Selasa, 17 Maret 2020

Tetap Segar Saat Sakit, Tangkal Kuman dengan Vitalis Body Wash


Mandi parfum Vitalis Body Wash

Vitalis Body Wash dapat memberi sensasi mandi parfum kelas premium, pasti semua kaum feminis sudah memahami. Bagaimana tidak, saat ini  Vitalis merupakan market leader di  pasar wewangian perempuan. Dan kini Vitalis ingin membawa para pakar di bidang parfum ke dalam produk Body Wash.

Kawin silang produk fragrance dan sabun ini tentunya sudah melalui serangkaian riset serius, sehingga menghasilkan produk yang pasti memberi keuntungan lebih bagi kulit cantik kaum hawa.

Namun tahukah bahwa Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash tak hanya mampu memberikan sensasi mandi parfum dengan harga sangat terjangkau? Produk ini pun dapat sangat membantu menjaga kesehatan keluarga kami loh.

Rangkaian seri Vitalis Body Wash


Mandi Parfum saat Sakit dengan Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash

Vitalis Body Wash sering memberi kemudahan hidup bagi kami sekeluarga akhir-akhir ini. Penyebabnya adalah cuaca Ibukota yang sedang seru belakangan ini. Perubahannya kadang terasa menggemaskan. Panas terik dengan matahari menyilaukan saat pagi dan siang hari. Lalu tiba-tiba bisa berubah menjadi hujan, mulai dari level rintik syahdu hingga deras menggelegar.

Guyuran hujan yang tiba-tiba menerpa saat kami tengah berada dalam perjalanan pulang atau pergi ke tempat kerja atau sekolah, tentunya memberi dampak bagi kesehatan.

Apalagi jika rezeki yang tercurah dari langit ini dalam format rintik halus namun dengan durasi waktu panjang. Sehingga memaksa saya nekat menerabas hujan untuk tiba di rumah, sebab telah sekian jam menanti tak ada tanda hujan terhenti.

Imbasnya adalah, kondisi kesehatan keluarga yang menurun. Drop!
Demam, meriang, masuk angin dan flu bergiliran menerpa seluruh anggota keluarga. Termasuk saya.

Manakala kondisi fisik tidak fit, lemas tak berdaya, salah satu hal yang menjadi momok adalah: m.a.n.d.i

Terkena siraman air dingin saat badan meriang itu rasanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kebetulan juga kamar mandi rumah kami tak memiliki fasilitas water heater. Dan untuk bolak-balik merebus air panas untuk mandi, butuh perjuangan ferguso.

Padahal, saat suhu tubuh di atas normal, maka seringkali keringat turut membanjir sebagai wujud kerja imun tubuh menormalkan suhu badan. Efeknya tubuh terasa lengket karena keringat.

Idealnya, harus sering bersiram dan ganti pakaian untuk menjaga higienis tubuh. Juga agar kuman tak datang menempel pada permukaan kulit dan kain yang lembab. Namun daya untuk mandi terkadang sudah habis. Apalagi jika harus merebus dulu air panas untuk mandi.
 Lalu bagaimana solusinya?

Alhamdulillah, untung saja ada stok Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash di rumah. Sehingga kesegaran dan higienis tubuh saat sakit tetap terjaga. Saya biasa memanfaatkan bantuan Vitalis Body Wash ini untuk berseka dengan lap handuk saat warga rumah tak mampu mandi dengan kondisi normal. Begini caranya:

1. Siapkan air hangat dalam wadah (baskom atau mangkuk).

2. Tuangkan satu sendok Vitalis Body Wash.



3. Aduk hingga merata.



4. Celupkan Washlap atau handuk kecil ke dalam wadah air sabun.



5. Peras washlap atau handuk kecil.



6. Gunakan washlap untuk menyeka seluruh bagian tubuh. Untuk menghilangkan segala aroma dan potensi kuman yang menempel.

Setelah itu, boleh seka sekali lagi dengan washlap atau handuk yang telah dibasahi air hangat tanpa campuran Vitalis Body Wash. Namun bila tidak pun tak mengapa.

Sebab  selain aroma parfum, para pakar dalam jajaran tim produksi Vitalis Body Wash sangat memahami bahwa para penikmat mandi parfum juga menyukai sabun mandi yang tidak membuat kulit kering. Sehingga peranan moisturizer atau pelembab dalam formula sangatlah penting.

Demi memastikan kelembaban kulit setelah pemakaian, maka para pakar di Vitalis menambahkan moisturizer dengan kualitas terbaik. Agar penikmat Vitalis tak perlu khawatir kulit menjadi kering.


Untuk pemakaian di kala sakit ini saya  lebih memilih varian Vitalis Body Wash Fresh Dazzle yang memberikan manfaat Skin Refreshing untuk kulit terasa segar, halus  dan lembut.


Varian Fresh Dazzle ini memiliki aroma yang mampu memperbaiki mood. Menjadi alasan utama pilihan pada varian ini. Karena saat kondisi fisik tak fit, umumnya emosi dan mood pun turut kacau.

Parfum yang digunakan untuk varian ini diawali dengan  segarnya wangi Bergamot, diikuti wangi Floral Bouquet yang elegan feminin dan ditutup dengan Musk Amber yang tahan lama.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Fresh Dazzle, juga diperkaya dengan ekstrak Yuzu Orange dan anti oksidan dari Green tea, yang menjaga kulit terasa lebih bersih, wangi, segar dan terawat.

Sehingga walau dalam kondisi sakit pun, aroma wangi tubuh saya tetap semerbak dan tak mengganggu penciuman penghuni rumah, terutama suami. Wangi kesegaran buah khas Yuzu Orange memang paling pas untuk kondisi lemas tak berdaya.

Jadi tak hanya dimanjakan dengan sensasi mandi parfum saat sakit, efek relaksasi yang ditimbulkan oleh aroma Green Tea yang lembut juga sangat menenangkan. 

Saat sedang sakit pun, kami sekeluarga tetap dapat menikmati sensasi mandi parfum. Tak hanya mampu menangkis aroma tak sedap dan mengatasi bad mood kala sakit, masih ada loh manfaat lain Vitalis Body Wash bagi kesehatan.

