode. Sehingga terbersit ide untuk memanfaatkan frame-frame kacamata lama yang masih sangat layak pakai agar dapat digunakan oleh mereka yang membutuhkan.

Bapak Yosef Adityo – GM corporate secretary pun menyambut ide tersebut dan sangat berkenan untuk ambil bagian dalam program donasi kacamata ini. Menurur Yosef, selama ini Gramedia rutin mendonasikan buku, sesuai dengan produk komoditi Gramedia. Namun ternyata buku dan kacamata memiliki keterkaitan erat. Kacamata sebagai salah satu komponen penting penunjang untuk membudayakan Gerakan Literasi Nasional. Karena faktanya, beberapa orang memang tidak bisa membaca tanpa bantuan kacamata.

Donasi Sejuta Kacamata ini didukung Optik Tunggal, berdasarkan keterangan Bapak Alexander F. Kurniawan - Chairman of Optik Tunggal, setiap bulannya Optik Tunggal menyediakan lensa produksi mereka untuk didonasikan guna mengisi frame bekas yang berhasil terkumpul di drop box pada beberapa lokasi, termasuk Mal Taman Anggrek sebagai pemrakarsa drop box bingkai kacamata bekas layak pakai.


Read more

Minggu, 23 Juni 2019

RAGAM AKSES TRANSPORTASI MENUJU JAKARTA FAIR 2019

Jakarta Fair Kemayoran 2019 sudah berlangsung separuh jalan nih mak. Jika ada di antara para ibu gaul yang generasi remaja Jakarta 90an, mungkin senasib dengan saya. Dahulu di masa kecil berdomisili di tengah kota Jakarta, setelah menikah dan beranak pinak lalu melipir ke pinggir ibukota karena harga tanah dan rumah di Jakarta yang semakin masyaallah. Terus terang, fakta inilah yang selama belasan tahun membuat saya malas menjejak kaki di gelaran Jakarta Fair dari tahun ke tahun.

Kemayoran itu terasa jauh api dari panggang di kepala saya. Sebagai emak dasteran di perbatasan Jakarta-Tangerang, dunia dan level pergaulan saya memang sering nguplek  di radius kecamatan saja sih. Maklum, setelah sempat merasakan empat tahun menetap di tanah rantau kampuang nan jauh di mato, hidup tanpa macet, kembali ke Jakarta membuat saya memiliki semacam fobia terhadap kemacetan kronis ibukota.

Maka ketika akhirnya seorang sahabat saya "memaksa" membuat janji temu dengannya di Jakarta Fair Kemayoran 2019, baru saya memahami, bahwa moda tranportasi yang disediakan oleh Pemda Jakarta cukup efektif untuk membebaskan warga dari kemacetan.

Pengalaman pertama mengunjungi Jakarta Fair, cukup membuat saya ketagihan. Seolah tak cukup waktu sehari untuk menjelajahi seluruh keseruan di sana. Hingga akhirnya saya pun datang berkali-kali, sekaligus bereksperimen menggunakan berbagai macam jalur transportasi yang berbeda.

Commuter Line/ KRL
Dari rumah saya di kawasan Ciledug, Tangerang, bersama beberapa orang kawan, kami konvoi bermotor menuju Stasiun Rawa Buaya di bilangan Cengkareng. Menitipkan sepeda motor di area parkir stasiun,dan menumpang KRL menuju Stasiun Duri.

Di Stasiun Duri kami transit dan berganti KRL jurusan Jatinegara, lalu turun di Stasiun Kemayoran. Berlanjut dengan menggunakan taksi online menuju Jakarta Fair aka PRJ. Melalui transportasi ini ternyata sangat ekonomis. Total biaya ongkos menggunakan KRL dari Stasiun Rawa Buaya hingga Stasiun Kemayoran cukup menghabiskan Rp. 3000 saja...
Tarif taksi online dari Stasiun Kemayoran ke PRJ pun tak sampai Rp. 10.000
Mudah dan murah..

