Rabu, 17 Juni 2020

Let's Read: Membaca Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan



"Mendidik anak itu dimulai sejak janin berada dalam kandungan. Apa yang ibunya lakukan dan rasakan selama mengandung si anak, biasanya akan ada yang terekam dan meninggalkan jejak pada perilaku anak setelah lahir kelak." 

Demikian wejangan ibunda tercinta saat saya hamil anak pertama dua puluh tahun yang lalu. Ucapan yang berdasarkan teori ilmu psikologi dan parenting, juga sesuai data dan fakta yang Ibu temui langsung dalam ruang praktek konselingnya di salah satu biro psikolog.

"Om Heri itu dulu pemalu bianget. Seje karo ibumu sing kendel percaya diri (berbeda dengan ibumu yang berani dan percaya diri)." cerita Eyang Putri saya suatu hari.

"Sebab waktu Eyang hamil om-mu dulu itu, Eyang nggak PD (percaya diri). Karena Eyang cuma guru di kota kecil, sementara kakak dan adik Eyang semua punya jabatan penting, sering ke luar negeri, dinas keliling Indonesia." tutur Eyang.

"Nah waktu hamil ibumu, Eyang bangga banget, soale akhirnya hamil setelah nunggu setahun lebih kepingin punya anak." lanjut Eyang.

Dan kini, setelah ilmu parenting semakin marak, saya pun mengetahui dan mendengar dari para ahli, bahwa memang mendidik anak itu di mulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan, sejak embrio menjadi janin dalam rahim.

Membaca sejak dalam kandungan

Kebetulan membaca memang hobi saya sejak kecil. Dan saya pun ingin anak-anak saya memiliki kegemaran membaca. Membaca adalah jendela dunia.

Kata-kata dapat membuat manusia melihat dunia tak hanya menghilangkan batas negara, tapi juga melampaui dimensi waktu dan generasi. Apa yang terjadi berabad lalu, dapat kita lihat melalui susunan huruf dan kalimat.

Dalam agama yang saya yakini, membaca atau iqro adalah perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril. Tentu saja, sebab tanpa membaca, bagaimana mungkin segala wahyu dan ilmu dapat tersampaikan ke seluruh belahan dunia.

Karena itu, sejatinya membaca adalah bagian penting dari tollabul ilmi, mencari ilmu. Dan menuntut ilmu adalah ibadah tiada ujung hingga akhir hayat, layaknya salat dan berpuasa di bulan ramadhan.



Dengan berbagai alasan tersebut, saya pun berusaha membangun budaya membaca dan memancing minat membaca anak-anak  sejak mereka bertahta di rahim saya.

Jika banyak ibu di masa itu memperdengarkan alunan musik klasik bagi calon jabang bayi yang dikandungnya, maka saya sangat sering membaca dengan bersuara (read aloud) di masa kehamian.

Pada dua kehamilan pertama di tahun 2000 dan 2001, saya masih berstatus mahasiswi. Sehingga kebanyakan bahan bacaan saya saat itu adalah buku teks atau diktat kuliah. 

Sumber: freepik.com

Teringat pada masa kehamilan kedua, dengan usia anak pertama yang belum setahun, setiap kali menidurkan Si Sulung, maka saya akan mendongeng dengan suara keras isi buku teks atau diktat kuliah, terutama jika esoknya akan menghadapi kuis atau ujian kuliah. Hingga Sulung terlelap.

Mulai dari bacaan Filsafat Komunikasi, Psikologi Komunikasi, Strategi Humas hingga materi Statistika, semua saya bacakan keras tanpa pandang bulu.

Kini, kedua anak itu sudah menjelang usia 20 tahun. Walau belum memasuki dunia mahasiswa, namun buku-buku yang mereka pilih untuk dibaca termasuk kelas berat untuk ukuran siswa SMK.

One day one page

Melalui musyawarah keluarga belasan tahun yang lalu, saya menjelaskan manfaat membaca pada kelima anak saya. Lalu melemparkan pertanyaan, "Gimana ya caranya, supaya kita sekeluarga ini bisa senang membaca?"

Diskusi pun mengalir bersama para bocah usia SD, TK dan batita tersebut. Dan jangan sekalipun meremehkan kekuatan berpikir anak, di usia berapa pun. Karena ternyata mereka seringkali dapat menemukan solusi yang terkadang tak kita pikirkan.

Dalam forum musyawarah keluarga yang memang rutin kami lakukan secara berkala, diskusi berkembang. Brain storming bersama para bocah ini menjadi keseruan tersendiri. Hingga akhirnya kami memutuskan bersama untuk membuat program One Day One Page.

Sengaja hanya membiasakan untuk membaca 1 halaman dalam sehari, sebab angka 1 memberi efek psikologis bagi anak, bahwa kegiatan ini sangat ringan untuk dilakukan. 