DIY Soap Sanitizer

Hand sanitizer menjadi salah satu menu belanja favorit, bahkan menjadi langka sebulan terakhir ini. Tak lain dan tak bukan adalah karena pandemi Virus Corona yang mendera separuh bumi.

Tingginya permintaan pasar pada kebutuhan hand sanitizer pun membuat harganya meroket tinggi. Hingga akhirnya banyak pakar farmasi yang membagikan tips membuat hand sanitizer sendiri di rumah.

Saya pun termasuk kalangan yang tertarik untuk mencoba membuat sendiri. Dan setelah membaca berbagai sumber, saya jadi tahu ternyata ada beberapa formula yang dapat digunakan untuk meracik sanitizer di rumah. Sekaligus menambah wawasan saya, bahwa ternyata penggunaan sabun dan air mengalir tetap masih lebih efektif untuk membunuh kuman dan virus ketimbang hand sanitizer.

Sumber: www.google.com


Hand sanitizer memiliki keunggulan dalam sisi kepraktisan pemakaian, karena tak perlu repot mencari sumber air saat sedang berada di luar rumah. Memakai cairan alkohol pun sebenarnya sudah cukup untuk membasmi kuman. Namun alkohol murni dapat memberi resiko kering pada kulit tangan. Karena itu perlu ditambahkan unsur tambahan yang mampu melembabkan. Bisa menggunakan aloe vera, gliserin atau  baby oil.

Kebetulan saya selalu sedia cairan alkohol di rumah, namun tak ada satu pun dari ketiga unsur tambahan tersebut. Maka saya pun teringat Vitalis Body Wash yang memiliki kandungan moisturizer berkualitas tinggi.

Rangkaian produk Vitalis Body Wash memiliki kandungan:




Menurut dua orang pakar farmasi yang saya kenal, kandungan cocamide/kelapa, yang ada dalam Vitalis Body Wash membuatnya memiliki sifat melembabkan yang tinggi. Ditambah kandungan antiseptik yang ada, maka dapat cukup efektif membunuh kuman.



Jadi saya pun memanfaatkan saja apa yang ada di rumah untuk membuat sanitizer sendiri. Selain lebih hemat, ternyata gel aloe vera dan gliserin juga tidak mudah lagi diperoleh di sekitar rumah saya.

Bahan-bahan yang saya gunakan adalah Vitalis Body Wash, air mineral dan cairan alkohol.



Sebagai wadah, saya memanfaatkan botol spray yang dijual bebas. Tak lupa disterilkan terlebih dulu sebelum digunakan. Berikut langkah-langkah pembuatan soap sanitizer rumahan.

Tuang Vitalis Body Wash dan air mineral ke dalam botol spray.




Tuang cairan alkohol ke dalam botol spray,



Lalu kocok agar tercampur rata.
Komposisi perbandingan penggunaan Vitalis Body Wash : air mineral : alkohol adalah
2:1:7
Soap sanitizer buatan sendiri pun siap digunakan. Semprotkan 2-3x ke telapak tangan, dan gosokkan seperti menggunakan hand sanitizer biasa.



Idealnya, setelah pemakaian sanitizer buatan sendiri ini tetap harus diakhiri dengan membilas tangan menggunakan air mengalir. Penggunaan sanitizer ini, saat berada di rumah cukup menghemat pemakaian air dan sabun cuci tangan. Karena tak perlu membasahi air terlebih dulu sebelum memakai sabun. Dan penggunaan sabun cair menjadi lebih terkontrol.

Namun jika sedang berada di tempat umum, sanitizer ini sangat praktis digunakan tanpa harus bingung mencari sumber air mengalir untuk membilas busa sabun. Cairan alkohol yang dominan membuat busa sabun nyaris tak ada. Sehingga proses pembilasan dapat ditunda hingga menemukan sumber air.

Untuk kebutuhan membuat soap sanitizer rumahan ini, pilihan saya jatuh pada varian Soft Beauty. Karena spesialisasinya memberikan manfaat Skin Nourishing untuk membuat kulit terasa halus, lembut dan terawat. Parfumnya dibuka dengan wangi segar yang higienis dari Fruity Aldehydic, dilanjutkan dengan wangi Rose & Violet yang feminin, diakhiri dengan manisnya Tonka Bean & Sandalwood yang premium.



Dan yang utama Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Soft Beauty, diperkaya dengan ekstrak Avocado dan Vitamin E, untuk membantu menjaga kulit tetap lembab, terasa kenyal halus dan  lembut. Kandungan ini sangat diperlukan untuk mengimbangi kadar cairan alkohol yang berpotensi membuat kulit kering.

Dan setelah kurang lebih seminggu ini menggunakan soap sanitizer rumahan ini dalam beragam aktivitas, alhamdulillah tak ada keluhan kulit kering yang kami sekeluarga rasakan.

Tertarik untuk coba membuat juga di rumah?

Di tengah serangan Virus Corona, selalu harus jaga kebersihan tubuh ya maaaak...
Yuk tingkatkan ikhtiar dan kewaspadaan. Termasuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Jaga juga kesehatan dengan asupan gizi yang cukup.

Stay safe
Stay at home
Keep social distancing
Solitaire is solidarity


Read more

Senin, 17 Februari 2020

Potensi Wisata Edukasi Jatinangor

Sumber: www.google.com


Sumedang adalah salah satu kota tetangga terdekat Bandung. Seantero nusantara kerap mengaitkan Sumedang dengan diksi TAHU.

Ya.
Tahu Sumedang memang melegenda. Makanan khas yang disukai banyak kaum ini memang memiliki tekstur yang berbeda dari kebanyakan jenis tahu yang lain.

Identik dengan kata TAHU, membuat orang seringkali lupa dengan keindahan alam serta ragam potensi wisata Sumedang yang lain. Antara lain wisata budaya tradisional dan wisata sejarah Sumedang.

Sumber: www.google.com


Potensi wisata di Sumedang memang masih kalah pamor dibandingkan Tahu khas Sumedang. Padahal tak sedikit menu wisata yang bisa dinikmati di Sumedang.

Salah satu potensi wisata yang layak diperhitungkan untuk dikembangkan di Sumedang adalah Wisata Pendidikan. Karena selama ini identitas Kota Pendidikan telah terlanjur tersemat untuk Yogyakarta, banyak yang terlupa, bahwa Sumedang adalah kota tempat bernaung beberapa Perguruan Tinggi Negeri besar dan favorit di negara ini.