Transjakarta
Pada kunjungan berikutnya, saya mengajak anak-anak menjajal moda transportasi transjakarta aka busway. Menuju Kebon Jeruk menggunakan angkutan umum, lalu bertolak dari Halte Busway Kebon Jeruk, menuju Harmoni. Ternyata selama gelaran Jakarta Fair, Pemda Jakarta menyiapkan armada transjakarta yang langsung menuju PRJ dari Halte Harmoni.
Dan langsung turun di Pintu Dua PRJ.
Total biaya perjalanan menuju PRJ tak sampai Rp 10.000/orang.
Sekali lagi,,
Mudah dan murah.

Ojek Online
Nah moda transportasi milenial kekinian ini memang paling mudah digunakan hehe..
Walau tarifnya tak selalu bersahabat. Ya pasti menyesuaikan jarak tempuh dong yaaa..
Kalau dari rumah saya, ya akan menghabiskan sekitar Rp 50.000 sekali jalan. Kelebihannya?
Yang pasti lebih cepat tiba di PRJ..

Yah hidup adalah pilihan.
Dan juga banyak jalan menuju Roma.
Menuju PRJ kini tak sesulit kenangan saya di masa kecil.
Tinggal pilih saja yang paling nyaman dan sesuai budget..
Semua jenis moda transportasi darat menuju PRJ tuh ada kok..
Gak susah gak ribet deh...
Yuuuk ke Jakarta Fair (lagi)!!!
Read more

Jumat, 14 Juni 2019

#IBUSANTUNMENOLAKROKOK, Perubahan Kecil untuk Masa Depan

Im pretty shock actually..
In my country, and most of western countries i had visited, there are many smoker, i believe..
But i never saw adults smoke at public area..
And its impossible for kids to buy cigarrette at drugstore..

Begitulah salah satu celoteh Nora, seorang warga Jerman yang saya temui medio 2014 lalu. Saat itu saya dan Nora berkesempatan berada dalam satu kelompok untuk melakukan perjalanan wisata backpacker bersama di pelosok Gunung Kidul.

Saat itu kami sedang mengobrol ringan tentang berbagai hal, hingga topik pembicaraan beralih membahas tentang perokok aktif, yang relatif cukup bebas berkeliaran di negara ini. Hal ini tentu saja menjadi salah satu fakta yang menjadi momok bagi saya, seorang ibu dengan empat orang anak lelaki.


Seperti diketahui bersama, remaja lelaki lebih berpotensi menjadi perokok aktif dibandingkan gender perempuan. Saya, tentu saja tak ingin anak-anak lelaki di rumah menjadi perokok. Sebab dari berbagai info yang saya dapat, rokok adalah awal dan jalan pembuka untuk berbagai masalah lain.

Rokok dan narkoba
Rokok adalah pintu gerbang menuju narkoba. Penelitian terbaru yang dilakukan National Center on Addiction and Substance Abuse (CASA) menunjukkan bahwa mayoritas pecandu narkoba memulainya dari MEROKOK.

Rokok dan penyakit
Sudah menjadi wacana umum, bahwa rokok memiliki imbas negatif yang dahsyat bagi kesehatan manusia. Banyak sekali penyakit yang bersumber dari kebiasaan merokok. Karena itu, merokok menurut saya, adalah salah satu cara paling sederhana untuk menganiaya diri sendiri.

Rokok dan perokok pasif
Bukan hanya para perokok yang terkena akibat negatif dari rokok. Orang-orang di sekitar perokok aktif pun seringkali terserang penyakit karena terpapar asap rokok. Sempat viral kisah seorang bayi menderita Bronkopneumonia karena terpapar residu asap rokok yang menempel di kain baju dan rambut sang ayah (walaupun sang ayah tak pernah merokok di rumah). Atau seorang istri terserang TBC karena asap rokok yang dihasilkan suami dan anak lelakinya di rumah.

Selama puluhan tahun, pemandangan orang merokok di tempat umum adalah hal biasa di negara ini. Bahkan rokok pun diperdagangkan secara bebas di mana pun, dari minimarket hingga warung kecil terdekat di lingkungan pemukiman.