"Ah cuma satu halaman, gampang itu sih. Paling lima menit juga selesai. Habis itu aku masih ada banyak waktu untuk main bola." kata anak kedua yang memang sangat aktif berolah fisik.

Cukup satu halaman per hari

Bagaimana untuk para adik balita yang belum bisa membaca?
Si adik akan mendengarkan saya atau kakak membacakan satu halaman buku setiap hari. Tak peduli buku apapun. Bahkan membaca brosur iklan pun tak masalah. Walau dalam satu halaman itu hanya terdiri dari satu kalimat pun tak mengapa.

Kami menyepakati membaca hanya satu halaman saja. Namun faktanya, seringkali anak-anak tidak dapat berhenti hanya di satu halaman. Biasanya akan penasaran untuk membaca halaman selanjutnya, dan seterusnya.

Setelah mengenal Let's Read saya makin terbantu untuk membuat aktivitas seru membaca bersama anak-anak di rumah. Kendati lebih memilih untuk membiasakan mereka membaca dalam wujud media cetak, namun aplikasi ini tak hanya memberikan pilihan untuk membaca secara digital, tapi juga dapat diunduh dan dicetak.

Saya lebih sering mencetak beragam cerita positif dari Let's Read, untuk dibaca oleh anak-anak dalam bentuk media cetak. Sebab saya ingin anak-anak mencintai wujud buku.
Dengan mencetak beragam cerita, ternyata tak hanya keseruan membaca saja yang dapat dilakukan. 

Berimajinasi bersama Let's Read

Tak jarang pula saya menuliskan dengan tangan beberapa cerita dari Let's Read. Tanpa gambar pendukung. Lalu saya akan menantang anak-anak untuk berkreasi membuat gambar sesuai imaji mereka terhadap kalimat-kalimat cerita tersebut.

Kegiatan ini ternyata cukup menyenangkan. Sehingga sesekali saya terapkan juga aktivitas ini di mesjid dekat rumah saat jadwal TPA berlangsung.

Imajinasi gambar salah satu anak 

Sumber: Aplikasi Let's Read


Melatih kemampuan bahasa asing dengan Let's Read

Salah satu keunggulan Let's Read adalah tersedianya banyak bahan membaca yang dapat dipilih ingin menggunakan bahasa yang diinginkan.  Saya memanfaatkan hal ini untuk membuat lagi tantangan membaca menyenangkan dan seru bagi anak-anak.

Pilihan bahasa di aplikasi Let's Read


Terkadang saya mencetak cerita dalam Bahasa Inggris, lalu meminta anak-anak menuliskan arti tiap kata dalam Bahasa Indonesia. Dengan bantuan kamus tentunya.

Atau sebaliknya, mencetak cerita dalam Bahasa Indonesia, untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Tak hanya bahasa asing, bahkan bahasa daerah pun ada.

Lembar aktivitas menterjemahkan kata demi kata 


Sesekali juga kami berkunjung ke situs Let's Read, sebab anak-anak menjadi sering penasaran juga dengan kosakata beragam bahasa lain yang dapat dilihat di situs Let's Read. Hal ini tentu saja melejitkan wawasan mereka dengan cara yang menyenangkan.

Salah satu ragam pilihan bahasa pengantar cerita di situs Let's Read

Bagi para orangtua yang seringkali dilanda bingung untuk menyediakan media baca bagi anak di rumah, jangan ragu untuk unduh aplikasi Let's Read DISINI.
Let's Read sangat memberi solusi bahan bacaan keluarga yang praktis, kreatif dan sangat murah.

#LetsReadAsia #AyoMembaca



Read more

Rabu, 29 April 2020

Face Shield Rumahan untuk Pejuang Medis


Para nakes RS AsShobirin menggunakan face shield buatan kami

‘’Miy, kenapa sih kita repot bikin ini?’’ tanya Ai (anak ketiga saya), sembari kedua tangannya terus bekerja memotong gulungan pita.

‘’Ai nggak suka diajak bikin face shield ini?’’ saya balik bertanya. Saat itu kami sedang sibuk membuat face shield rumahan sederhana dari perlengkapan alat tulis kantor untuk perangkat APD (Alat Perlindungan Diri) yang akan disumbangkan kepada para tenaga medis di beberapa puskesmas dan rumah sakit. Sebagai wujud kepedulian dan dukungan bagi para tenaga kesehatan di garda depan penanganan wabah Covid-19.

Ini adalah kali ke sekian kami sekeluarga memproduksi sendiri face shield, pelindung wajah untuk didistribusikan kepada para nakes. Awalnya hanya kegiatan iseng untuk mengisi waktu di rumah pada masa stay at home ini. Tapi ternyata, Alhamdulillah dapat menjadi ladang ibadah bagi kami. Kali ini kami membuatkan untuk Puskesmas Kotamobagu, Sulawesi Utara.