Jatinangor.
Adalah satu kata untuk sederet kampus perguruan tinggi bergengsi Top 10 bangsa ini. Kampus-kampus Perguruan Tinggi Negeri terbaik bermarkas di wilayah ini.
Kampus incaran jutaan pelajar, dengan persaingan ketat dan upaya luar biasa untuk bisa menembusnya.

Sebut saja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (UNPAD).
Semua merupakan jajaran perguruan tinggi idaman karena dianggap menjanjikan masa depan cerah.

IPDN
IPDN memiliki pamor tak kalah dengan STAN. Berhasil menjadi mahasiswa IPDN tentunya tidak bisa dianggap sebagai prestasi yang sepele. Kampus ini bernaung dibawah Departemen Dalam Negeri. Sehingga semua mahasiswa langsung terikat dalam ikatan dinas. Yang artinya, setelah lulus kuliah mereka tak perlu pusing lagi melamar pekerjaan. Karena akan langsung bertugas sebagai ASN di instansi terkait.

Sumber: www.google.com


ITB
Siapa yang tak tahu gaung institut ini? Mungkin bukan warga negara Indonesia. Digadang sebagai perguruan tinggi terbaik di nusantara. Beberapa presiden dan banyak menteri adalah alumni ITB. Bahkan Bapak Proklamator kita pun pernah mengecap pendidikan disini. Memiliki ijazah ITB cukup menjadi jaminan mutu kapasitas seorang sarjana di mata banyak instansi dan perusahaan.

Sumber: www.google.com


Universitas Padjadjaran
Kampus yang satu ini pun tak kalah ketat persaingannya. Terlebih untuk jurusan-jurusan Ilmu Sosial. Walau tidak menjamin pekerjaan bagi para lulusannya dalam ikatan dinas, namun popularitas dan kreativitas mahasiswa UNPAD dikenal tak kalah dengan beberapa PTN lain di tanah air. sehingga para lulusannya cukup diminati oleh perusahaan pencari karyawan.

Sumber: www.google.com

Animo masyarakat Indonesia untuk bisa menimba ilmu di ketiga PTN tersebut sangat besar. Sehingga informasi detil berkaitan dengan IPDN, ITB dan UNPAD juga cukup banyak dicari, terutama oleh para siswa setingkat SMA.

Misalnya informasi tentang jurusan apa saja yang ada di kampus tersebut. Peluang kerja lulusan dari jurusan-jurusan tersebut akan bergerak di bidang apa. Berapa detil rinci biaya pendidikan tiap jurusan. Hingga informasi pondok kost atau asrama mahasiswa di sekitar Jatinangor.

Fakta-fakta tersebut dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi potensi wisata pendidikan yang cukup menjanjikan. Pemerintah kota Sumedang, atau pun pihak swasta, dapat bekerja sama dengan kampus-kampus tersebut. Misalnya dengan menyelenggarakan Tour de Campus. Dengan sasaran utama peserta adalah para siswa SMA-SMP yang berminat melanjutkan studi di salah satu kampus tersebut.

Dapat dirancang paket wisata yang akan mengajak para peserta untuk berkunjung menjelajah setiap jengkal isi kampus. Memperkenalkan para peserta pada kegiatan akademis maupun non akademis di kampus. Memberi sesi informasi tentang semua jurusan yang tersedia di setiap kampus. Juga peluang kerjanya di masa depan.
Sumber: www.google.com


Penyelenggara paket wisata juga dapat membawa para peserta melakukan kunjungan informatif ke berbagai rumah kost dan asrama mahasiswa di Jatinangor. Agar para peserta mendapat gambaran nyata kehidupan sehari-hari di Jatinangor. Termasuk perkiraan biaya hidup sebagai mahasiswa di sana.

Potensi wisata edukasi ini sangat layak dikembangkan. Karena dunia pemdidikan pun kini sudah memasuki era industrialisasi pendidikan. Dan bagi kebanyakan orangtua, pendidikan yang tepat bagi anak adalah wujud kasih sayang dan bekal hidup terbaik yang dapat diberikan. Sehingga peluang wisata pendidikan ini pun bisa jadi akan sangat diminati para pelajar beserta orangtua mereka.
Read more

Kamis, 23 Januari 2020

Ting! Kisah Ketegaran, Karakter Positif dan Ketulusan



"Ayah, lihat aku.. Aku jaga kehormatanmu, Ayah. Aku tidak mencuri, aku tidak mengemis. Aku bekerja keras untuk mendapatkan makanan ini." begitu seru Ting kecil kepada langit, berharap arwah Sang Ayah menyaksikan perjuangannya.

Kalimat tersebut diucapkan Ting kecil yang berusia 7 tahun, sesaat sebelum memasukkan suapan pertama makanan sampah sisa-sisa dari piring pengunjung kantin dari kantung plastik ke mulutnya.

Ketika itu, sudah tiga hari Ting Kecil tidak makan karena terusir dari rumahnya sendiri setelah kematian ayahanda tercinta. Rasa lapar tak tertahan membuat Ting kecil nekat menawarkan jasa cuci piring ke pemilik kedai makan, agar diperbolehkan membawa pulang sisa-sisa makanan pengunjung. Sisa makanan dari banyak piring kemudian dikumpulkannya ke dalam satu kantung plastik.



Bagi saya yang banyak berkecimpung di ranah pendidikan keluarga, karakter pejuang yang tertanam pada diri Ting kecil sangat mengesankan. Bagaimana seorang anak usia 7 tahun, sudah memahami tentang kehormatan diri sendiri, dan menjaga kehormatan orangtuanya. Mampu mempertahankan kejujuran walau dalam kondisi terdesak.

Peran ayahanda semasa hidupnya pasti sangat kuat tertancap dalam ingatan Ting, walau hanya sempat bersama selama 7 tahun. Rasa kagum tak pelak menyelinap dalam benak saya, entah bagaimana cara orangtua Ting membentuk karakter kedua anaknya di masa itu.



"Kita tidak bisa memilih untuk dapat terlahir dari orangtua yang seperti apa. Tidak semua orang beruntung memiliki ortu yang baik, yang penuh kasih sayang.

