Breaking News
Fetching data...

Selasa, 12 November 2019

Permenhub No. 12 Tahun 2019: Jaminan Ketenangan Ber-Ojek Online



Di masa emansipasi dan globalisasi ini, batas spesifik keterampilan kerja perempuan dan laki-laki memang semakin samar. Ragam jenis pekerjaan harian kaum perempuan pun kini nyaris tak berbeda dengan kaum pria.

Sebagai perempuan yang bercita-cita menjadi tangguh dan emak yang ingin terlihat perkasa, saya pun menjadi salah satu ibu milenial area pinggiran Jakarta dengan beragam peran. Baik peran domestik dalam rumah tangga, maupun pada ranah publik sebagai seorang professional. Menjaga kerapihan dan kebersihan rumah, memasak, mencuci sudah pasti menjadi bagian dari to do list saya sehari-hari. Termasuk mengantar dan menjemput anak ke sekolah, tempat mengaji, kegiatan pencak silat, dan lain sebagainya.

Di ranah publik, pekerjaan saya sebagai seorang guru Bimbingan Konseling (BK) juga terkadang menuntut kehadiran setiap hari ke sekolah tempat saya mengajar. Juga sesekali mengikuti beragam pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi guru. Pun melakukan kunjungan  rumah bagi para siswa yang membutuhkan.

Bisa dibilang, mobiitas saya sehari-hari cukup tinggi. Tuntutan menjadi Kartini modern yang sanggup mengendarai kendaraan bermotor juga kian tinggi. Mengendarai kendaraan bermotor roda dua atau pun empat sesungguhnya tidak menjadi masalah untuk saya. Sebab sejak masa berstatus mahasiswa, saya sudah mengantongi SIM A dan SIM C.



Yang lebih sering menjadi masalah adalah minimnya kemampuan spasial ruang saya. Dan keterbatasan memori otak saya untuk memahami peta. Jadi walaupun saya mampu mengendarai kendaraan bermotor, namun seringkali buta arah dan membutuhkan navigator pemandu.

Loh kan ada gmaps atau waze!
Duh, saya pusing jika melihat peta ukuran kecil seperti itu. Karena jangkauan radius wilayah yang tampak di layar telepon genggam sangat mini sekali. Menyebabkan saya bingung, Ciledug itu posisinya di sebelah utara atau selatan dari arah Kelapa Gading, misalnya.

Padahal tak jarang saya harus mengunjungi banyak lokasi yang sebelumnya belum pernah saya datangi. Maklum, emak milenial pembelajar hobinya sok sibuk ikut seminar dan pelatihan agar bisa menjadi orangtua yang lebih baik. Karena itu, adanya bus transjakarta, KRL dan layanan ojek serta taksi online merupakan inovasi maha jenius bagi saya.

Ketiga moda transportasi kekinian tersebut selalu menjadi solusi penyelamat ramah dompet bagi saya yang buta arah dan secara keuangan belum sanggup menggaji supir pribadi. Cukup ketik alamat atau lokasi tujuan, menanti kendaraan datang, duduk manis bahkan bisa tidur, dan saat terbangun sudah tiba di tempat tujuan.

Bila jarak tempuh cukup jauh, sedangkan dana terbatas, maka menggunakan kolaborasi moda transportasi busway, KRL Jabodetabek dan ojek/taksi online adalah pilihan terbaik untuk menjadi solusi perjalanan dalam kota. Jujur saja, dengan ketiga sarana transportasi umum tersebut memberikan ketenangan lebih bagi saya dalam berbagai sisi.

Seperti dari segi keamanan berkendara, atau kepastian tarif sesuai jarak tempuh. Terkadang tawar-menawar harga dengan babang ojek pangkalan itu cukup menghabiskan waktu. Atau saat dahulu menggunakan moda transportasi taksi konvensional, saya yang tak hapal jalan ini sering dibuat ketar-ketir apakah sang supir akan mencari jalur rute terdekat atau justru akan membawa saya berputar-putar agar jarak tempuh lebih jauh dan argo berputar lebih lama sehingga tarif perjalanan menjadi lebih mahal.

Kemudahan mengakses dan menemukan supir yang akan mengantarkan ke tempat tujuan juga menjadi salah satu alasan kenapa saya menggemari transportasi berbasis aplikasi ini. Tak perlu repot berjalan kaki  kesana kemari untuk mendapatkan ojek, angkot atau taksi. Cukup duduk manis di rumah, dan kendaraan beserta supirnya akan datang menjemput untuk mengantarkan ke tempat tujuan.

Namun dibalik segala kemudahan yang diperolah dari fasilitas transportasi online ini, ternyata ada pula beberapa hal yang cukup mengganggu kenyamanan sebagai konsumen, pun bagi para pengemudi transportasi online, selain juga sempat menimbulkan beberapa permasalahan sosial baru. Antara lain adalah:


  1. .Perbedaan tarif saat hujan atau jam sibuk yang membuat konsumen terkecoh.
  2. .Beberapa pengemudi nakal yang perilakunya merugikan konsumen, seperti menyetir ugal-ugalan, atau melakukan sentuhan yang tak pantas.
  3. .Nomor polisi kendaraan yang terdaftar pada aplikasi, terkadang berbeda dengan jenis kendaraan dan nomor polisi pada kendaraan yang digunakan untuk menjemput penumpang.
  4. .Identitas pengemudi yang datang menjemput terkadang berbeda dengan yang tertera pada aplikasi online.
  5. .Bagi penumpang yang buta arah seperti saya, terkadang lokasi titik penjemputan juga menjadi masalah saat sedang berada di tempat yang asing atau baru kali itu dikunjungi.
  6. .Perselisihan dengan pengemudi ojek dan taksi konvensional, terutama terkait dengan area penjemputan penumpang di lokasi umum.
  7. .Banyaknya promo potongan harga sebagai efek persaingan tarif antar perusahaan aplikasi ojek online, yang berakibat merugikan pengemudi.