Proses pembuatan face shield

‘’Bukan tak suka. Kalau Ai nggak suka, nggak mungkin Ai mau ikut bantu buat. Cuma kadang heran aja sama Umiy. Katanya Umiy sudah tiga bulan belum terima gaji. Kita makan tiap hari juga irit-irit banget. Tapi kok Umiy mau keluar uang pribadi untuk beli bahan-bahan ini, untuk disumbangkan gratis ke rumah sakit.’’

Ah, begitu rupanya yang ada di benak mereka. Pertanyaan yang sangat wajar, bila mengingat kondisi keuangan keluarga kami hampir setahun terakhir ini. Sekitar 10 bulan yang lalu, ayah mereka mendapat rejeki berupa penyakit.

Masa pengobatan dan pemulihan yang berlangsung selama sepuluh bulan terakhir ini membuat geraknya menjadi sangat terbatas, termasuk untuk urusan mencari nafkah. Dan saat kondisi fisik pak suami mulai membaik, terjadilah wabah Covid-19, sehingga kampus tempat suami mengajar juga menjadi non aktif.

Praktis biaya operasional kebutuhan hidup keluarga sehari-hari menjadi hanya bergantung pada pendapatan saya sebagai guru honorer di salah satu sekolah negeri. Yang mana honor mengajar saya terima dirapel per empat bulan sekali. Dengan lima orang anak usia SD, SMP dan SMA, tentunya kami harus cermat berhemat.

Saya pun tersenyum, dan menjawab pertanyaan Ai, ‘’Umiy tetap shodaqoh, karena kita masih punya bahan makanan untuk makan besok. Dan karena umiy ingin kita semua menjadi orang kaya, jadi aghniya yang sesungguhnya.’’

Menjadi Aghniya Sejati Bermental Kaya Raya

‘’Karena itu juga, setiap kali terima honor yang pertama kali Umiy lakukan sebelum membeli apa pun, adalah menitipkan zakat penghasilan ke Dompet Dhuafa ‘’ lanjut saya.

‘’Iya Miy, kalau zakat penghasilan itu kan memang wajib ya… Tapi kalau shodaqoh yang nggak wajib itu bukannya semampunya aja ya Miy? Kalau kita tidak mampu ya nggak  perlu memaksakan diri kan sebetulnya?’’ kali ini Roha (anak kedua saya) yang bersuara.

‘’Betuuuulll… Tapi kalian tahu nggak, sebetulnya shodaqoh itu membuat kita menjadi orang kaya yang sesungguhnya.’’ jawab saya.




Anak-anak terlihat sedikit bingung mendengarnya. Maka saya pun mulai menjelaskan salah satu prinsip hidup yang selama ini saya pegang teguh. Bermula dari pengamatan terhadap banyak orang dan relasi yang saya kenal. Ada saudara atau sahabat yang tergolong kaya raya, dengan rumah banyak, kendaraan memenuhi garasi juga barang-barang bermerk. Namun terkadang hidupnya tak tenang.

Pernah saya mendengar keluhan seorang kerabat, ‘’Duh pengen banget deh buka usaha itu. Aku ada modalnya, tapi masih kurang sedikit lagi, kurang 80 juta-an lagi lah.’’ Dan karena merasa pusing memikirkan cara mencari kekurangan modal usaha, lalu sampai tidak bisa tidur selama berminggu-minggu. Kemudian berakhir dengan keberanian mencari pinjaman uang dan berhutang dengan riba.

Padahal sebenarnya, kebutuhan hidupnya sehari-hari lebih dari kata terpenuhi. Tinggal di komplek perumahan cluster,  tidak pernah mencicipi rasanya naik kendaraan umum kemana pun, dan anak-anak bisa bersekolah di sekolah swasta dengan iuran lebih dari sejuta tiap bulan.

Banyak pula teman dan saudara yang saya kenal, hidup di bawah garis ekonomi menengah. Dengan penghasilan harian yang tak tentu. Namun tak pernah merasa ragu untuk berinfak ke kotak amal masjid. Tak pernah mengeluh kekurangan uang. Makan dengan tempe dan kecap pun sudah merasa cukup. Tidak merasa rugi untuk memberi pada orang lain selama di dompet masih ada selembar nominal lima puluh ribu, dan tidak pernah pula berhutang.