Hal ini menyebabkan efek rokok tak hanya terasa bagi kesehatan, tapi juga bagi lingkungan. Puntung-puntung sisa rokok banyak ditemui menjadi sampah di sekitar kita. Di era propaganda go green, fenomena sampah plastik yang sulit didaur ulang kerapkali menjadi topik utama. Padahal menurut Jalal, seorang aktivis pengendalian tembakau dari Lingkar Studi CSR dalam artikel berikut ini

"Jumlah sampah plastik di lautan masih kalah jauh daripada (jumlah) puntung rokok di laut."

Sebenarnya, pemerintah pun sudah bersikap pro aktif dalam upaya menekan jumlah perokok aktif di tempat umum. Seperti diungkapkan oleh Ir. Yosi Diani Tresna MPM (Kasubdit Perlindungan Anak, Dit. Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga, Kementerian PPN/Bappenas) dalam program talkshow Ruang Publik, edisi 3 tanggal 12 April 2019 yang mengangkat tema "Kawasan Tanpa Rokok untuk Wujudkan Kota Layak Anak" (dapat didengar dan ditonton disini), bahwa pemerintah pusat memiliki beberapa kriteria tingkat dan level penilaian bagi kota layak anak. Salah satunya adalah dengan melihat sejauh mana kota tersebut terpapar industri rokok. Antara lain jumlah spanduk/baliho iklan rokok di kota tersebut, seberapa bebas rokok diperjualbelikan, atau jumlah perokok aktif di ruang publik.

Menurut Yosi, "Predikat kota layak anak dapat menjadi prestis bagi kepala daerah."
Secara implisit, pemberian predikat kota layak anak ini adalah salah satu upaya pemerintah pusat untuk menekan paparan industri rokok di area publik dalam beragam bentuk, tak hanya dalam wujud perokok aktif.


Selain itu, pemerintah daerah pun banyak yang telah memulai kebijakan anti rokok dengan menjadikan banyak kawasan publik sebagai KTR (Kawasan Tanpa Rokok) melalui berbagai peraturan daerah, seperti dijabarkan oleh artikel ini. Namun pemerintah masih menemui kendala dalam kontrol dan evaluasi berbagai perda tersebut.

Tentu saja tidak mungkin jika hanya mengandalkan aparat pemerintah untuk mengontrol perilaku merokok ratusan jutaan rakyat Indonesia. Yosi juga menyebutkan bahwa aturan/pemaksaan yang dicanangkan pemerintah seringkali tidak menjadi kebutuhan bagi warga. Karena itu warga juga harus memiliki inisiatif yang berasal dari kesadaran, "Inisiatif warga harus dikawal dengan pemaksaan oleh aturan pemerintah, dengan sanksi hukum." kata Yosi.

Artinya, warga negara juga harus berperan aktif ambil bagian untuk membantu pemerintah menyukseskan berbagai peraturan anti rokok yang telah dibuat.

Ini membuat saya tersadar dan teringat pada pengalaman pribadi. Sejak berseragam biru abu, saya cukup "galak" kepada siapa pun yang merokok di sekitar saya, entah saya kenal atau tidak. Setiap kali berada di tempat umum, kendaraan umum dan menemui perokok aktif, biasanya saya akan langsung menegur dengan santun, meminta agar rokok dimatikan. Dan selama puluhan tahun melakukan hal tersebut, saya belum pernah menjumpai ada perokok aktif yang marah atau tidak terima karena ditegur. Hampir semua dari mereka langsung memadamkan rokoknya saat itu juga.

Fakta ini menyadarkan saya bahwa kaum perempuan memiliki kekuatan halus untuk meminimalisir jumlah perokok aktif di bumi pertiwi. Saya mungkin belum sanggup melakukan gerakan masif mempengaruhi banyak orang untuk menjadi satu frekwensi dengan saya, seperti yang dilakukan oleh Ibu Sumiati. Tapi dimana pun saya berada, saya bisa melakukan satu hal kecil sederhana yang mampu membantu pemerintah mengontrol kebijakan tanpa rokok di ruang publik.