Tapi perhatian pemerintah terhadap segala persoalan tersebut ternyata tak sepela loh..
Dengan dikeluarkannya Permenhub PM No. 12 Tahun 2019 setidaknya cukup menjadi solusi bagi semua pihak yang terkait, termasuk bagi saya sebagai pengguna fanatik ojek online. 🤗







Read more

Kamis, 17 Oktober 2019

Ada Babang Sandi di Kabinet II Jokowi-Amien

Yeaaaaaayyyyyy...
Ada nama si Babang Ganteng di jajaran Kabinet II Jokowi-Amin. Lumayan sangat untuk jadi pelipur lara bagi emak-emak pecinta keindahan (salah satunya keindahan fisik ciptaan Alloh) macem saya ini...

Maklum lah, setelah tertunda angan-angan memajang foto si Babang sebagai RI-2 di ruang kerja saya qiqiqiqi.
Kini ternyata ada nama Sandiaga Uno yang rumornya diprediksi akan menjadi Menteri Investasi/Kepala BKPM.  Dan menurut saya siiih, cucok juga kalau Bang Sandi ada di posisi itu. Karena beliau memang track record pengalamannya mendukung sangat ya kan...

Selain itu masih ada lagi kesegaran-kesegaran lain dalam rancangan Kabinet ini. Misalnya Sang Pangeran Cikeas, Agus Harimurti Yudhoyono yang diprediksi akan menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga.
Aduuuuh...
Yang ini juga akuh setuju mak.
Sudah terbukti Mas Agus ini bertubuh sehat dan prima (ex TNI gituuu...) dan juga masih berjiwa muda. Juga terbiasa dengan disiplin keras dan regulasi ketat. Jadi kemungkinan besar dapat cukup memahami dan dapat mengayomi gejolak jiwa para pemuda Indonesia, sekaligus tetap mampu menggiring mereka untuk berada di jalur yang benar. Insyaallah...

Kesegaran masih berlanjut dengan masuknya nama Erick Thohir sebagai prediksi Menteri BUMN. Rekam jejak ex pemilik klub Inter Milan dalam mengelola badan usaha memang gak perlu diragukan lagi sih ya..

Ada juga nama-nama muda yang inspiratif seperti Najwa Shihab atau Emil Dardak dalam jajaran wakil menteri dan wakil pejabat setingkat menteri. Meskipun untuk Emil Dardak, saya sih lebih suka jikalau suami Arumi Bachsin ini menyelesaikan terlebih dulu amanatnya di Jawa Timur.

Ada satu lagi nama yang saya sukaaaaaaa...
Ini wajah lama, yang memang saya berharap agar tidak digeser.
Yup...
Siapa lagi kalau bukan Bu Menteri Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Yang ini sih tak tergantikan. Andaikan boleh, saya berharap Bu Susi berada di jabatan ini seumur hidupnya, hingga maut memisahkan kita.. Eh??

Untuk yang penasaran, ada nama siapa lagi dalam jajaran Kabinet II Jokowi-Amin ini, berikut bocoran infonya....

KOMPOSISI IDEAL KABINET KERJA JILID II PERIODE 2019-2024

Presiden RI: Ir. H. Joko Widodo
Wakil Presiden RI : Prof. Dr (HC) KH. Ma'ruf Amin

*MENTERI KOORDINATOR*

1. Menteri Koordinator Bidang Polhukam :
Luhut Binsar Pandjaitan

2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian:
Airlangga Hartarto

3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan :
KH. Said Aqil Siradj

4. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman:
Moeldoko


*MENTERI*

1. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno

2. Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas :
Rini Soemarno

Wakil Menteri : Hariyadi Sukamdani

3. Menteri Dalam Negeri :

Hasto Kristyanto

4. Menteri Luar Negeri & Perdagangan Internasional :
Retno Marsudirini

Wakil Menteri : Mahendra Siregar

5. Menteri Pertahanan :
Budi Gunawan

Wakil Menteri :
Silmy Karim

6. Menteri Hukum & HAM :
Hikmanto Djuwana

Wakil Menteri :  Lawrence TP Siburian

7. Menteri Komunikasi & Informatika: Wahyu Sakti Trenggono

Wakil Menteri : Anggela Herliani Tanoesoedibjo

8. Menteri PAN & Reformasi Birokrasi: Achmadi Noor Supit

Wakil Wakil Menteri :
Aria Bima

9. Menteri Keuangan :
Sri Mulyani Indriastuti

Wakil Menteri : Erani Yustika

10. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN): Erick Thohir

Wakil Menteri : Wisnu Broto Setyo

11. Menteri Pertanian:

Edi Prabowo

Wakil Menteri :
Abdul Kardir Karding

12. Menteri Koperasi & UKM:
Olly Dodokambey

Wakil Menteri : Diaz Hendropriyono

13. Menteri Perindustrian  :
Rosan P. Roslani

15. Menteri Investasi/Kepala BKPM:
Sandiaga Uno

Wakil Menteri :

Ferry Latuhihin

16. Menteri Digital & Ekonomi Kreatif: Triawan Munaf

Wakil Menteri : Bahlil Lahadalia

16. Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri

17. Menteri PU & Perumahan Rakyat :
 Basuki Hadi Muljono

Wakil Menteri : Emil Dardak

18. Menteri Kehutanan, Agraria, & Tata Ruang :
Tri Risma Maharini

Wakil Menteri :
Riyad

19. Menteri Lingkungan Hidup
Agun Gunandjar Sudarsa :

Wakil Menteri : Lenis Kogoya

21. Menteri Agama :
M. Arwani Thomafi

22. Menteri Kesehatan:
Terawan Agus

Putranto

Wakil Menteri :
Benny Octavianus

23. Menteri Kesejahteraan Sosial :
Agus Gumiwang  Kartasasmita

Wakil Menteri :  Erico Sutarduga

24. Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak :

Yenni Zannuba Wachid

Wakil Menteri : Grace Natalie

25. Menteri Pendidikan Dasar & Menengah :
K.H. Haedar Nashir

Wakil Menteri : KH. Maman Imanulhaq

26. Menteri Pariwisata & Kebudayaan :
Arief Yahya

Wakil Menteri :
I Gede Pasek Suardika

27. Menteri Pendidikan Tinggi :
Sofyan Jalil

Wakil Menteri :
Nadiem Makarim

28. Menteri Riset & Teknologi/Badan Riset Nasional:
Ilham Habibie

Wakil Menteri :
Rhenald Kasali

28. Menteri Desa & PDT:
Djarot Saiful Hidayat

Wakil Menteri :