‘’Coba sekarang, menurut kalian, mana yang mental dan jiwa-nya lebih kaya? Orang yang punya uang ratusan juta, tapi masih merasa kekurangan dan nggak bisa tidur bahkan masih pinjam uang ke bank? Atau supir ojol yang tiap hari Cuma dapat uang seratus ribu, tapi nggak punya hutang, merasa cukup apa adanya, bisa tidur tenang dan masih bisa selalu shodaqoh?’’ saya bertanya memancing pendapat anak-anak.

‘’Iya juga ya. Hatinya jadi lebih kaya yang supir ojek ya, Miy.’’ Azza (anak keempat) menjawab setelah beberapa saat terdiam berpikir.




Begitulah.
Bagi saya, rasa senang menebar kebaikan berbagi, tanpa merasa rugi, tanpa merasa kehilangan harta, itulah mental kaya raya sesungguhnya….
Sedekah/ shodaqoh sesungguhnya membuat kita merasa menjadi orang kaya sejati.

Karena masih bisa ‘membuang uang’ untuk orang lain hehehe. Sebab dengan kondisi keuangan saya yang masih pas-pasan ini, kesempatan bagi saya untuk mampu ‘membuang-buang uang’ itu belum tentu datang setiap hari. Ada masanya juga saya betul-betul tidak memiliki kemampuan untuk berbagi dengan orang lain.

Pernah di suatu saat dulu, ketika kelima anak saya masih bayi dan balita, hidup di perantauan tanpa kerabat  bersomisili di pulau yang sama. Ditambah suami bertugas di pedalaman Jambi, sementara saya dan anak-anak bertempat di Lampung. Ada masa dimana saya kehabisan uang dan beras. Tak memiliki uang sama sekali sekeping pun, tak memiliki beras sebutir pun. Kami bisa sarapan dan makan siang, tapi tak tahu harus makan apa di malam hari.

Hanya berdoa dan shalat hajat memohon pertolongan Allah yang bisa saya lakukan kala itu. Dan dengan ajaib sebelum tangan ini turun, sebelum bibir berhenti berdoa selepas dua rakaat shalat hajat, pertolongan datang melalui seorang nenek tetangga sebelah rumah. Beliau memberi selembar dua puluh ribu sebagai tanda terimakasih karena saya membantu menyetorkan tagihan cicilan ke Kantor Pegadaian.

Dan masih di hari yang sama, setelah magrib, salah seorang kawan mengantarkan 25 kg beras ke rumah sewa kami. Beserta beberapa paket menu keluarga dari restoran pizza terkenal, yang jumlahnya bahkan terlalu banyak bagi kami. Sehingga saya membaginya ke tetangga agar tak terbuang mubazir.

Pengalaman berharga hari itu, membuat definisi kata cukup dan kaya menjadi lebih sederhana bagi saya.
Kini, memiliki persediaan beras, kecap dan garam di dapur pun sudah membuat saya merasa cukup dan tak khawatir kelaparan.

Saya tidak pernah tahu kapan roda hidup akan berputar menempatkan saya berada di atas atau di bawah. Dalam satu hari itu, di siang hari kami tak memiliki apa pun untuk di makan, siapa yang menduga ternyata di malam hari-nya kami justru mampu berbagi makanan ke tetangga.

Prinsip 4 Roda Berputar



‘’Tapi shodaqoh itu bukannya bila mampu ya, Miy? Kalau kita masih pas-pasan nggak wajib kan sebetulnya?’’  Roha kembali menimpali.

‘’Betul itu… Tapi arti cukup dan pas-pasan kan juga bisa beda untuk tiap orang. Dan kondisi tiap orang juga bisa berubah setiap saat. Kadang nggak perlu menunggu waktu bertahun-tahun. Kalau sekarang, detik ini kita masih pas-pasan, satu jam lagi belum tentu. Ingat nggak, umiy sering cerita tentang 4 roda berputar?’’ jawab saya.

Prinsip hidup 4 Roda Berputar adalah wejangan tanpa akhir yang kerap saya dengar dari orangtua sepanjang ingatan. Bapak dan Ibu selalu mengingatkan bahwa roda hidup manusia selalu berputar sepanjang waktu, sejak lahir hingga ajal.

Bahwa tidak ada orang yang selalu susah, tanpa pernah merasakan senang dan bahagia.

Tidak ada orang yang selalu merasa sakit, tanpa pernah mencicip kesehatan.

Tak ada orang yang selamanya miskin, tanpa pernah mendapat rezeki.

Juga tiada orang yang abadi dalam kondisi lemah, tanpa pernah diberi kekuatan olah Allah.

Demikian juga sebaliknya. Empat roda kehidupan itu akan selalu berputar silih berganti. Dan hidup yang seimbang memang seperti itu layaknya.
Lalu kapan roda hidup akan berputar berubah posisi, menempatkan kita di atas, atau di bawah? Itu adalah kuasa Gusti Allah.