Dan jika saya bisa melakukannya, maka para perempuan lain pun bisa. Apa yang dilakukan Ibu Sumiati sangat menginspirasi saya. Sehingga saya pun tergerak untuk mencoba mengajak para perempuan bergabung dalam gerakan #IBUSANTUNMENOLAKROKOK.

Gerakan ini mengajak semua ibu (dan perempuan) untuk aktif menegur dengan santun, semua perokok aktif yang merokok di tempat umum. Sebab sejatinya, saat ini hampir semua wilayah publik telah dicanangkan pemerintah sebagai Kawasan Tanpa Rokok.
Cukup dengan mengatakan, "Maaf mas/mbak.. Asap rokok Anda mengganggu saya." 
dengan lembut dan sopan, diiringi senyum termanis yang kita punya. Saya telah puluhan tahun mempraktekkan hal ini dimana pun saya bertemu dengan perokok aktif di tempat umum, dan belum pernah gagal membuat mas atau mbak perokok mematikan rokoknya saat itu juga.


Menegur perokok aktif dengan santun adalah hal sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Pelaksanaan gerakan ini tidak membutuhkan alokasi dana,dan hanya sedikit sekali menghabiskan waktu dan tenaga.

Sebagai seorang ibu, guru dan blogger, saya seringkali memiliki keterbatasan waktu untuk bergerak kesana kemari. Karena itu saya mencoba memanfaatkan internet dan media sosial untuk untuk menyebarkan gerakan #IBUSANTUNMENOLAKROKOK. Beberapa waktu yang lalu, saya memulai sosialisasi gerakan ini melalui laman media sosial, mengajak para ibu berbagi cerita tentang pengalaman mereka menegur para perokok aktif di ruang publik, silahkan lihat DISINI.

Ada beberapa respon dan kisah para teman dunia maya yang membuat saya semakin yakin bahwa gerakan ini dapat membawa perubahan berarti bagi terwujudnya ruang publik bebas asap rokok. Salah satu teman bercerita, bahwa pernah punya pengalaman saat sedang hamil meminta sesama penumpang di dalam angkutan umum untuk mematikan rokok, sebab janin dalam perutnya berhak mendapatkan oksigen bersih.

Ada pula cerita lain seorang ibu muda yang sedang menyelesaikan skripsi, akhirnya berani bersuara menegur perokok aktif yang akan menyalakan rokok di dekatnya, agar bayi dalam gendongannya tak terpapar asap rokok. Padahal sebelum menjadi ibu, beliau tak pernah berani menegur para perokok aktif yang dijumpainya di tempat umum. Dan kabar gembiranya, semua perokok aktif yang mendapat teguran santun bersikap kooperatif dan bersedia mematikan rokok.

Fakta tersebut membuktikan, bahwa dengan aksi sederhana ini, saya, anda, dan siapa pun bisa melakukan perubahan bermakna bagi diri sendiri, lingkungan dan bagi masa depan generasi mendatang. Karena dengan aksi ini, kita semua dapat meminimalisir jumlah perokok aktif di ruang publik, yang dapat memberi manfaat berarti pada:

1. Kesehatan Diri

Bukan hal langka jika kita mendengar kisah seorang perokok pasif justru menderita penyakit berat akibat asap rokok orang lain. Semua orang yang bersusah payah melakukan pola hidup sehat, makan dengan menu pilihan, rutin olahraga dan tidak pernah merokok pun berpotensi menderita kerugian besar karena menjadi perokok pasif.  Rela kah kita menderita sakit padahal seumur hidup melakukan pola hidup sehat? Saya sih tak mau.
Dengan turut melakukan aksi #IBUSANTUNMENOLAKROKOK, setidaknya kita sudah melakukan upaya maksimal untuk tidak menjadi perokok pasif.

Jadi,
Ayo katakan, "Maaf.. Asap rokok Anda mengganggu saya." dengan santun pada para perokok aktif di ruang publik.
Dan perjuangkan hak kita untuk terbebas dari paparan asap rokok di ruang publik.
Demi kesehatan diri.