Billy Mambasar

29. Menteri Transportasi:

Budi Karya Sumadi

Wakil Menteri : Rusdi Kirana

30. Menteri Kelautan & Perikanan :

Susi Pudjiastuti

Wakil Menteri :

Prananda Surya Paloh

31. Menteri Energi & Sumber daya Mineral :
Jonny G. Plate

Wakil Menteri :

Nicke Widyawati

32. Menteri Pemuda & Olah Raga :
Agus Harimurti Yudhoyono.

33. Menteri Perdagangan :
Amran Sulaiman

Wakil Menteri :
Thomas Trikasih Lembong


*PEJABAT SETINGKAT MENTERI*

1. Jaksa Agung:

Noor Rachmad

2. Panglima TNI:

 Andhika Perkasa

3. Kapolri:

Tito Karnavian

4. Sekretaris Kabinet :

Hadi Tjahjanto

5. Kepala Badan Intelijen Negara : Joni Supriyanto

6. Kepala Staf Kepresidenan : Pramono Anung Wibowo


*EMPAT JABATAN BARU*

1. Kepala Pusat Legislasi Nasional :

Machfud MD

Wakil Kepala Badan :

Yusril Izha Mahendra

2. Kepala Lembaga Ekonomi & Keuangan Syariah:

KH. Eman Suryaman

3. Kepala Badan Otorita Pemindahan Ibukota :

Bambang Brodjonegoro

5. Kepala Badan Perpajakan & Pendapatan Nasional :

M. Misbakhun

6. Kepala Badan  Pembangunan Destinasi Pariwisata Nasional (BPDPN)

Tantowi Yahya

Wakil Kepala Badan :

Hiramsyah S. Thaib

Juru Bicara Kepresiden :

1. Effendi Ghazali (UI)

2. Najwa Shihab (UI)

3. Saiful Maarif (UNAIR)
Read more

Rabu, 16 Oktober 2019

SEPIRING KELEZATAN PENCEGAH DEPRESI









Kedua kondisi tersebut dapat berimbas tidak sepele. Apabila si bayi adalah anak kesekian, dan memiliki kakak-kakak yang terlebih dulu lahir, dapat pula berakibat negatif terhadap pola asuh keluarga di rumah. Selain itu juga berpotensi menyebabkan rumah menjadi tidak ramah bagi anak.

Karena itu sudah saatnya sindrom baby blues dan PPD mendapat perhatian serius. Sebab seorang ibu adalah tiang bangsa yang mendidik dan berperan penting menyiapkan generasi penerus bangsa.

Terkait penyebab sindrom baby blues dan PPD, beberapa waktu yang lalu sempat viral tulisan salah seorang petugas medis di laman media sosial. Beliau menyebutkan, bahwa salah satu penyebab sindrom baby blues dan PPD bisa jadi adalah: makanan.

Kenapa makanan dapat menjadi penyebab?
Lapar dapat menurunkan kondisi fisik yang mengakibatkan kelelahan tubuh. Rasa lelah menumpuk dapat memicu stres dan kebingungan. Kondisi-kondisi tersebut dapat menjadi pencetus sindrom baby blues dan PPD.




Jika seorang suami beralasan sudah meminta istrinya untuk selalu makan, apakah ada yang salah? 

Salah! Tidak cukup hanya dengan memerintah dan meminta ibu pasca bersalin untuk makan dan memperhatikan asupan gizi bagi dirinya sendiri.

Sebab situasi di lapangan bisa jadi istri di rumah sendiri dengan bayi dan anak-anak yang lebih besar. Mau masak sendiri, tapi anak menangis terus. Tentu si ibu akan membuat pilihan lebih baik menyusui  dalam keadaan perut kosong dari pada menyiapkan makanan diiringi suara latar tangisan bayi menjerit-jerit.

Selain itu, seseorang yang sedang lapar seringkali kurang bisa berfikir jernih. Belum lagi harus beradaptasi dengan perubahan jam tidur, dimana malam hari mungkinn harus begadang menghadapi kerewelan bayi. 

Ditambah kondisi rahim masih kontraksi, jahitan masih nyeri pasca persalinan. Ada pula masalah lain seperti stres karena ASI tak lancar keluar, dan sebagainya. Pada kondisi seperti ini, para perempuan berhati selembut sutra pun bisa berubah menjadi monster. 


Solusi sederhana yang bisa dilakukan adalah menyediakan makanan jadi siap santap serta simpan minuman dan makanan ringan di tempat yang mudah dijangkau oleh si ibu.


Masakan rumahan sederhana untuk ibu yang sedang nifas

Kepekaan para suami dan orang-orang terdekat di sekitar ibu yang sedang nifas dalam memberikan dan menyediakan makanan, inilah yang harus diasah. Karena banyak para perempuan yang tidak langsung memberitahukan keinginan untuk makan, salah satunya karena malu.
Apalagi bagi ibu menyusui yang lebih baik menahan lapar dari pada mendengar sang buah hati menangis berkesinambungan.

Jika sudah terjadi sindrom baby blues nasehat sebagus apapun tidak akan mempan. Karena yang di butuhkan adalah solusi nyata. Jangan sampai terlambat. Sebab jika sudah mengarah pada depresi post partum atau bahkan stres psikologis maka dampak nya bisa membahayakan bayi dan nyawa si ibu.


Pengalaman beberapa teman terkait makanan pasca melahirkan.


Membaca berbagai artikel dan pengalaman teman-teman seputar sindrom baby blues dan PPD, membuat saya teringat periode hidup di tahun 2006 dan 2009. Ketika melahirkan anak ke 4 dan 5 di tanah rantau (Bandar Lampung). Yang mana kami tak punya sanak saudara satu pun disana.

Saya bertempat di Bandar Lampung dengan 3 anak tanpa asisten rumah tangga, sementara suami di sebuah perkebunan di pedalaman Jambi.