Tapi itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk menjadi sosok yang tidak baik. Bukan alasan untuk mendendam. .
Jadikan itu pemicu untuk kita menjadi orangtua yang lebih baik bagi generasi mendatang. Karena tidak semua orang juga punya kesempatan untuk menjadi orangtua dan memiliki anak." ujar Tommy Wong

Novel Ting! adalah kisah perjalanan hidup ala sinetron stasiun tivi ikan terbang yang ternyata ada di dunia nyata. Dalam sesi peluncuran novel yang berlokasi di Gramedia Central Park ini, Tommy menceritakan kisah hidupnya yang dituangkan dalam novel ini.
.
Terlahir dari keluarga kaya raya, hidup Tommy atau Ting (panggilan kecilnya) berbalik ketika pada usia 7 tahun sang Ayah meninggal dan harta peninggalannya diperebutkan oleh para paman.

Hingga nyawa nya terancam. Hingga sang Ibu menjadi gila karena hidup selalu dalam siksaan fisik dan ancaman pembunuhan. Hingga terpaksa menggelandang, hidup di terminal bus bersama para anak jalanan, putus sekolah, juga pernah makan dari makanan sisa di piring-piring pengunjung kantin.

Semua tak menghalangi Tommy untuk bekerja keras secara jujur terhormat dan meraih sukses di dalam dan luar negeri.

Novel ini mengajarkan perjuangan tanpa putus asa di titik terendah sekali pun.
Wajib dibaca para orangtua, para remaja, dan siapa saja yang sedang merasa terpuruk.



Ohya peluncuran novel ini juga dihadiri oleh Bapak Hasan Karman (mantan Walikota Singkawang), Ibu Dewi Motik (pengusaha) dan James Gwee (motivator).

Serius, baru kali ini momen peluncuran buku mampu membuat saya brebes mili berkali-kali mengusap air mata karena haru.

Novel ini bisa didapatkan di Toko Buku Gramedia terdekat dengan harga Rp 78.000 saja loooh...
#PeluncuranTING
@elexmedia
@blomilofficial
Read more

Selasa, 14 Januari 2020

BERJUANG DAN BOSAN



Another deep conversation with oldest boy few days ago.

Jadi ceritanya, cah lanang mbarep baru saja menyelesaikan masa PKL selama 6 bulan di salah satu hotel berbintang di Jakarta.

Rhuma (17y) antara sedih dan senang masa PKL berakhir. Senang karena akan kembali ke sekolah bersua guru dan teman-teman setelah selama 6 bulan tidak menginjakkan kaki di sekolah. Sedih karena dalam simulasi kerja nyata selama 6 bulan, Rhuma merasakan mendapat buanyak manfaat.

Lebih dari sekedar keahlian dan kompetensi meramu bahan dan bumbu yang meningkat, menurut Babang Uma, ilmu dan pelajaran hidup yang didapat jauuuuuuuh lebih banyak.

Tentang 'downgrade expectation'.
Tentang kerjasama tim.
Tentang kepekaan membaca situasi.
Tentang naluri dan intuisi.
Tentang memecahkan masalah kala terdesak kondisi.
Tentang keseimbangan antara kepercayaan diri mencipta dan menghasilkan ide baru, tanpa mengabaikan saran dan pendapat orang lain.
Tentang menghargai rekan sejawat.
Tentang inisiatif dan 'support system'.
Tentang keluwesan dan fleksibilitas tanpa terbawa arus negatif.

Dan masih banyak sekali kisahnya di pagi itu...

Dan sebagai penutup, inilah pelajaran hidup terbesar yang didapatnya:

"Uma jadi sadar Miy.. Ternyata hidup itu membosankan ya."

"Dari kecil rutinitas utama Uma kan sekolah. Rasanya bosan banget. Makanya waktu mau PKL tuh semangat. Uma pikir gak bakal bosan karena tantangannya lebih banyak di dunia kerja."

"Ternyata orang kerja juga sama aja ya. Bisa bosan juga. Awalnya aja waktu belum tahu apa-apa tuh rasanya penasaran, pingin tahu. Waktu sudah bisa, lama kelamaan bosan juga."

"Tapi kalau dipikir-pikir, semua rutinitas atau hal yang kontinyu itu emang pasti jadi bikin bosan ya."

"Orang yang ekonomi pas-pasan ngerasa bosan karena harus terus-terusan kerja keras.
 Orang yang banyak duit juga bisa bosan ngabisin duit.

Orang yang gak pernah kemana-mana bosan di rumah terus. Tapi orang yang pergi terus juga mungkin bosan naik pesawat melulu, pergi melulu.
Yang keluarganya bahagia bisa bosan karena hidup terlalu tenang.
Yang keluarga berantakan juga bosan ketemu masalah mulu"

"Uma jadi mikir, sebenarnya perjuangan hidup yang utama itu adalah bertahan hidup untuk mengatasi kebosanan (menjalani) rutinitas ya Miy...
Walaupun bosan, ya tetap harus bertahan.
Walau bosan, ya harus berjuang terus untuk tetap survive menjalani rutinitas... Harus survive mengalahkan rasa bosan."

"Nabi Musa dulu nyuruh Nabi Muhammad minta ke Alloh supaya waktu solat dikurangi dari 50x sehari jadi cuma 5 waktu aja.... Mungkin bukan karena ibadah solatnya yang berat dikerjain kali ya...

Tapi rasa bosan  melakukan hal yang sama berulang kali itu perjuangan utamanya ya.."

"Jadi kita ini Harus mikir, harus cari tantangan hidup yang positif, yang gak melanggar larangan di quran hadist, supaya gak bosan hidup...
Harus cari cara untuk bisa survive mengalahkan kebosanan hidup...
Menunggu mati."

Me: another speechless moment.

My boy is no more a boy.

#repost
#Juli2018
Read more

Jumat, 27 Desember 2019

'We Time' Seru di World Of Imagination Nivea

World Of Imagination
Saat mendengar kata tersebut, terus terang sama sekali tak ada gambaran di kepala saya, seperti apa wujudnya. Rasa penasaran ingin tahu, plus iming-iming akan mendapat goodie bag dengan nilai tak sedikit yang memicu saya untuk datang hehe... Makluuuum, kita kan emak irit cyiiin...