‘’Jadi, jika Allah masih menempatkan diri ini berada di atas, jika mampu memberikan bantuan sekecil apa pun, jangan pernah sia-siakan kesempatan itu. Karena itu artinya Allah memberi kesempatan untuk menambah investasi akhirat. Lima menit kemudian, belum tentu kondisinya masih sama. Lima menit kemudian bisa jadi roda hidup sudah berputar kembali.’’ demikian wejangan Bapak yang terus terngiang di kepala saya sejak kecil.

Karena itu selagi sehat, bantulah yang sakit. Saat senang, wajib menolong yang kesusahan. Ketika kuat, perhatikan yang lemah. Dan jika ada rezeki berlebih, berbagilah dengan yang membutuhkan. Sebab kita tidak pernah tahu, kapan takdir akan membawa kita (atau anak cucu kita) berada di posisi sebagai pihak yang dibantu oleh orang lain.

Perbuatan Baik Yang Menular


Kiriman sayur hidroponik dari sahabat

‘’Betul juga ya, Miy. Waktu hari pertama WFH social distancing ini kita  nggak punya uang untuk makan. Eh ternyata banyak orang kirim bahan makanan untuk kita. Jadi sekarang gantian kita yang kirim-kirim face shield untuk dokter dan perawat ya.’’ Ai kembali berkomentar. Saya tersenyum lebar menanggapi.

Memang, satu hari sebelum Gubernur DKI, Anies Baswedan mengumumkan berlakunya masa social distancing, kondisi keuangan saya sudah di ambang kosong. Tak sampai lima puluh ribu rupiah tersisa di rekening maupun dompet, dan saat itu tidak ada kepastian kapan honor saya selama tiga bulan (Januari, Februari, Maret) akan cair. Sekali lagi  shalat hajat yang menjadi senjata utama, saya minta semua anak untuk ikut melaksanakan shalat hajat.

Selanjutnya kembali terjadi, selama dua hari berturut beberapa orang sahabat mengirimkan banyak bahan makanan melalui ojek online. Padahal mereka bahkan tidak tahu keadaan kami dan sudah hitungan purnama tak berjumpa. Ada yang mengirimkan frozen food dan sembako. Seorang kawan pemilik kebun sedang panen sayur hidroponik, dan memberikan beragam sayuran organik hingga dua kardus banyaknya.


Kiriman sembako dari sahabat

Sehingga walau tak memiliki uang tunai, kami tidak kelaparan. Bahkan sekali lagi, kami bisa memberikan sebagian bahan makanan yang kami terima kepada para driver ojek online yang banyak melintas di depan pagar rumah kami.

Lalu di hari ketiga WFH (work from home), tak terduga saya menerima santunan guru honor dari Baznaz Jakarta Barat, dengan jumlah cukup untuk hidup beberapa hari. Dana santunan Baznaz inilah yang kemudian saya alokasikan sebagian untuk membeli peralatan ATK guna membuat face shield rumahan.

‘’Nah… Betul Ai. Berkat kiriman makanan dari teman-teman Umiy dan Abiy, kita bisa makan seminggu lebih tanpa belanja bahan makan. Itu kalau dirupiahkan, harganya lebih dari uang yang umiy keluarkan untuk beli bahan face shield ini loh. Artinya, apa yang kita terima juga masih lebih banyak daripada jumlah yang kita sedekahkan tho.’’ lanjut saya.

Donasi Face Shield Rumahan

Bukan tanpa alasan kenapa saya dan anak-anak membuat face shield untuk disumbangkan. Selain karena bahannya mudah didapat, juga harganya terjangkau untuk dompet saya saat itu. Di minggu pertama masa social distancing itu seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas medis kekurangan Alat Perlindungan Diri. Sebab kebanyakan APD masih diperoleh melalui jalur import dari negara lain. Belum ada gerakan UKM lokal yang memproduksi APD.

Jumlah permintaan dan pasokan barang yang tak seimbang membuat harganya melonjak tinggi. Sementara APD idealnya tidak bisa dipakai ulang. Akhirnya saya dan anak-anak iseng membuat face shield home made di rumah. Kebetulan ada salah seorang relasi bidan yang mengeluhkan bahwa rumah sakit tempatnya mengabdi sangat kekurangan APD dan belum tersentuh bantuan dari pihak manapun.

Rumah sakit tersebut sejatinya adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak kecil tipe C di Tangerang yang utamanya menerima pasien untuk kasus penyakit anak, kehamilan dan persalinan. Namun  karena kondisi darurat, jumlah penderita dan suspek Covid-19 di Jabodetabek terus bertambah, maka rumah sakit ini pun tak bisa menolak kasus Corona.