Saat melahirkan anak ke-4 pun saya harus berangkat naik angkot sendiri menuju rumah bersalin. Suami menjemput setelah hari ketiga jam 8 pagi, lalu selepas solat ashar beliau sudah dijemput lagi oleh mobil proyek karena ada kondisi darurat di tempat kerja.

Beruntung...
Saya memiliki tetangga-tetangga  yang super baiiiik.. Subhanalloh..
Selama masa nifas 40 hari, setiap pagi dan sore ada tetangga bergiliran mengirimkan rantang berisi lauk dan sayur untuk saya dan anak-anak. Sehingga saya cukup menanak nasi saja.

Setelah saya membaca berbagai info, kini baru terpikir, bisa jadi kiriman makanan dari tetangga-tetangga selama 40 hari masa nifas dan pemulihan itu yang berperan signifikan menyelamatkan saya dari baby blues atau pun PPD.

Karena itu..
Kini saya berniat meneruskan kebaikan yg dulu saya terima kepada keluarga perantau yang ada di Jakarta. Yang berdomisili tak jauh dari tempat tinggal saya, melalui proyek pribadi MakananUntukIbu.

Walhasil,
 Akhir  pekan kemarin selama beberapa hari berturut, saya mengantarkan sayur dan lauk ke rumah Mbak Iis mengendarai sepeda motor Honda Beat kesayangan.

 Mbak Iis baru seminggu lalu melahirkan anak kedua. Yang qodarullah si bayi menderita hidrosefalus. Sejak masa kehamilan, Mbak Iis sdh cukup stress karena si bayi sdh terdeteksi mengalami hidrosefalus di bulan ketujuh kehamilan. Di Jakarta, Mbak Iis tinggal di rumah kontrak petakan bersama suami dan anak pertama, tanpa asisten rumah tangga.



Mbak Iis dan keluarga, bukan ibu menyusui pertama yang  menjadi target sasaran program MakananUntukIbu. Target sasaran program ini memang para ibu dengan kriteria:
1. Sedang menjalani masa nifas pasca melahirkan.
2. Tidak memiliki asisten rumah tangga atau kerabat (selain suami) yang mendampingi selama masa nifas.
3. Diutamakan perantau yang jauh dari keluarga besar.

Saat ini, saya masih bergerak sendiri menjalankan program ini. Karena itu masih banyak kekurangan yang belum sesuai harapan. Antara lain, semula saya berharap dapat setiap hari mengantarkan lauk dan sayur kepada para ibu yang sedang nifas ini, selama 40 hari. Namun keterbatasan waktu dan tenaga, belum memungkinkan saya untuk dapat setiap hari mengunjungi para ibu ini.

Dalam melakukan distribusi makanan, saya sangat terbantu dengan adanya Honda Beat, tunggangan kesayangan. Honda Beat hadiah dari suami tercinta, yang diperoleh secara kredit melalui FIFGROUP (PT. Federal International Finance), yang merupakan anak perusahaan Astra Financial.



Bukan tanpa alasan jika sepeda motor ini menjadi andalan dan salah satu pemegang kunci utama bagi terlaksananya program ini. Sebab rumah-rumah para ibu ini umumnya berupa rumah sewa petakan yang terletak di dalam gang kecil, di area pemukiman padat penduduk. Sehingga tidak memungkinkan menggunakan moda transportasi roda empat untuk menjangkau lokasi tersebut.




Di masa mendatang, saya berharap program ini dapat didukung oleh banyak pihak, agar semakin banyak yang merasakan manfaatnya. Andai saja program MakananUntukIbu ini diadopsi oleh perusahaan besar sebagai bagian program CSR (Corporate Social Responsibility), tentu akan dapat menjangkau ruang lingkup yang lebih luas lagi. 

Bukankah sudah saatnya program CSR perusahaan besar, seperti Astra Financial Group misalnya, menyasar sisi psikologis seorang ibu yang merupakan landasan pembentuk karakter generasi muda penerus bangsa ini?




Selain itu, saya juga menyimpan mimpi, bahwa suatu saat program ini dapat mengalami pengembangan. Tak sebatas pada pemberian makan bagi ibu yang sedang nifas. Tapi juga konsultasi laktasi, pijat bayi, serta fasilitas relaksasi untuk si ibu. Seperti dengan membawa si ibu untuk memanjakan diri di spa dan salon selama beberapa jam saja. Hal sederhana itu saja dapat bermakna sangat besar bagi ibu yang sedang dalam masa pemulihan pasca persalinan.

Bagaimana pun juga,
Seorang anak adalah anugerah terbesar bagi orangtuanya. Namun demi sang anak, seorang ibu pasti banyak mengalami fase perubahan fisik dan emosi yang seringkali terasa tak nyaman sejak masa kehamilan hingga di saat nifas setelah melahirkan.

Kewajiban untuk menjaga kesehatan fisik, emosi dan mental dirinya dan jabang bayi, memang  menjadi tanggung jawab terbesar dari seorang ibu. Sungguh bukan perkara mudah. Dan untuk memenuhi tanggung jawab ini, seorang ibu mutlak membutuhkan dukungan dari semua orang di sekitarnya. Terutama orang-orang terdekat, seperti suami dan keluarga.
Ibu yang sehat dan prima secara fisik, mental dan emosi, akan dapat mendidik serta mengasuh anak-anaknya menjadi generasi penerus yang unggul. 

Karena itu, mari lebih peduli untuk saling mendukung dan membantu menjaga kesehatan fisik, mental dan emosi para ibu.
Sebab seorang ibu adalah poros utama kehidupan dalam setiap rumah. Yang pada akhirnya memegang peran sangat penting bagi kualitas generasi muda masa depan bangsa dan dunia.
Read more

Kamis, 12 September 2019

TIPS MEMILIH KOMIK ANAK

Siapa yang tak tahu komik?
Media literasi bergambar ini banyak digemari oleh berbagai kalangan dan usia. Walau di Indonesia, komik identik dengan bacaannya anak-anak, namun tak sedikit orang dewasa dan para sesepuh yang juga menikmati membaca komik. Termasuk saya hehe...