Sempat akan membatalkan untuk pergi di Sabtu pagi itu (21 Desember 2019) karena kondisi fisik yang kurang fit dan paksuami yang berhalangan mengantarkan. Walau paksuami merelakan saya membawa mobil sebagai moda transportasi, tapi kaaaaannnn....

Masalahnya adalah, daku bisa nyetir sih... Tapi buta arah. Butuh pendampingan navigator karena kemampuan spasial ruang yang di bawah rata-rata. Dan mata ini juga sering langsung berkunang jikalau terpaksa memantau peta ukuran mini ala google maps. Jadi nyetir dari Meruya ke Ancol itu ibarat perjuangan fii sabilillah untuk saya..

Selain itu, semula rencana mengajak 3 krucil karena saya memiliki 4 tiket. Tapi ternyata yang bisa ikut pergi cuma neng butet anak wedhok semata wayang. Sementara abang dan adeknya ternyata sudah punya agenda sparring tanding bola.. Sighhh...

Akhirnya diputuskan kami pergi berdua saja, me and neng Azza, anggap saja we time ibu-anak. Kami pergi menggunakan transportasi umum yang ternyata sangat mudah, murah dan nyaman.

Dari gang depan perumahan tempat tinggal kami, langsung naik angkot Jaklingko warna merah jurusan Meruya-Citraland dengan tarif Rp. 0 alias gratis. Cukup tap kartu Jaklingko saja. Turun di halte transjakarta Kedoya.

Berganti moda transportasi dengan busway, transit di Harmoni, dan langsung menuju Ancol. Gampang sangat rupanya. Dan Alhamdulillah selalu dapat tempat duduk.

Turun di Ancol, kami menggunakan shuttle bus Wara-wiri yang disediakan gratis oleh pengelola Ancol. Menuju lokasi Econvention dan Ecopark, tempat World Of Imagination berada.

Setelah menukarkan tiket, kami menerima kupon yang dapat digunakan untuk pengambilan hampers goodie bag. Ternyata isi goodie bag nya buanyaaaaak euy.. 
Untung bawa ransel ukuran jumbo. Jadi segala rupa printilan bisa langsung masuk.

Item paling banyak yang diterima adalah krim Nivea. Dan setelah berbincang cantik dengan para petugas dari Nivea, saya baru paham maksud dan tujuan dibagikannya banyak krim tersebut.

Rupanya, Nivea mencoba membantu para ibu dan anak untuk dapat lebih dekat dan mendapatkan bonding yang lebih erat dengan kegiatan fisik skin to skin. Misalnya saat sebelum tidur, para ibu dan anak dapat saling mengoleskan krim Nivea satu sama lain..
Owwwwhhhh  😍😍😍
So sweeeet bangeeeet...
Dan malam harinya langsung kami praktekkan di rumah loh...

Singkat kata singkat cerita, saya dan Azza kemudian memulai petualangan di World Of Imagination. Berawal di mini teater yang menampilkan video hologram sepenggal kisah Ibu Semesta dan empat anaknya di World Of Imagination.

Ibu Semesta mengajarkan empat nilai kebajikan kepada anak-anaknya. Yaitu nilai keberanian, kesederhanaan, kepercayaan dan kepedulian. Setiap nilai kebajikan dilambangkan lewat sebuah medali. Para pengunjung harus bekerja sama berpasangan orangtua dengan anak untuk mengumpulkan medali-medali tersebut di empat dunia bermain. Yaitu, Dunia Hutan, Dunia Angin, Dunia Air dan Dunia Pasir.

Sejujurnya, ketika mulai memasuki World Of Imagination dan memulai petualangan di Dunia Hutan, saya sempat membatin. Wah sudah bukan masanya anak-anak saya nih. Apalagi Azza sudah abege 13 tahun. Wahana ini sangat saya anjurkan untuk para orangtua dengan anak usia maksimal 10 tahun.

Tapi ternyata saya salah hehe..
Azza yang sudah remaja cukup menikmati kegiatan di setiap wahana..
Salah satunya karena sangat banyak spot cantik yang selfiable wakakakakak..

Seperti ketika memasuki Dunia Hutan yang suasananya gelap dan remang-remang. Namun tampilan hologram yang ciamik untuk menjadi latar belakang swafoto yang menarik sih. Juga sulur-sulur hijau yang melambangkan kerimbunan hutan ternyara dapat menjadi tampilan unik latar belakang foto.

Aktivitas menari bersama para mahluk hutan juga cukup bisa membuat saya dan Azza tertawa-tawa gembira menikmati olahraga sederhana.

Ketika memasuki Dunia Angin, tangan kami diikat dengan satu gelang rapuh yang terbuat dari kertas krep yang ringkih. Disini dituntut kerjasama ibu-anak untuk saling percaya agar gelang tersebut tidak putus atau robek saat beraktivitas.

Kami sempat melewatkan Dunia Air, dan memilih langsung ke Dunia Pasir yang tampilannya eye catching sangat di mata saya.. Indah....
Tantangan di Dunia Pasir adalah melalui labirin yang berkelok-kelok, dan harus berhadapan dengan Monster Pasir.

Labirinnya sederhana sih, ya maklum lah, Neng Azza kan sudah usia remaja, jadi tak terlalu menantang untuknya. Tapi sekali lagi, kami cukup bergembira karena menemukan banyak spot foto asyik di dalam labirin hahaha...

Keluar dari labirin, kami berlomba menemukan sebanyak mungkin stiker medali Kesederhanaan yang tersebar di dalam hamparan pasir putih nan menyilaukan.

Saya sempat malas memasuki Dunia Air. Karena malas berbasahan, malas lepas sepatu. Tapi si butet mupeng ingin menikmati keseruan main air. Jadilah Neng Azza memasuki Dunia Air sendiri. Dan saya menanti di pinggir wahana sebagai seksi dokumentasi pengambil gambar Neng Azza in action bermain tembakan air, panjat tali dan perosotan air raksasa.
Dan ternyata Dunia Air inilah yang menjadi favorit Neng Azza.

Walau sasaran utama kegiatan ini kemungkinan besar adalah anak-anak usia di bawah 10 tahun, tapi ternyata kami sebagai pribadi dewasa dan remaja pun sangat bisa menikmati semua keseruannya.