2. Membantu Pemerintah Mengontrol Penerapan Aturan Kawasan Tanpa Rokok

Pemerintah maupun pihak swasta sudah cukup aktif menempelkan rambu larangan merokok di tempat-tempat umum. Namun seringkali rambu-rambu ini diabaikan begitu saja. Karena itu diperlukan inisiatif warga untuk membantu mengingatkan para perokok aktif akan keberadaan rambu-rambu tersebut.

Stiker rambu larangan merokok di halte Transjakarta

Selain untuk kepentingan diri sendiri, dengan melakukan aksi nyata berani menegur dengan santun setiap perokok aktif yang kita temui di ruang publik, maka hal tersebut akan cukup menjadi sanksi sosial bagi para perokok aktif.
Dan seringkali sanksi sosial berpeluang lebih efektif menimbulkan efek jera.

Jadi,
Ayo katakan, "Maaf.. Asap rokok Anda mengganggu saya." dengan santun pada para perokok aktif di ruang publik.
Dan berbuat sesuatu untuk membantu pemerintah mewujudkan kota dan negara layak anak yang bersih dari asap rokok.

3. Meminimalisir Jumlah Perokok Pemula

Anak-anak adalah peniru ulung, semua pakar parenting mengatakan demikian. Termasuk juga dalam mengadopsi perilaku merokok. Tak sampai sebulan yang lalu, saat saya mengunjungi kedai mie ayam langganan, seorang pengunjung berusia balita merengek pada ayahnya meminta rokok. Hal itu terjadi karena si bocah balita melihat pengunjung lain di kedai tersebut sedang merokok. Anak usia balita loh!!!!

Maka dapatkah dibayangkan hasrat penasaran yang mungkin timbul dalam benak para remaja kita yang sedang dalam masa puber dan peralihan, serta dipenuhi rasa ingin tahu akan hal baru, saat melihat perilaku orang merokok di sekitarnya. Penasaran. Ingin tahu. Ingin mencoba.

Jika para remaja ini berasal dari keluarga dengan orangtua perokok, bisa jadi orangtua akan menjadi role model yang ditiru. Namun faktanya, tak sedikit para perokok pemula ini berasal dari orangtua dan rumah yang bebas dari asap rokok. Nah untuk kasus seperti ini, kemungkinan besar para remaja ini terpapar pemandangan perilaku merokok di tempat umum.

Bukan hanya itu saja. Para perokok pemula, baik dari orangtua perokok maupun orangtua tidak merokok, umumnya memulai aktivitas mencoba rokok di luar rumah. Logikanya, seperti apa pun perilaku orangtua, bahkan yang perokok sekalipun, akan menentang dan melarang jika mendapati anaknya merokok di usia remaja awal.

Maka para remaja tanggung ini biasanya mencari tempat lain untuk mulai mencoba rokok, yaitu di area publik. Seperti warung kecil dekat sekolah, pojok nongkrong di pinggir jalan perumahan, deretan kursi 'ngopi' di selasar luar minimarket, atau taman di tengah komplek.
Bisa jadi saja, para remaja perokok pemula ini adalah salah satu perokok aktif yang perlu kita tegur dengan santun di tempat umum.

Dengan sopan dan ramah menegur para perokok aktif di ruang publik, dapat meminimalisir pandangan para remaja dan anak-anak dari paparan perilaku negatif yang dapat mereka ditiru. Sekaligus juga dapat mempersempit ruang gerak para perokok pemula untuk mencicipi rokok.

Jadi,
Ayo katakan, "Maaf.. Asap rokok Anda mengganggu saya." dengan santun pada para perokok aktif di ruang publik.
Dan selamatkan generasi muda bangsa dari paparan asap rokok.
Dari paparan contoh perilaku negatif para perokok aktif.
Juga mempersempit ruang mereka untuk mencicipi rokok.

Terimakasih telah membaca curhat emak berdaster ini. Besar harapan saya, semua pihak yang membaca tulisan ini berkenan mendukung gerakan #IBUSANTUNMENOLAKROKOK, dan melakukan perubahan kecil sarat makna bagi generasi mendatang bangsa ini.

Read more
Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.