Bagi anak-anak, komik adalah bahan bacaan yang cukup efektif untuk membangkitkan minat baca dan membangun budaya literasi. Sebab komik merupakan kolaborasi antara gambar dan huruf. Sehingga tidak membuat anak bosan dan memancing ketertarikan. Apabila anak bosan melihat huruf berjajar, maka dapat beralih memperhatikan detil gambarnya.

Perpaduan gambar dan huruf ini juga membuat mata anak tidak cepat lelah saat menikmati membaca komik.  Selain itu, penggunaan diksi kata dalam komik umumnya cenderung lebih ringan ketimbang buku atau novel. Sehingga lebih mudah dicerna dan dipahami oleh otak anak.

Meski demikian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua sebelum memberikan komik kepada anak-anak di rumah. Berikut adalah beberapa tips untuk memilihkan komik yang baik dan sesuai bagi ananda tercinta.

1. Orangtua Wajib Baca
Sebelum memberikan bahan bacaan apapun pada anak, pastikan orangtua sudah membacanya terlebih dulu. Karena orangtua adalah filter pertama dan utama yang memastikan layak atau tidaknya media tersebut untuk dikonsumsi oleh anak di rumah.

Jika orangtua mengetahui apa saja info yang dibaca anak, hal ini juga membantu untuk membuka keran diskusi literasi dengan anak. Diskusi atau obrolan santai ini pada akhirnya akan memberi imbas positif bagi kelekatan serta kualitas komunikasi antara anak dan orangtua.

2. Alur Cerita yang Realistis
Ide dan gagasan kisah yang tertuang dalam komik yang akan diberikan pada anak (terutama di usia dini), sebaiknya sebisa mungkin dekat dengan realita keseharian. Tidak terlalu imajiner atau terlalu berfantasi.


Sebab konsep kerja otak anak masih sangat kongkrit. Jika mendapat suguhan kisah yang terlalu imajiner, maka otak anak akan kesulitan membedakan antara fantasi dan realita. Perkembangan dunia literasi, termasuk komik saat ini cukup mendukung, karena kini cukup banyak komik yang kontennya sangat realistis. Seperti komik sains ilmiah, atau komik bergenre sejarah dan biografi tokoh terkenal.

3. Konten Cerita Sesuai Tahap Usia
Walau komik identik dengan dunia anak, namun tak selamanya semua komik diperuntukkan untuk konsumsi anak. Terlebih jika kita merujuk pada komik-komik yang berasal dari Jepang. Banyak komik yang sesungguhnya menyasar target pembaca remaja atau bahkan dewasa.

Salah satu jenis komik untuk kalangan dewasa yang cukup sering dibaca anak-anak

Karena itu orangtua harus sangat selektif dan berhati-hati memilihkan komik. Jangan sampai, misalnya, komik bergenre remaja dengan ide utama cerita relasi percintaan diberikan kepada anak usia TK. Atau komik dewasa dengan muatan cerita fiksi pembunuhan yang detil berbalut tokoh detektif dijadikan koleksi baca untuk anak usia SD.

4. Tampilan Gambar Visual yang Sopan
Yang namanya komik tentu saja penuh dengan gambar para tokoh dalam cerita. Detil penggambaran para tokoh maupun rinci gerakan yang ditampilkan dalam sebuah komik juga perlu jadi bahan pertimbangan sebelum memilih komik.

Contoh komik dengan tampilan visual tokoh berpakaian santun

Sebaiknya pilih visualisasi yang menampilkan gambaran tokoh yang sopan. Misalnya dari segi pakaian para tokoh yang tidak mengumbar aurat. Atau penggambaran alur cerita yang tidak anarkis penuh dengan adegan kekerasan berlebihan yang tak layak ditampilkan.

Hal ini sangat penting diperhatikan. Karena gambar visual karakter dan tokoh cenderung lebih melekat di otak dari pada kalimat dan kata. Dan komik adalah salah satu media yang kini rentan disusupi oleh pornografi terselubung.

Komik sejarah atau biografi tokoh dapat menjadi pilihan bijak untuk koleksi media baca

Yuk lebih selektif dan waspada.
Tebarkan semangat literasi, dan tetap bijak memilih asupan media baca bagi keluarga.
Semoga bermanfaat....

#sahabatkeluarga
Read more

Senin, 09 September 2019

KORAN DAN DEGRADASI BAHASA ( ATAU MORAL?)

Belum lama ini saya menulis tentang koran dan budaya literasi keluarga. Barangkali masih ada yang ingat... Atau bagi yang belum membacanya, silahkan meluncur ke Koran dan Budaya Literasi Keluarga.

Sumber: www.google.com

Dalam artikel tersebut saya  mengulas beberapa alasan, mengapa koran tetap penting hadir dalam ruang baca keluarga sebagai salah satu materi penunjang budaya literasi keluarga.

Dan kemudian, saya menemukan kembali, alasan yang mendukung untuk menggalakkan serta melestarikan kembali budaya membaca koran atau majalah di tengah keluarga.

Sebagai seorang guru BK (Bimbingan Konseling), saya kerap menghadapi dan menangani berbagai hal yang menimbulkan ketidaknyamanan akibat gesekan pergaulan para siswa di sekolah.
Dan selama beberapa tahun terakhir ini, permasalahan sosial antar siswa umumnya bermula dari gawai dan media sosial. 


Sumber: www.google.com
Termasuk yang baru-baru ini terjadi di sekolah menengah pertama (SMP) tempat saya mengajar. Perkara yang terlihat sepele namun ternyata berbuntut panjang hingga melibatkan puluhan siswa, guru, wali kelas hingga orangtua murid.

Berawal dari dua orang sahabat sekaligus teman sebangku yang saling memberi julukan atau panggilan sayang di antara mereka. Sebut saja mereka Mawar dan Anggrek.

Anggrek menciptakan panggilan sayang untuk Mawar dengan sebutan Mago (Mawar Bego). Demikian pula sebaliknya, Mawar pun menyebut Anggrek dengan panggilan Anggo (Anggrek Bego).