Karena sejatinya bermain adalah jiwa terdalam setiap orang...
There's a kid live inside adult forever.
Dan World Of Imagination dari Nivea telah mewujudkan khayalan dari sisi kanak-kanak setiap orang di usia berapa pun.
Tak menyesal menghabiskan jatah nge-date dengan anak wedhok di event ini.
Juga tak sabar untuk mengajak si bungsu ke acara serupa di lain kesempatan.
Read more

Senin, 16 Desember 2019

Tiga Macan Safari: Akrobat Keliling, Gigitan Harimau Hingga Taman Safari Cisarua


Yang mengaku WNI, siapa yang tak kenal nama Taman Safari Indonesia? Tak ada pastinya.
Taman Safari Indonesia baik yang berlokasi di Cisarua sebagai pionir konservasi hewan di negara ini, mau pun di lokasi lain seperti Pringen-Jawa Timur, Bali Safari, Batang Dolphin Center di Jawa Tengah, serta Jakarta Aquarium di Neo Soho adalah salah satu tujuan wisata keluarga dan edukasi yang tak pernah sepi pengunjung.

Saya pun pernah menjadi salah satu penikmatnya. Tapi adakah yang mengetahui asal muasal didirikannya Taman Safari Indonesia pertama di Cisarua?

Sabtu, 14 Desember 2019 saya berkesempatan menghadiri undangan peluncuran buku Tiga Macan Safari yang mengungkap semua kisah sejarah di balik hadirnya Taman Safari Indonesia di tengah masyarakat.

Acara peluncuran ini diadakan di Jakarta Aquarium-Neo Soho, Jakarta Barat. Buku yang ditulis oleh tak kurang dari 17 orang tim riset dan penulis ini diterbitkan oleh penerbit mayor idaman semua penulis tanah air, Gramedia Pustaka Utama. Riset dan penulisan buku ini dimulai sejak tahun 2017. Tentu saja peluncuran buku ini dihadiri oleh perwakilan dari Gramedia, tim penulis dan tentunya ketiga macan penopang Taman Safari Indonesia, yaitu kakak beradik Bapak Jansen Manansang, Bapak Frans Manansang dan Bapak Tony Sumampau.

Seremoni acara diawali dengan pembukaan tabir penutup mock up cover buku Tiga Macan Safari berukuran raksasa yang dilakukan oleh dua orang putri duyung cantik di dalam akuarium besar.



Kemudian berlanjut dengan talkshow bersama ketiga macan safari yang mengisahkan perjalanan hidup mereka sejak kecil dalam didikan keras Sang Ayah, Hadi Manansang, pendiri Taman Safari Indonesia.

Siapa yang menduga bahwa awalnya keluarga ini adalah pemain akrobat keliling yang mengamen mempertontonkan keahlian akrobatik di pinggir jalan dan berpindah-pindah tempat. Sebelum kemudian akhirnya memiliki pertunjukan sirkus terbesar di Indonesia pada masa itu.


Tony Sumampau mengatakan, bahwa "Saat itu ada kekecewaan pada orangtua. Karena teman yang lain saat pulang sekolah bisa main, bisa istirahat. Tapi kami harus latihan akrobat.. Saya setiap hari harus latihan handstand minimal 45 menit."

"Tapi ayah bilang: 'harus fokus minimal padasatu hal dalam hidup, maka kamu pasti akan sukses di hal tersebut."

Bapak Jansen Manansang menambahkan, "Awalnya Ayah kami, Hadi Manansang memiliki keinginan untuk tetap menjaga agar para karyawan sirkus tidak kehilangan pekerjaan, para hewannya juga terawat walaupun tidak ada show sirkus. Karena saat musim hujan biasanya sirkus tidak bisa melakukan show."
Namun bagaimana caranya agar keinginan tersebut dapat terwujud? Dalam bentuk seperti apa? Inilah yang terus berkecamuk di benak Hadi Manansang.

Tiga Macan Safari: Jansen Manansang, Frans Manansang dan Tony Sumampau.

Lalu suatu saat Tony tergigit harimau, sehingga harus melakukan pengobatan di Australia. Dan disana lah pertama kalinya keluarga ini melihat sebuah safari. Dan kemudian berpikir untuk membangun Taman Safari di Indonesia.

Frans Manansang melengkapi, "Semula blueprint Taman Safari ditawarkan ke Gubernur DKI saat itu, Bapak Ali Sadikin. Lalu ditawarkan ke beberapa instansi untuk mendapatkan perizinan. Hingga akhirnya mendapat lokasi di Cisarua yg saat itu masih sepi. Tidak ada rumah makan. Masih antah berantah."


Kini sudah 50 tahun berselang sejak Taman Safari Indonesia berdiri di Cisarua, Bogor. Ketiga bersaudara ini pun telah mengembangkan unit-unit lain seperti Taman Safari ll di Pringen Jawa Timur, Bali Safari and Marine Park di Gianyar-Bali, Batang Dolphin Center Jawa Tengah dan Jakarta Aquarium di Neo Soho. Setelah menjadi tujuan wisata nasional dan internasional, Taman Safari Indonesia tidak hanya fokus di bidang konservasi satwa liar, namun juga berperan sebagai sarana pendidikan dan penelitian.

Seperti diungkapkan oleh ketiga macan ini, "Kami akan konsisten di bidang konservasi pelestarian hewan. Agar anak cucu kita di masa depan tetap dapat melihat langsung dan tahu bagaimana bentuknya gajah, seperti apa jerapah itu. Jangan sampai terjadi seperti beberapa anak di negara maju yang hanya kenal dunia digital, sehingga kerbau pun dikira dinosaurus. Wujud ayam hidup pun tak pernah menemui."

Buku ini juga mengisahkan perjalanan hidup seorang Hadi Manansang yang bernama lahir Cai Ling Sian, mulai dari tempat kelahirannya di Shanghai, Cina. Kemudian bekerja di toko beras, hingga bergabung dalam show sirkus keliling dunia. Sampai terdampar di Indonesia setelah Perang Dunia pecah, kemudian menikah dengan Tuti Manansang dan berganti nama Indonesia.

Banyak sekalu inspirasi hidup yang dapat ditemui dalam buku ini. Tiga Macan Safari: Kisah Sirkus Ngamen Sebelum Permanen dapat diperoleh di berbagai toko buku di seluruh Indonesia.