Alhamdulillah face shield buatan anak-anak dapat membantu dan dimanfaatkan oleh 100 orang tenaga medis di rumah sakit tersebut. Untuk mengapresiasi kerja keras dan kerja sama anak-anak, saya menyimpan foto-foto kegiatan saat proses pembuatan face shield berlangsung ke laman media sosial. Tak disangka, banyak pihak yang ternyata memberi respon positif.

Ada beberapa orang tenaga kesehatan yang menghubungi saya untuk meminta bantuan donasi face shield  rumahan ala kami. Namun lebih banyak rekan yang menghubungi bermaksud menitipkan donasi dana untuk digunakan membeli alat dan bahan pembuat face shield.

Ada juga teman-teman yang menitipkan masker untuk didonasikan bersama dengan face shield yang akan kami kirimkan ke rumah sakit atau puskesmas. Lalu ada pula kawan yang berdomisili di pulau-pulau lain meminta saya mengajarkan cara membuat face shield, agar mereka juga bisa membuat sendiri untuk disumbangkan ke fasilitas medis terdekat dari rumah mereka.


Luar biasa! Betapa mudahnya menularkan perbuatan baik dan positif tanpa perlu heboh berkoar atau ceramah panjang lebar. Semoga wabah kebaikan berbagi ini dapat menular melebihi kecepatan virus corona.

Tutorial Membuat Face Shield Sederhana

Bagi Anda, terutama para mamah muda, yang mungkin mulai bingung merencanakan aktivitas positif di rumah pada masa home learning ini, barangkali berminat juga membuat face shield rumahan ala kami. Berikut saya bagikan tutorialnya.

Alat dan bahan yang dibutuhkan:
  1. Plastik mika sampul jilid fotokopi.
  2. Pita gulung, dipotong sepanjang lingkar kepala.
  3. Lakban.
  4. Straples.
  5. Gunting


Cara membuat:



Taraaaa….
Mudah sekali bukan?
Semua alat dan bahan pun dapat diperoleh di toko ATK terdekat, atau di tempat jasa fotokopi.



Mudah, murah dan bermanfaat. Bisa jadi face shield buatan anak-anak Anda dapat membantu menyelamatkan puluhan hingga ratusan nyawa para pejuang medis bangsa ini.
Selamat mencoba di rumah yaaa….

Yuk,
Mari lakukan kebaikan berbagi sebisa dan semampu kita. Sekecil apa pun, berikan kontribusi agar segala kebaikan dunia tidak berhenti hanya sampai di kita.  Sedekah dapat melalui beragam cara sesuai kapasitas diri. Dapat berupa waktu, tenaga, dan pikiran. Bagi yang sibuk namun berlebih harta, dapat pula menitipkan donasi pada Dompet Dhuafa yang akan menyalurkannya melalui berbagai program kebaikan bagi umat.
#MenebarKebaikan
#LombaBlogMenebarKebaikan


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”



Read more

Selasa, 17 Maret 2020

Tetap Segar Saat Sakit, Tangkal Kuman dengan Vitalis Body Wash


Mandi parfum Vitalis Body Wash

Vitalis Body Wash dapat memberi sensasi mandi parfum kelas premium, pasti semua kaum feminis sudah memahami. Bagaimana tidak, saat ini  Vitalis merupakan market leader di  pasar wewangian perempuan. Dan kini Vitalis ingin membawa para pakar di bidang parfum ke dalam produk Body Wash.

Kawin silang produk fragrance dan sabun ini tentunya sudah melalui serangkaian riset serius, sehingga menghasilkan produk yang pasti memberi keuntungan lebih bagi kulit cantik kaum hawa.

Namun tahukah bahwa Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash tak hanya mampu memberikan sensasi mandi parfum dengan harga sangat terjangkau? Produk ini pun dapat sangat membantu menjaga kesehatan keluarga kami loh.

Rangkaian seri Vitalis Body Wash


Mandi Parfum saat Sakit dengan Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash

Vitalis Body Wash sering memberi kemudahan hidup bagi kami sekeluarga akhir-akhir ini. Penyebabnya adalah cuaca Ibukota yang sedang seru belakangan ini. Perubahannya kadang terasa menggemaskan. Panas terik dengan matahari menyilaukan saat pagi dan siang hari. Lalu tiba-tiba bisa berubah menjadi hujan, mulai dari level rintik syahdu hingga deras menggelegar.

Guyuran hujan yang tiba-tiba menerpa saat kami tengah berada dalam perjalanan pulang atau pergi ke tempat kerja atau sekolah, tentunya memberi dampak bagi kesehatan.

Apalagi jika rezeki yang tercurah dari langit ini dalam format rintik halus namun dengan durasi waktu panjang. Sehingga memaksa saya nekat menerabas hujan untuk tiba di rumah, sebab telah sekian jam menanti tak ada tanda hujan terhenti.