Panggilan sayang ini mereka gunakan satu sama lain, tanpa ada di antara mereka berdua yang merasa terganggu. Tidak juga merasa direndahkan, tidak merasa dilecehkan, pun tidak merasa di-bully secara verbal.

Kerap menggunakan panggilan ini setiap hari, sehingga akhirnya seluruh teman satu kelas pun memanggil mereka dengan singkatan Mago dan Anggo. Bahkan melebar hingga ke teman-teman ekskul dari kelas lain.

Hingga suatu ketika, Mawar dijemput sang Ayah dan adik saat pulang sekolah. Di gerbang sekolah, salah satu teman berkata dengan riang gembira, "Dadah Magooo... Sampai ketemu besok ya Magooo, Mawar Begooo..."
Mawar pun menanggapi santai dengan keceriaan yang sama.

Menjadi masalah saat kemudian si adik bercerita kepada ibunda di rumah. "Mama.. Kok kakak dikatain Mawar bego sih sama temannya?"
Sang ibu langsung meradang. Dan mengambil kesimpulan instan bahwa anak tercintanya telah menjadi korban bully oleh teman-teman sekelas. Khawatir si anak menjadi pihak marjinal yang tak berani melawan, bahkan tak mampu bercerita kepada ibunda.

Sumber: www.google.com

Malam itu juga, sang Ibu melaporkan kejadian tersebut kepada wali kelas. Dan wali kelas segera mengambil tindakan persuasif kepada siswa sekelas.

Sekitar seminggu kemudian, hal yang sama kembali terulang. Malangnya, kali ini sang Ibu mendengar sendiri dengan telinganya. Saat sedang bersama Mawar mengunjungi guru-guru di sekolahnya terdahulu (SD), salah satu teman menelepon Mawar. Dan Mawar berbicara dengan pengeras suara ponsel yang diaktifkan.

Di penghujung percakapan, kembali teman tersebut berkata, "Sudah dulu ya Magooo, Mawar Bego...".
Ibunda dan para guru SD yang mendengar sontak meradang seketika. Para guru SD Mawar menyarankan sang Ibu untuk melaporkan hal tersebut kepada Tim BK sekolah, bahkan bilamana perlu juga ke Kepsek.

Dan itulah yang dilakukan ibunda. Datang ke ruang BK sekolah dengan berderai air mata. Merasa tidak terima anaknya disebut bego. Tidak terima anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, perhatian, diberi makan dan gizi, anak kebanggaan yang berprestasi, ternyata mendapat hinaan dari teman-teman di sekolah.

Kasus kemudian berkembang dengan pemanggilan semua siswa yang pernah menyebut Mawar dengan sebutan Mago (Mawar Bego). Terjaring puluhan siswa.

Setelah ditelusuri, ternyata Mawar bukan lah korban bully verbal. Bukan pula pihak marjinal. Karena Mawar pun pernah menyebut beberapa temannya dengan sebutan anak haram, Anggrek Bego dan lain sebagainya.

Namun bukan berarti pula bahwa Mawar adalah pihak dominan yang melakukan penghinaan verbal kepada teman-temannya. Tidak ada korban atau pun pelaku perisakan/bully dalam kasus ini.
Semua siswa ini berada di posisi yang seimbang.

Mereka saling ngatain, saling menghina, saling memanggil dengan sebutan yang merendahkan, saling memberi julukan dengan istilah yang kurang positif.
Intinya....
Telah terjadi degradasi bahasa yang menjadi budaya di antara siswa milenial ini.


Menurunnya kualitas berbahasa para siswa ini menarik perhatian saya untuk menggali lebih dalam. Dan membuat saya melakukan beberapa eksperimen sosial di dalam kelas, mau pun di Ruang BK.

Saat kegiatan belajar mengajar Bimbingan Konseling di kelas, saya sempat meminta para siswa untuk saling menyebutkan sisi positif teman-teman sekelas. Dan ternyata cukup banyak kosakata ajaib yang terlontar dari bibir para siswa ini.

"Si A anaknya asyik bu, suka mabar."
"Si B orangnya keren,, karena dia barbar."
"Anjayyyy... Dia sih anaknya bucin banget bu..."

Wewwww..
Saya sempat mengerutkan kening, barbar itu dianggap keren?
Apakah sudah terjadi pergeseran makna kata "barbar" dari apa yang tertera di KBBI ya....?

Dan ketika saya tanyakan apa yang dimaksud dengan mabar, barbar, bucin, anjayyy, anjirrr...
Ternyataaaa..
Para siswa ini sempat kesulitan untuk mendeskripsikan makna kata-kata tersebut dengan menggunakan kalimat baku dan kosakata yang baik dan benar.

Setelah menggali lebih dalam karakteristik para siswa yang dijuluki mabar, barbar, bucin dll...
Saya menyimpulkan bahwa mabar adalah akronim dari "main bareng", yang berarti mereka sering berinteraksi atau melakukan kegiatan bersama.
Barbar adalah anak yang memiliki keberanian dan percaya diri sangat tinggi, namun terkadang melakukan tindakan spontan tanpa pikir panjang
BuCin singkatan dari budak cinta, julukan ini disematkan pada mereka yang sedang mengalami kasmaran masa puber dan naksir lawan jenis.

Lalu dimana mereka mendengar istilah-istilah kekinian tersebut?
Mudah ditebak jawabannya, dari tayangan youtube dan ig story para selebritis internet.

Sempat saya meminta para siswa untuk menunjukkan pada saya, tayangan-tayangan yang mereka gemari di internet. Dan saat saya menontonnya bersama mereka, saya jadi memahami mengapa tata bahasa generasi milenial ini sangat menurun kualitasnya dibandingkan generasi 90-an.

Kata-kata yang bagi telinga generasi terdahulu terasa kasar, tak pantas dan tak sopan, kini dianggap lumrah untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Yah seperti julukan-julukan barbar, bego, tolol, anak haram dan lain sebagainya. Tidak ada niat untuk melecehkan atau menghina saat mereka saling mengucapkan itu. Bahkan seringkali dianggap sebagai bahan canda di antara mereka. Namun bagi para orangtua yang mendengarkan, tentu akan beda sikap menerimanya.