Ukuran: 15x23 cm.
Tebal: 234 halaman.
Cover: Softcover.
ISBN: 978-602-06-3647-4
Harga: Rp. 120.000
Terbit: 25 November 2019
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Read more

Berbagi Bahagia Bersama AirAsia di Yogyakarta


Semua bermula ketika di awal April 2019 yang lalu saya dihubungi oleh Mbak Nesri, salah satu panitia penyelenggara Konferensi Ibu Profesional, yang memberi kabar bahwa tulisan berjudul "Ask to Solve Sebagai Kegiatan Keluarga" yang saya ikusertakan dalam ajang Call for Paper Konferensi Ibu Profesional ternyata terpilih untuk ditampilkan dalam konferensi tersebut.

Singkat kata, saya diundang untuk menjadi salah satu narasumber yang akan menyampaikan materi dalam bentuk workshop pada Konferensi Ibu Profesional yang berlangsung selama 3 hari, 16-18 Agustus 2019 di Sahid Jaya Hotel, Yogyakarta.

Respon spontan saya saat itu adalah, terkejut, bahagia, tak mampu berkata, serta bangga. Bagaimana tidak, kegiatan ini tarafnya internasional loh. Dengan para narasumber kualitas bintang lima, serta ratusan peserta dari seluruh nusantara dan beberapa negara tetangga dekat seperti Malaysia, Singapur bahkan India. Tak hanya dalam wujud offline, gelaran ini juga disiarkan langsung melalui teleconference ke puluhan negara di lima benua.

Melihat daftar para narasumber inspiratif dan paten saja sudah cukup membuat saya merinding membayangkan akan berada satu panggung dan bertemu langsung dengan mereka.



Ada Ibu Tri Mumpuni, sang pejuang listrik pedesaan yang bahkan sudah pernah menerima penghargaan internasional dari Pangeran Charles (Inggris) dan Barack Obama (USA). Lalu ada Ustadz Salim A Fillah beserta tim keren Mesjid Jogokariyan. Ada pasutri teladan, Ibu Septi Peni Wulandari dan Bapak Dodik Mariyanto. Serta Sumitra Pashupathy dari Ashoka Foundation yang jauh-jauh datang dari India.

Jadi, saat Mbak Nesri menanyakan kesediaan saya untuk berbagi materi workshop Ask To Solve untuk para peserta konferensi ini, maka tanpa pikir panjang saya langsung menyanggupi saat itu juga.

Selepas itu, sepanjang bulan April hingga Juli, terjalin beberapa kali kontak antara saya dengan tim panitia. Kebanyakan untum persiapan alat dan bahan sebagai penunjang materi workshop yang akan saya bawakan nantinya. Dan menurut jadwal, saya akan tampil di tanggal 17 Agustus 2019. Namun tak pernah dibahas sedikit pun tentang teknis keberangkatan kami, para narasumber ke tempat lokasi di Yogyakarta.



Hingga di saat putaran hari memasuki awal bulan Juli 2019, saya baru teringat belum mengkonfirmasi perihal tiket perjalanan, akomodasi dan sebagainya. Dan ketika saya tanyakan kepada pihak panitia, ternyata panitia tidak melakukan pembelian tiket bagi para narasumber. Dengan tujuan agar kami dapat lebih fleksibel mengatur jadwal keberangkatan di tengah kesibukan masing-masing. Dan penggantian biaya tiket akan diurus setelahnya.

Saya pun langsung kelabakan. Karena sudah mendekati Hari H. Dan terlebih karena saya saat itu kebetulan baru saja pindah tempat mengajar ke salah satu sekolah negeri sebagai tenaga pengajar honorer yang terima gaji per tiga bulan. Dengan kata lain, di bulan Juli dan Agustus itu gaji belum akan saya terima, baru di bulan September saya akan menerima gaji pertama yang dirapel 3 bulan.

Intinya adalah, dana yang saya miliki sangat terbatas. Saat itu saya langsung hunting tiket kereta api. Karena saya berasumsi bahwa tiket kereta api akan lebih terjangkau harganya dibandingkan tiket pesawat.

 Ternyata tiket kereta api hanya dapat dipesan maksimal 30 hari sebelum tanggal keberangkatan. Artinya, jika saya berencana untuk melakukan perjalanan di tanggal 16 Agustus, maka saya baru dapat memesan tiket pada tanggal 17 Juli 2019.

Saya pun dengan sabar menunggu hari bergulir menuju tanggal 17 Juli 2019 untuk dapat melakukan pemesanan tiket kereta api. Namun apa daya, di pagi hari sebelum pukul 10.00 tanggal 17 Juli 2019 semua tiket kereta yang jadwal jam keberangkatannya memungkinkan untuk saya ikuti ternyata sudah habis dipesan.

Masih ada beberapa tiket tersedia, tetapi waktu keberangkatannya tak memungkinkan untuk saya. Karena di pagi hari saya masih harus menunaikan kewajiban sebagai guru di sekolah tempat saya mengabdi, maka saya hanya dapat memesan tiket dengan jam keberangkatan sore atau malam hari.

Saat itu juga saya mulai berburu dan mencari informasi harga tiket bus malam menuju Yogyakarta, beserta lama durasi perjalanan dari Jakarta. Rupanya dari beberapa informasi yang saya dapat, perjalanan dengan cenderung sulit diprediksi durasi waktunya. Karena melalui jalan raya darat yang rentan kondisi macet tak terduga.

Selama beberapa hari berusaha memikirkan solusi keberangkatan ke Yogyakarta. Sempat terlintas untuk meminjam uang dalam rangka membeli tiket pesawat. Atau mengundurkan diri dari acara tersebut.

Lalu di tengah rasa putus asa, iseng mencoba cek harga tiket pesawat Air Asia DISINI. Dan mata saya langsung berbinar karena ternyata harga tiket Air Asia tujuan Yogyakarta hanya selisih seratus ribu saja dari harga tiket kereta api dengan kota tujuan yang sama. Tanpa pikir panjang saya pun segera melakukan pemesanan tiket untuk keberangkatan di tanggal 16 Agustus 2019 siang hari.