Imbasnya adalah, kondisi kesehatan keluarga yang menurun. Drop!
Demam, meriang, masuk angin dan flu bergiliran menerpa seluruh anggota keluarga. Termasuk saya.

Manakala kondisi fisik tidak fit, lemas tak berdaya, salah satu hal yang menjadi momok adalah: m.a.n.d.i

Terkena siraman air dingin saat badan meriang itu rasanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kebetulan juga kamar mandi rumah kami tak memiliki fasilitas water heater. Dan untuk bolak-balik merebus air panas untuk mandi, butuh perjuangan ferguso.

Padahal, saat suhu tubuh di atas normal, maka seringkali keringat turut membanjir sebagai wujud kerja imun tubuh menormalkan suhu badan. Efeknya tubuh terasa lengket karena keringat.

Idealnya, harus sering bersiram dan ganti pakaian untuk menjaga higienis tubuh. Juga agar kuman tak datang menempel pada permukaan kulit dan kain yang lembab. Namun daya untuk mandi terkadang sudah habis. Apalagi jika harus merebus dulu air panas untuk mandi.
 Lalu bagaimana solusinya?

Alhamdulillah, untung saja ada stok Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash di rumah. Sehingga kesegaran dan higienis tubuh saat sakit tetap terjaga. Saya biasa memanfaatkan bantuan Vitalis Body Wash ini untuk berseka dengan lap handuk saat warga rumah tak mampu mandi dengan kondisi normal. Begini caranya:

1. Siapkan air hangat dalam wadah (baskom atau mangkuk).

2. Tuangkan satu sendok Vitalis Body Wash.



3. Aduk hingga merata.



4. Celupkan Washlap atau handuk kecil ke dalam wadah air sabun.



5. Peras washlap atau handuk kecil.



6. Gunakan washlap untuk menyeka seluruh bagian tubuh. Untuk menghilangkan segala aroma dan potensi kuman yang menempel.

Setelah itu, boleh seka sekali lagi dengan washlap atau handuk yang telah dibasahi air hangat tanpa campuran Vitalis Body Wash. Namun bila tidak pun tak mengapa.

Sebab  selain aroma parfum, para pakar dalam jajaran tim produksi Vitalis Body Wash sangat memahami bahwa para penikmat mandi parfum juga menyukai sabun mandi yang tidak membuat kulit kering. Sehingga peranan moisturizer atau pelembab dalam formula sangatlah penting.

Demi memastikan kelembaban kulit setelah pemakaian, maka para pakar di Vitalis menambahkan moisturizer dengan kualitas terbaik. Agar penikmat Vitalis tak perlu khawatir kulit menjadi kering.


Untuk pemakaian di kala sakit ini saya  lebih memilih varian Vitalis Body Wash Fresh Dazzle yang memberikan manfaat Skin Refreshing untuk kulit terasa segar, halus  dan lembut.


Varian Fresh Dazzle ini memiliki aroma yang mampu memperbaiki mood. Menjadi alasan utama pilihan pada varian ini. Karena saat kondisi fisik tak fit, umumnya emosi dan mood pun turut kacau.

Parfum yang digunakan untuk varian ini diawali dengan  segarnya wangi Bergamot, diikuti wangi Floral Bouquet yang elegan feminin dan ditutup dengan Musk Amber yang tahan lama.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Fresh Dazzle, juga diperkaya dengan ekstrak Yuzu Orange dan anti oksidan dari Green tea, yang menjaga kulit terasa lebih bersih, wangi, segar dan terawat.

Sehingga walau dalam kondisi sakit pun, aroma wangi tubuh saya tetap semerbak dan tak mengganggu penciuman penghuni rumah, terutama suami. Wangi kesegaran buah khas Yuzu Orange memang paling pas untuk kondisi lemas tak berdaya.

Jadi tak hanya dimanjakan dengan sensasi mandi parfum saat sakit, efek relaksasi yang ditimbulkan oleh aroma Green Tea yang lembut juga sangat menenangkan. 

Saat sedang sakit pun, kami sekeluarga tetap dapat menikmati sensasi mandi parfum. Tak hanya mampu menangkis aroma tak sedap dan mengatasi bad mood kala sakit, masih ada loh manfaat lain Vitalis Body Wash bagi kesehatan.

DIY Soap Sanitizer

Hand sanitizer menjadi salah satu menu belanja favorit, bahkan menjadi langka sebulan terakhir ini. Tak lain dan tak bukan adalah karena pandemi Virus Corona yang mendera separuh bumi.

Tingginya permintaan pasar pada kebutuhan hand sanitizer pun membuat harganya meroket tinggi. Hingga akhirnya banyak pakar farmasi yang membagikan tips membuat hand sanitizer sendiri di rumah.