Degradasi tata bahasa ini kemudian diasumsikan oleh para generasi tua sebagai degradasi moral perilaku generasi milenial.

Bagi generasi lawas, para remaja ini dianggap tidak sopan, kurang beradab, tak memiliki manner bila ditilik dari pemilihan kata yang diucapkan sehari-hari.
Walau bagaimana pun, benar adanya makna salah satu filosofi Jawa kuno:

Ajine diri ono ing lathi: harga diri seorang manusia itu terletak di ujung lidahnya. Kata-kata yang diucapkan, akan menunjukkan kualitas diri seseorang.

 Kesulitan yang dialami para remaja tanggung ini untuk mendeskripsikan sesuatu dengan menggunakan tata bahasa dan kosakata yang baik dan benar, menunjukkan bahwa mereka minim perbendaharaan kata yang baku, baik dan benar.



Lalu apa penyebab minimnya kosakata yang baik dan benar pada generasi milenial?

1. Sumber Informasi Digital Populer
Hal ini dapat dimaklumi saat kita mengetahui sumber asupan informasi yang mereka terima dari berbagai media digital.
Jika tontonan dengan tata bahasa kacau yang menjadi sumber informasi sehari-hari, maka tidak mengherankan apabila aneka kosakata alay tersebut yang menjadi koleksi dalam memori otak mereka.

Walau cukup banyak sumber informasi resmi di laman internet yang menggunakan tata bahasa baku, namun para remaja cenderung lebih memilih melihat tayangan populer dengan penggunaan bahasa gaul kekinian.


2. Kurang Membaca Media Literasi Cetak
Minimnya minat remaja untuk membaca media cetak, juga turut memiliki andil dalam degradasi bahasa ini.

Padahal, artikel cetak atau digital yang paling ringan sekalipun, biasanya tetap berada dalam koridor penggunaan tata bahasa dan kosakata yang baku. Sehingga bagi mereka yang membacanya, secara tidak langsung dapat menjadi suplai asupan koleksi perbendaharaan kata yang baik dan benar untuk dapat terekam dalam memori otak.


Masalahnya adalah:

 Para remaja ini mayoritas tidak akan mengakses dan membaca artikel-artikel tersebut dengan inisiatif sendiri. Sebab mereka kebanyakan telah lebih dulu terpapar tayangan audio visual sejak balita, jauh sebelum mereka mengenal huruf dan bisa membaca. 
Maka sumber informasi yang hanya bersifat visual tanpa suara, tanpa gerak dinamis tentu saja kurang menarik perhatian untuk dilirik.

Saya kemudian mencoba menggunakan wewenang sebagai seorang guru untuk menggiring mereka membaca artikel dari sumber media cetak. Membaca sumber literasi yang menggunakan kosakata baku yang baik dan benar.

Pojok Baca Bimbingan Konseling di Ruang BK

Kebetulan di dalam Ruang BK sekolah tempat saya mengabdi, ada Pojok Baca dengan berbagai macam buku, jurnal ilmiah, novel inspiratif bahkan komik. Dan setiap jam istirahat tiba, ada saja siswa yang berkunjung ke Ruang BK untuk sekedar berbincang santai atau bermain gitar.

Setiap hari saya coba meminta para siswa ini untuk membaca sumber literasi cetak apa saja yang ada di Pojok Baca, dan menceritakan secara lisan kepada saya isi artikel yang telah mereka baca. Saya bebaskan mereka untuk memilih sumber bacaan yang mereka inginkan.

Fakta menarik yang terjadi dan tidak saya duga adalah, mayoritas dari remaja milenial ini memilih untuk membaca koran dan jurnal ketimbang sumber literasi populer seperti novel atau komik. 

Beberapa contoh Koran dan Jurnal yang dipilih siswa untuk dibaca
               

Dan hal ini terjadi berulang-ulang. Padahal asumsi saya semula, kedua jenis bahan baca yang tergolong berat tersebut tidak mungkin akan dilirik oleh para remaja kekinian. Itu pula alasan saya menyediakan novel dan komik di Pojok Baca BK, agar para siswa tertarik untuk membaca.

Lalu apa sesungguhnya alasan yang mendasari para siswa ini lebih memilih koran dan jurnal ketimbang buku, novel atau komik?



Panjang Artikel 
Jumlah kata pada artikel dalam koran, majalah atau pun jurnal tentu tidak bisa dibandingkan dengan buku dan novel.
Betapa pun menariknya tema novel/ buku/ komik, jumlah kata serta paragraf yang tak terhitung banyaknya sudah lebih dulu menjadi momok yang menyurutkan rasa tertarik para remaja ini. Apalagi bagi mereka yang memang belum memiliki budaya membaca.

Durasi Waktu 
Terlahir sebagai generasi yang serba instan, lama atau sebentar durasi waktu yang diperlukan untuk membaca juga menjadi alasan para remaja ini lebih memilih jurnal ketimbang komik.
Durasi waktu yang diperlukan untuk membaca satu artikel dalam koran/majalah/jurnal cukup memakan waktu beberapa menit. Pastinya jauh lebih cepat dari pada waktu yang tersita untuk membaca buku atau komik yang bisa memakan hitungan jam, bahkan hari.

Tidak membosankan
Dalam tiap edisi koran/majalah/jurnal terdapat beragam artikel dan informasi yang dapat dipilih. Siswa sebagai pembaca dapat memiliki pilihan untuk membaca topik yang menarik minatnya saja. Sedangkan buku, novel atau komik hanya memiliki satu tema cerita yang sama sepanjang ratusan halaman.

Perlu digarisbawahi, para remaja usia 12-15 tahun ini terlahir di era digital yang cenderung serba instan ketimbang beberapa dekade lalu.

Ditambah dengan fakta, bahwa topik apa pun yang kini tersaji di media literasi cetak dalam wujud visual, umumnya dapat juga diperoleh versi digitalnya dalam skema audio visual yang jauh lebih variatif dan menarik.