Sangat mudah memesan tiket Air Asia secara online. Hati menjadi tenang menanti hari keberangkatan. Dan yang tak saya duga, sehari sebelum keberangkatan, saya mendapat surat elektronik yang mengingatkan bahwa saya memiliki jadwal terbang bersama Air Asia esok harinya. Waaah ini layanan yang keren sangat menurut saya. Sebab baru kali ini saya mendapat email pengingat seperti ini.


Di tanggal 16 Agustus 2019 setelah Dhuhur saya menuju Bandara Soekarno Hatta menggunakan taksi online. Langsung menuju terminal keberangkatan, melakukan check in dan sesuai permintaan saya, mendapatkan seat di deret tepi lorong pesawat. Sengaja meminta tempat duduk pinggir, bukan dekat jendela seperti kebanyakan penumpang. Sebab saya cenderung sering bolak-balik ke kamar mandi hehe..

Pesawat lepas landas tepat waktu sesuai jam keberangkatan, alhamdulillah tidak ada penundaan jadwal berangkat. Sehingga tiba di Bandara Adi Sutjipto pun tepat waktu sesuai jadwal. Saya pun langsung menuju Sahid Jaya Hotel menggunakan ojek online, yang ternyata jaraknya tak jauh dari bandara.

Sumitra Pasuphaty dari Ashoka Foundation, India

Pembukaan acara konferensi sebenarnya sudah berlangsung sejak selepas waktu Dhuhur, jadi dengan terpaksa saya melewatkan sesi pembuka. Tapi tak mengapa, sebab masih banyak agenda berharga lain yang dapat saya ikuti.
Saya masuk ke ballroom hotel, tepat saat Sumitra Pasuphaty dari India menyampaikan materi tentang perempuan dan ibu sebagai agen perubahan di lingkungannya masing-masing.

Sesi malam berlanjut dengan materi Pergerakan Perempuan dan Ibu dari Ibu Septi Peni Wulandani sebagai pendiri Institut Ibu Profesional (IIP). Antara lain berkisah tentang sejarah berdirinya yang di mulai dari kegiatan belajar di depan cermin, hingga kini memiliki lebih dari 25.000 orang anggota tersebar di berbagai negara.

Ibu Septi Peni, Founder Institut Ibu Profesional

Pada Jumat malam, setelah sesi Bu Septi, saya berkesempatan bersua sahabat lama yang telah sekian tahun lamanya tak berjumpa. Kami berkeliling Yogyakarta di malam hari. Menikmati gelato hits di Yogya, juga suasana malam Malioboro yang ramai namun menenangkan.





Pada tanggal 17 Agustus 2019, selama sehari penuh dari pagi hingga malam kami, para peserta dan narasumber disuguhi berbagai materi padat gizi dan berisi. Materi tentang zero waste dan bank sampah disampaikan oleh Mbak Efi Femiliyah dari Jakarta. Kisah pembinaan UMKM skala kecil di Lampung oleh keluarga Mbak Puspa Fajar. Bagaimana cara menyusun menu belajar anak di rumah dipersembahkan oleh Mbak Restu dari Banten.

Ada pula materi pengembangan metode komunitas sebagai pencegah depresi pada Ibu yang merupakan hasil penelitian Mbak Elsy dari Yogyakarta. Masih ada materi kampanye anti bully di sekolah yang dimotori oleh para Ibu Profesional di Semarang.

Tak lupa salah satu materi yang sangat saya nantikan yaitu, pengelolaan Mesjid Jogokariyan, Yogyakarta dengan konsep saldo nol kotak infak. Bagaimana para pengurus mesjid memiliki data yang akurat tentang warga di sekitar mesjid, sehingga mesjid menjadi pusat kegiatan hampir seluruh lini kehidupan. Tak hanya sisi reliji, tapi juga menyentuh aspek budaya hingga ekonomi warga sekitar yang terbantu karena dukungan para pengurus mesjid.

Salah satu peta data statistik Mesjid Jogokariyan. Warna yang berbeda melambangkan kondisi tingkat aktivitas warga ke mesjid, kondisi tingkat ekonomi warga dll. Sehingga pihak pengirus mesjid memahami, mana warga yang perlu bimbingan rohani lebih intens, dan warga mana yang perlu didukung perekonomiannya.


Sesi pelatihan saya terjadwal di sore hari. Saya awalnya sempat pesimis, ada kekhawatiran jika para peserta sudah lelah, atau mengantuk karena sehari penuh mengikuti beragam sesi pemaparan dari berbagai narasumber. Ternyata kekhawatiran saya tak terjadi. Seluruh ibu pembelajar ini tetap terlihat antusias dan bersemangat mengikuti sesi pelatihan Ask To Solve.

Dan di akhir sesi, banyak peserta yang menghampiri, untuk bertanya lebih lanjut tentang metode Ask To Solve yang saya kembangkan beberapa tahun terakhir ini. Dua orang dosen di Yogyakarta bahkan menyarankan agar saya mengajukan hak paten atas metode belajar yang awalnya saya rancang dan kembangkan untuk anak-anak di rumah ini. Terharu rasanya melihat antusias dan respon peserta.

Beberapa kali diminta menjadi narasumber atau fasilitator, tapi baru kali ini sesi pelatihan saya disiarkan langsung ke lima benua melalui teleconference



Selama 3 hari di Yogyakarta, saya mendapat beragam kesempatan dan pengalaman berharga. Mendapat teman dan saudara baru dari penjuru negeri. Berkesempatan beramal jariyah dengan berbagi ilmu dan kebahagiaan. Juga mendapat berbagai ilmu baru dari para narasumber lain.

Semua itu tak mungkin menjadi rekam jejak hidup saya jika saat itu saya tidak menemukan tiket pesawat semurah harga tiket Air Asia. Sungguh, momen Berbagi Bahagia Bersama AirAsia di Yogyakarta bulan Agustus lalu akan selamanya menjadi pengalaman berharga bagi saya. Tak hanya itu, portofolio saya sebagai seorang fasilitator pendidikan keluarga pun bertambah, dan menjadi catatan positif dalam histori jam terbang saya secara profesional.
Terimakasih sangat pada Air Asia yang telah memberikan pengalaman terbang yang aman, nyaman, serta murah tapi tidak murahan dalam kualitas.

#BahagiaBersamaAirAsia

Read more
Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.