Saya pun termasuk kalangan yang tertarik untuk mencoba membuat sendiri. Dan setelah membaca berbagai sumber, saya jadi tahu ternyata ada beberapa formula yang dapat digunakan untuk meracik sanitizer di rumah. Sekaligus menambah wawasan saya, bahwa ternyata penggunaan sabun dan air mengalir tetap masih lebih efektif untuk membunuh kuman dan virus ketimbang hand sanitizer.

Sumber: www.google.com


Hand sanitizer memiliki keunggulan dalam sisi kepraktisan pemakaian, karena tak perlu repot mencari sumber air saat sedang berada di luar rumah. Memakai cairan alkohol pun sebenarnya sudah cukup untuk membasmi kuman. Namun alkohol murni dapat memberi resiko kering pada kulit tangan. Karena itu perlu ditambahkan unsur tambahan yang mampu melembabkan. Bisa menggunakan aloe vera, gliserin atau  baby oil.

Kebetulan saya selalu sedia cairan alkohol di rumah, namun tak ada satu pun dari ketiga unsur tambahan tersebut. Maka saya pun teringat Vitalis Body Wash yang memiliki kandungan moisturizer berkualitas tinggi.

Rangkaian produk Vitalis Body Wash memiliki kandungan:




Menurut dua orang pakar farmasi yang saya kenal, kandungan cocamide/kelapa, yang ada dalam Vitalis Body Wash membuatnya memiliki sifat melembabkan yang tinggi. Ditambah kandungan antiseptik yang ada, maka dapat cukup efektif membunuh kuman.



Jadi saya pun memanfaatkan saja apa yang ada di rumah untuk membuat sanitizer sendiri. Selain lebih hemat, ternyata gel aloe vera dan gliserin juga tidak mudah lagi diperoleh di sekitar rumah saya.

Bahan-bahan yang saya gunakan adalah Vitalis Body Wash, air mineral dan cairan alkohol.



Sebagai wadah, saya memanfaatkan botol spray yang dijual bebas. Tak lupa disterilkan terlebih dulu sebelum digunakan. Berikut langkah-langkah pembuatan soap sanitizer rumahan.

Tuang Vitalis Body Wash dan air mineral ke dalam botol spray.




Tuang cairan alkohol ke dalam botol spray,



Lalu kocok agar tercampur rata.
Komposisi perbandingan penggunaan Vitalis Body Wash : air mineral : alkohol adalah
2:1:7
Soap sanitizer buatan sendiri pun siap digunakan. Semprotkan 2-3x ke telapak tangan, dan gosokkan seperti menggunakan hand sanitizer biasa.



Idealnya, setelah pemakaian sanitizer buatan sendiri ini tetap harus diakhiri dengan membilas tangan menggunakan air mengalir. Penggunaan sanitizer ini, saat berada di rumah cukup menghemat pemakaian air dan sabun cuci tangan. Karena tak perlu membasahi air terlebih dulu sebelum memakai sabun. Dan penggunaan sabun cair menjadi lebih terkontrol.

Namun jika sedang berada di tempat umum, sanitizer ini sangat praktis digunakan tanpa harus bingung mencari sumber air mengalir untuk membilas busa sabun. Cairan alkohol yang dominan membuat busa sabun nyaris tak ada. Sehingga proses pembilasan dapat ditunda hingga menemukan sumber air.

Untuk kebutuhan membuat soap sanitizer rumahan ini, pilihan saya jatuh pada varian Soft Beauty. Karena spesialisasinya memberikan manfaat Skin Nourishing untuk membuat kulit terasa halus, lembut dan terawat. Parfumnya dibuka dengan wangi segar yang higienis dari Fruity Aldehydic, dilanjutkan dengan wangi Rose & Violet yang feminin, diakhiri dengan manisnya Tonka Bean & Sandalwood yang premium.



Dan yang utama Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Soft Beauty, diperkaya dengan ekstrak Avocado dan Vitamin E, untuk membantu menjaga kulit tetap lembab, terasa kenyal halus dan  lembut. Kandungan ini sangat diperlukan untuk mengimbangi kadar cairan alkohol yang berpotensi membuat kulit kering.

Dan setelah kurang lebih seminggu ini menggunakan soap sanitizer rumahan ini dalam beragam aktivitas, alhamdulillah tak ada keluhan kulit kering yang kami sekeluarga rasakan.

Tertarik untuk coba membuat juga di rumah?

Di tengah serangan Virus Corona, selalu harus jaga kebersihan tubuh ya maaaak...
Yuk tingkatkan ikhtiar dan kewaspadaan. Termasuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Jaga juga kesehatan dengan asupan gizi yang cukup.

Stay safe
Stay at home
Keep social distancing
Solitaire is solidarity


Read more
Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.