Karena itu untuk mengenalkan dan membiasakan para remaja ini membaca media literasi dalam koridor tata bahasa yang baik dan benar, bahan membaca yang padat, tidak terlalu panjang dan tidak bertele-tele (seperti artikel koran/jurnal/majalah) merupakan pilihan yang lebih tepat, sebelum melakukan upaya untuk menstimuli mereka membaca buku dan karya sastra lain.

Realita yang terjadi di Pojok Baca BK, ruang kerja saya, selama beberapa bulan terakhir ini bagi saya cukup menjadi fakta yang membuktikan bahwa:

  • Artikel-artikel singkat, padat, jelas yang termuat dalam koran/majalah/jurnal dapat berperan cukup efektif untuk memberi suplai koleksi kosakata yang baik dan benar bagi para remaja milenial.
  • Koran, majalah dan jurnal dalam versi cetak masih relevan untuk tetap digunakan pada era digital ini. 
Dan akhirnya,
Koran, majalah dan jurnal ternyata memiliki peran cukup penting tidak hanya bagi dunia literasi, tapi lebih jauh lagi bagi pembentukan moral dan karakter generasi milenial.

Jadi.....
Mari para sejawat orangtua...
Yuuuk... tetap hadirkan koran dan majalah dalam ruang-ruang keluarga di rumah kita.
Karena koran dan majalah  dapat menjadi koleksi media baca yang murah meriah dan sarat manfaat bagi pembentukan karakter generasi muda penerus bangsa ini.

#sahabatkeluarga
Read more

Selasa, 03 September 2019

From International Symposium Of Education 2019


Kemarin saya berkesempatan untuk hadir dalam International Symposium On Education di Gedung A, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Simposium sehari ini termasuk dalam rangkaian gelaran Indonesia International Book Fair 2019 yang diprakarsai oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). Ajang ini sendiri akan berlangsung selama 4-8 September 2019 di JCC, jakarta.


Dan sungguh tidak rugi menghadiri simposium ini. Deretan narasumber yang cetar membahana, merupakan para ahli di bidangnya dari dalam dan luar negeri. Garis hubung tema simposium ini secara umum adalah keterkaitan antara dunia pendidikan dengan buku.

Nah jadiiiii..
Kali ini saya ingin membagikan beberapa hal yang menurut saya menarik untuk digarisbawahi dan menjadi catatan penting bagi diri ini.

Tantangan-Pencapaian-Kepuasan
Apa sih korelasi antara ketiga hal tersebut?
Bagaimana mungkin tantangan hidup dapat membuat seorang individu merasa bahagia dan bernilai?
Paparan dari Rhenald Khasali ini adalah salah satu yang paling jleb untuk saya.


Menurut Pak Rhenald, tantangan hidup dapat menstimuli keluarnya hormon dophamine atau hormon bahagia dalam tubuh yang sangat penting untuk kesehatan seluruh organ.

Bagaimana bisa?
Karena saat mendapat tantangan, manusia akan berusaha untuk mengatasi dan mencari solusi. Setelah dapat mengatasi, maka hal ini akan menjadi salah satu pencapaian dalam hidup. Pencapaian dan keberhasilan menghadapi tantangan akan menimpulkan kepuasan batin. Yang dapat berujung pada kebahagiaan individu.

Dan menurut Pak Rhenald, semua anak membutuhkan perasaan ini. Oleh karena itu, setiap orang membutuhkan tantangan hidup,agar bisa merasakan kepuasan batin, juga merasa bahwa dirinya "berarti".

Sekolah adalah taman bermain
Dalam simposium ini, Rhenald juga mengutip petuah Ki Hajar Dewantara saat mendirikan sekolah Taman Siswa.


Bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang tidak membosankan. Sekolah harus menjadi tempat yang dirindukan oleh siswa. Dan sekolah juga menjadi salah satu pusat kegiatan, ibarat taman bermain yang selalu menyenangkan untuk didatangi.
Dan guru memegang peranan sangat penting untuk mewujudkan sekolah yang dirindukan anak.

Kenali dirimu
Selain Rhenald Khasali, narasumber lain dalam simposium ini adalah Heru Widiatmo, seorang doktor lulusan University of Iowa.


Beliau mengatakan, "Tak perlu ngoyo untuk menjadi yang terbaik. Tapi cukup kenali saja diri sendiri. Pahami kelebihan dan kekuranganmu. Agar bisa mengoptimalkan kelebihan, dan meminimalisir efek dari kekurangan yang kita miliki."

Waaaah jleb banget juga nih...
Dan tahukah moms, bahwa ternyata seorang pakar seperti Pak Rhenald Khasali pun pernah mengalami tinggal kelas looooh...

Pak Rhenald juga sempat bercerita, bahwa beliau pernah mengalami variasi jalan hidup. Dari prestasi akademik, beliau pernah berada di posisi buncit paling akhir di kelas.
Pernah tinggal kelas.
Juga pernah berada di posisi puncak secara akademis.
Dan ternyata, "Saya merasa lebih bahagia saat berada di posisi bawah. Sebab mempertahankan posisi puncak itu membuat rawan stress...", kata Pak Rhenald.

Kisah masa lalu para narasumber ini juga menjadi catatan berharga bagi saya.
Bahwa proses hidup itu ternyata tak pernah berhenti.
Sebagai ibu, hal ini mengingatkan saya agar tak jumawa atau pun kecewa berlebih dengan segala prestasi dan tingkah polah anak-anak.

Karena roda hidup akan selalu berputar. Terkadang di atas, besok bisa di bawah. Yang terpenting adalah terus bergerak. Tidak pernah berhenti atau menyerah menghadapi tantangan hidup.

Saya jadi tak sabar menanti deretan ilmu kehidupan lain yang akan tersaji dalam gelaran Indonesia International Book Fair 2019 di JCC nanti. Karena ternyata buanyaaaak loh agenda dan narasumber lain yang tak kalah cetar disana nanti.

Yup...
Di IIBF tak cuma ada jajaran buku berbaris rapi loh. Tapi juga ragam talkshow,  mini seminar, dan lain lain...
Cek jadwalnya nih...



See you there yaaaaaa moms...






Read more
Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.
 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *