Rabu, 29 April 2020

Face Shield Rumahan untuk Pejuang Medis


Para nakes RS AsShobirin menggunakan face shield buatan kami

‘’Miy, kenapa sih kita repot bikin ini?’’ tanya Ai (anak ketiga saya), sembari kedua tangannya terus bekerja memotong gulungan pita.

‘’Ai nggak suka diajak bikin face shield ini?’’ saya balik bertanya. Saat itu kami sedang sibuk membuat face shield rumahan sederhana dari perlengkapan alat tulis kantor untuk perangkat APD (Alat Perlindungan Diri) yang akan disumbangkan kepada para tenaga medis di beberapa puskesmas dan rumah sakit. Sebagai wujud kepedulian dan dukungan bagi para tenaga kesehatan di garda depan penanganan wabah Covid-19.

Ini adalah kali ke sekian kami sekeluarga memproduksi sendiri face shield, pelindung wajah untuk didistribusikan kepada para nakes. Awalnya hanya kegiatan iseng untuk mengisi waktu di rumah pada masa stay at home ini. Tapi ternyata, Alhamdulillah dapat menjadi ladang ibadah bagi kami. Kali ini kami membuatkan untuk Puskesmas Kotamobagu, Sulawesi Utara.


Proses pembuatan face shield

‘’Bukan tak suka. Kalau Ai nggak suka, nggak mungkin Ai mau ikut bantu buat. Cuma kadang heran aja sama Umiy. Katanya Umiy sudah tiga bulan belum terima gaji. Kita makan tiap hari juga irit-irit banget. Tapi kok Umiy mau keluar uang pribadi untuk beli bahan-bahan ini, untuk disumbangkan gratis ke rumah sakit.’’

Ah, begitu rupanya yang ada di benak mereka. Pertanyaan yang sangat wajar, bila mengingat kondisi keuangan keluarga kami hampir setahun terakhir ini. Sekitar 10 bulan yang lalu, ayah mereka mendapat rejeki berupa penyakit.

Masa pengobatan dan pemulihan yang berlangsung selama sepuluh bulan terakhir ini membuat geraknya menjadi sangat terbatas, termasuk untuk urusan mencari nafkah. Dan saat kondisi fisik pak suami mulai membaik, terjadilah wabah Covid-19, sehingga kampus tempat suami mengajar juga menjadi non aktif.

Praktis biaya operasional kebutuhan hidup keluarga sehari-hari menjadi hanya bergantung pada pendapatan saya sebagai guru honorer di salah satu sekolah negeri. Yang mana honor mengajar saya terima dirapel per empat bulan sekali. Dengan lima orang anak usia SD, SMP dan SMA, tentunya kami harus cermat berhemat.

Saya pun tersenyum, dan menjawab pertanyaan Ai, ‘’Umiy tetap shodaqoh, karena kita masih punya bahan makanan untuk makan besok. Dan karena umiy ingin kita semua menjadi orang kaya, jadi aghniya yang sesungguhnya.’’

Menjadi Aghniya Sejati Bermental Kaya Raya

‘’Karena itu juga, setiap kali terima honor yang pertama kali Umiy lakukan sebelum membeli apa pun, adalah menitipkan zakat penghasilan ke Dompet Dhuafa ‘’ lanjut saya.

‘’Iya Miy, kalau zakat penghasilan itu kan memang wajib ya… Tapi kalau shodaqoh yang nggak wajib itu bukannya semampunya aja ya Miy? Kalau kita tidak mampu ya nggak  perlu memaksakan diri kan sebetulnya?’’ kali ini Roha (anak kedua saya) yang bersuara.

‘’Betuuuulll… Tapi kalian tahu nggak, sebetulnya shodaqoh itu membuat kita menjadi orang kaya yang sesungguhnya.’’ jawab saya.




Anak-anak terlihat sedikit bingung mendengarnya. Maka saya pun mulai menjelaskan salah satu prinsip hidup yang selama ini saya pegang teguh. Bermula dari pengamatan terhadap banyak orang dan relasi yang saya kenal. Ada saudara atau sahabat yang tergolong kaya raya, dengan rumah banyak, kendaraan memenuhi garasi juga barang-barang bermerk. Namun terkadang hidupnya tak tenang.

Pernah saya mendengar keluhan seorang kerabat, ‘’Duh pengen banget deh buka usaha itu. Aku ada modalnya, tapi masih kurang sedikit lagi, kurang 80 juta-an lagi lah.’’ Dan karena merasa pusing memikirkan cara mencari kekurangan modal usaha, lalu sampai tidak bisa tidur selama berminggu-minggu. Kemudian berakhir dengan keberanian mencari pinjaman uang dan berhutang dengan riba.

Padahal sebenarnya, kebutuhan hidupnya sehari-hari lebih dari kata terpenuhi. Tinggal di komplek perumahan cluster,  tidak pernah mencicipi rasanya naik kendaraan umum kemana pun, dan anak-anak bisa bersekolah di sekolah swasta dengan iuran lebih dari sejuta tiap bulan.

Banyak pula teman dan saudara yang saya kenal, hidup di bawah garis ekonomi menengah. Dengan penghasilan harian yang tak tentu. Namun tak pernah merasa ragu untuk berinfak ke kotak amal masjid. Tak pernah mengeluh kekurangan uang. Makan dengan tempe dan kecap pun sudah merasa cukup. Tidak merasa rugi untuk memberi pada orang lain selama di dompet masih ada selembar nominal lima puluh ribu, dan tidak pernah pula berhutang.

‘’Coba sekarang, menurut kalian, mana yang mental dan jiwa-nya lebih kaya? Orang yang punya uang ratusan juta, tapi masih merasa kekurangan dan nggak bisa tidur bahkan masih pinjam uang ke bank? Atau supir ojol yang tiap hari Cuma dapat uang seratus ribu, tapi nggak punya hutang, merasa cukup apa adanya, bisa tidur tenang dan masih bisa selalu shodaqoh?’’ saya bertanya memancing pendapat anak-anak.

‘’Iya juga ya. Hatinya jadi lebih kaya yang supir ojek ya, Miy.’’ Azza (anak keempat) menjawab setelah beberapa saat terdiam berpikir.




Begitulah.
Bagi saya, rasa senang menebar kebaikan berbagi, tanpa merasa rugi, tanpa merasa kehilangan harta, itulah mental kaya raya sesungguhnya….
Sedekah/ shodaqoh sesungguhnya membuat kita merasa menjadi orang kaya sejati.

Karena masih bisa ‘membuang uang’ untuk orang lain hehehe. Sebab dengan kondisi keuangan saya yang masih pas-pasan ini, kesempatan bagi saya untuk mampu ‘membuang-buang uang’ itu belum tentu datang setiap hari. Ada masanya juga saya betul-betul tidak memiliki kemampuan untuk berbagi dengan orang lain.

Pernah di suatu saat dulu, ketika kelima anak saya masih bayi dan balita, hidup di perantauan tanpa kerabat  bersomisili di pulau yang sama. Ditambah suami bertugas di pedalaman Jambi, sementara saya dan anak-anak bertempat di Lampung. Ada masa dimana saya kehabisan uang dan beras. Tak memiliki uang sama sekali sekeping pun, tak memiliki beras sebutir pun. Kami bisa sarapan dan makan siang, tapi tak tahu harus makan apa di malam hari.

Hanya berdoa dan shalat hajat memohon pertolongan Allah yang bisa saya lakukan kala itu. Dan dengan ajaib sebelum tangan ini turun, sebelum bibir berhenti berdoa selepas dua rakaat shalat hajat, pertolongan datang melalui seorang nenek tetangga sebelah rumah. Beliau memberi selembar dua puluh ribu sebagai tanda terimakasih karena saya membantu menyetorkan tagihan cicilan ke Kantor Pegadaian.

Dan masih di hari yang sama, setelah magrib, salah seorang kawan mengantarkan 25 kg beras ke rumah sewa kami. Beserta beberapa paket menu keluarga dari restoran pizza terkenal, yang jumlahnya bahkan terlalu banyak bagi kami. Sehingga saya membaginya ke tetangga agar tak terbuang mubazir.

Pengalaman berharga hari itu, membuat definisi kata cukup dan kaya menjadi lebih sederhana bagi saya.
Kini, memiliki persediaan beras, kecap dan garam di dapur pun sudah membuat saya merasa cukup dan tak khawatir kelaparan.

Saya tidak pernah tahu kapan roda hidup akan berputar menempatkan saya berada di atas atau di bawah. Dalam satu hari itu, di siang hari kami tak memiliki apa pun untuk di makan, siapa yang menduga ternyata di malam hari-nya kami justru mampu berbagi makanan ke tetangga.

Prinsip 4 Roda Berputar



‘’Tapi shodaqoh itu bukannya bila mampu ya, Miy? Kalau kita masih pas-pasan nggak wajib kan sebetulnya?’’  Roha kembali menimpali.

‘’Betul itu… Tapi arti cukup dan pas-pasan kan juga bisa beda untuk tiap orang. Dan kondisi tiap orang juga bisa berubah setiap saat. Kadang nggak perlu menunggu waktu bertahun-tahun. Kalau sekarang, detik ini kita masih pas-pasan, satu jam lagi belum tentu. Ingat nggak, umiy sering cerita tentang 4 roda berputar?’’ jawab saya.

Prinsip hidup 4 Roda Berputar adalah wejangan tanpa akhir yang kerap saya dengar dari orangtua sepanjang ingatan. Bapak dan Ibu selalu mengingatkan bahwa roda hidup manusia selalu berputar sepanjang waktu, sejak lahir hingga ajal.

Bahwa tidak ada orang yang selalu susah, tanpa pernah merasakan senang dan bahagia.

Tidak ada orang yang selalu merasa sakit, tanpa pernah mencicip kesehatan.

Tak ada orang yang selamanya miskin, tanpa pernah mendapat rezeki.

Juga tiada orang yang abadi dalam kondisi lemah, tanpa pernah diberi kekuatan olah Allah.

Demikian juga sebaliknya. Empat roda kehidupan itu akan selalu berputar silih berganti. Dan hidup yang seimbang memang seperti itu layaknya.
Lalu kapan roda hidup akan berputar berubah posisi, menempatkan kita di atas, atau di bawah? Itu adalah kuasa Gusti Allah.

‘’Jadi, jika Allah masih menempatkan diri ini berada di atas, jika mampu memberikan bantuan sekecil apa pun, jangan pernah sia-siakan kesempatan itu. Karena itu artinya Allah memberi kesempatan untuk menambah investasi akhirat. Lima menit kemudian, belum tentu kondisinya masih sama. Lima menit kemudian bisa jadi roda hidup sudah berputar kembali.’’ demikian wejangan Bapak yang terus terngiang di kepala saya sejak kecil.

Karena itu selagi sehat, bantulah yang sakit. Saat senang, wajib menolong yang kesusahan. Ketika kuat, perhatikan yang lemah. Dan jika ada rezeki berlebih, berbagilah dengan yang membutuhkan. Sebab kita tidak pernah tahu, kapan takdir akan membawa kita (atau anak cucu kita) berada di posisi sebagai pihak yang dibantu oleh orang lain.

Perbuatan Baik Yang Menular


Kiriman sayur hidroponik dari sahabat

‘’Betul juga ya, Miy. Waktu hari pertama WFH social distancing ini kita  nggak punya uang untuk makan. Eh ternyata banyak orang kirim bahan makanan untuk kita. Jadi sekarang gantian kita yang kirim-kirim face shield untuk dokter dan perawat ya.’’ Ai kembali berkomentar. Saya tersenyum lebar menanggapi.

Memang, satu hari sebelum Gubernur DKI, Anies Baswedan mengumumkan berlakunya masa social distancing, kondisi keuangan saya sudah di ambang kosong. Tak sampai lima puluh ribu rupiah tersisa di rekening maupun dompet, dan saat itu tidak ada kepastian kapan honor saya selama tiga bulan (Januari, Februari, Maret) akan cair. Sekali lagi  shalat hajat yang menjadi senjata utama, saya minta semua anak untuk ikut melaksanakan shalat hajat.

Selanjutnya kembali terjadi, selama dua hari berturut beberapa orang sahabat mengirimkan banyak bahan makanan melalui ojek online. Padahal mereka bahkan tidak tahu keadaan kami dan sudah hitungan purnama tak berjumpa. Ada yang mengirimkan frozen food dan sembako. Seorang kawan pemilik kebun sedang panen sayur hidroponik, dan memberikan beragam sayuran organik hingga dua kardus banyaknya.


Kiriman sembako dari sahabat

Sehingga walau tak memiliki uang tunai, kami tidak kelaparan. Bahkan sekali lagi, kami bisa memberikan sebagian bahan makanan yang kami terima kepada para driver ojek online yang banyak melintas di depan pagar rumah kami.

Lalu di hari ketiga WFH (work from home), tak terduga saya menerima santunan guru honor dari Baznaz Jakarta Barat, dengan jumlah cukup untuk hidup beberapa hari. Dana santunan Baznaz inilah yang kemudian saya alokasikan sebagian untuk membeli peralatan ATK guna membuat face shield rumahan.

‘’Nah… Betul Ai. Berkat kiriman makanan dari teman-teman Umiy dan Abiy, kita bisa makan seminggu lebih tanpa belanja bahan makan. Itu kalau dirupiahkan, harganya lebih dari uang yang umiy keluarkan untuk beli bahan face shield ini loh. Artinya, apa yang kita terima juga masih lebih banyak daripada jumlah yang kita sedekahkan tho.’’ lanjut saya.

Donasi Face Shield Rumahan

Bukan tanpa alasan kenapa saya dan anak-anak membuat face shield untuk disumbangkan. Selain karena bahannya mudah didapat, juga harganya terjangkau untuk dompet saya saat itu. Di minggu pertama masa social distancing itu seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas medis kekurangan Alat Perlindungan Diri. Sebab kebanyakan APD masih diperoleh melalui jalur import dari negara lain. Belum ada gerakan UKM lokal yang memproduksi APD.

Jumlah permintaan dan pasokan barang yang tak seimbang membuat harganya melonjak tinggi. Sementara APD idealnya tidak bisa dipakai ulang. Akhirnya saya dan anak-anak iseng membuat face shield home made di rumah. Kebetulan ada salah seorang relasi bidan yang mengeluhkan bahwa rumah sakit tempatnya mengabdi sangat kekurangan APD dan belum tersentuh bantuan dari pihak manapun.

Rumah sakit tersebut sejatinya adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak kecil tipe C di Tangerang yang utamanya menerima pasien untuk kasus penyakit anak, kehamilan dan persalinan. Namun  karena kondisi darurat, jumlah penderita dan suspek Covid-19 di Jabodetabek terus bertambah, maka rumah sakit ini pun tak bisa menolak kasus Corona.

Alhamdulillah face shield buatan anak-anak dapat membantu dan dimanfaatkan oleh 100 orang tenaga medis di rumah sakit tersebut. Untuk mengapresiasi kerja keras dan kerja sama anak-anak, saya menyimpan foto-foto kegiatan saat proses pembuatan face shield berlangsung ke laman media sosial. Tak disangka, banyak pihak yang ternyata memberi respon positif.

Ada beberapa orang tenaga kesehatan yang menghubungi saya untuk meminta bantuan donasi face shield  rumahan ala kami. Namun lebih banyak rekan yang menghubungi bermaksud menitipkan donasi dana untuk digunakan membeli alat dan bahan pembuat face shield.

Ada juga teman-teman yang menitipkan masker untuk didonasikan bersama dengan face shield yang akan kami kirimkan ke rumah sakit atau puskesmas. Lalu ada pula kawan yang berdomisili di pulau-pulau lain meminta saya mengajarkan cara membuat face shield, agar mereka juga bisa membuat sendiri untuk disumbangkan ke fasilitas medis terdekat dari rumah mereka.


Luar biasa! Betapa mudahnya menularkan perbuatan baik dan positif tanpa perlu heboh berkoar atau ceramah panjang lebar. Semoga wabah kebaikan berbagi ini dapat menular melebihi kecepatan virus corona.

Tutorial Membuat Face Shield Sederhana

Bagi Anda, terutama para mamah muda, yang mungkin mulai bingung merencanakan aktivitas positif di rumah pada masa home learning ini, barangkali berminat juga membuat face shield rumahan ala kami. Berikut saya bagikan tutorialnya.

Alat dan bahan yang dibutuhkan:
  1. Plastik mika sampul jilid fotokopi.
  2. Pita gulung, dipotong sepanjang lingkar kepala.
  3. Lakban.
  4. Straples.
  5. Gunting


Cara membuat:



Taraaaa….
Mudah sekali bukan?
Semua alat dan bahan pun dapat diperoleh di toko ATK terdekat, atau di tempat jasa fotokopi.



Mudah, murah dan bermanfaat. Bisa jadi face shield buatan anak-anak Anda dapat membantu menyelamatkan puluhan hingga ratusan nyawa para pejuang medis bangsa ini.
Selamat mencoba di rumah yaaa….

Yuk,
Mari lakukan kebaikan berbagi sebisa dan semampu kita. Sekecil apa pun, berikan kontribusi agar segala kebaikan dunia tidak berhenti hanya sampai di kita.  Sedekah dapat melalui beragam cara sesuai kapasitas diri. Dapat berupa waktu, tenaga, dan pikiran. Bagi yang sibuk namun berlebih harta, dapat pula menitipkan donasi pada Dompet Dhuafa yang akan menyalurkannya melalui berbagai program kebaikan bagi umat.
#MenebarKebaikan
#LombaBlogMenebarKebaikan


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”



Read more

Selasa, 17 Maret 2020

Tetap Segar Saat Sakit, Tangkal Kuman dengan Vitalis Body Wash


Mandi parfum Vitalis Body Wash

Vitalis Body Wash dapat memberi sensasi mandi parfum kelas premium, pasti semua kaum feminis sudah memahami. Bagaimana tidak, saat ini  Vitalis merupakan market leader di  pasar wewangian perempuan. Dan kini Vitalis ingin membawa para pakar di bidang parfum ke dalam produk Body Wash.

Kawin silang produk fragrance dan sabun ini tentunya sudah melalui serangkaian riset serius, sehingga menghasilkan produk yang pasti memberi keuntungan lebih bagi kulit cantik kaum hawa.

Namun tahukah bahwa Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash tak hanya mampu memberikan sensasi mandi parfum dengan harga sangat terjangkau? Produk ini pun dapat sangat membantu menjaga kesehatan keluarga kami loh.

Rangkaian seri Vitalis Body Wash


Mandi Parfum saat Sakit dengan Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash

Vitalis Body Wash sering memberi kemudahan hidup bagi kami sekeluarga akhir-akhir ini. Penyebabnya adalah cuaca Ibukota yang sedang seru belakangan ini. Perubahannya kadang terasa menggemaskan. Panas terik dengan matahari menyilaukan saat pagi dan siang hari. Lalu tiba-tiba bisa berubah menjadi hujan, mulai dari level rintik syahdu hingga deras menggelegar.

Guyuran hujan yang tiba-tiba menerpa saat kami tengah berada dalam perjalanan pulang atau pergi ke tempat kerja atau sekolah, tentunya memberi dampak bagi kesehatan.

Apalagi jika rezeki yang tercurah dari langit ini dalam format rintik halus namun dengan durasi waktu panjang. Sehingga memaksa saya nekat menerabas hujan untuk tiba di rumah, sebab telah sekian jam menanti tak ada tanda hujan terhenti.

Imbasnya adalah, kondisi kesehatan keluarga yang menurun. Drop!
Demam, meriang, masuk angin dan flu bergiliran menerpa seluruh anggota keluarga. Termasuk saya.

Manakala kondisi fisik tidak fit, lemas tak berdaya, salah satu hal yang menjadi momok adalah: m.a.n.d.i

Terkena siraman air dingin saat badan meriang itu rasanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kebetulan juga kamar mandi rumah kami tak memiliki fasilitas water heater. Dan untuk bolak-balik merebus air panas untuk mandi, butuh perjuangan ferguso.

Padahal, saat suhu tubuh di atas normal, maka seringkali keringat turut membanjir sebagai wujud kerja imun tubuh menormalkan suhu badan. Efeknya tubuh terasa lengket karena keringat.

Idealnya, harus sering bersiram dan ganti pakaian untuk menjaga higienis tubuh. Juga agar kuman tak datang menempel pada permukaan kulit dan kain yang lembab. Namun daya untuk mandi terkadang sudah habis. Apalagi jika harus merebus dulu air panas untuk mandi.
 Lalu bagaimana solusinya?

Alhamdulillah, untung saja ada stok Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash di rumah. Sehingga kesegaran dan higienis tubuh saat sakit tetap terjaga. Saya biasa memanfaatkan bantuan Vitalis Body Wash ini untuk berseka dengan lap handuk saat warga rumah tak mampu mandi dengan kondisi normal. Begini caranya:

1. Siapkan air hangat dalam wadah (baskom atau mangkuk).

2. Tuangkan satu sendok Vitalis Body Wash.



3. Aduk hingga merata.



4. Celupkan Washlap atau handuk kecil ke dalam wadah air sabun.



5. Peras washlap atau handuk kecil.



6. Gunakan washlap untuk menyeka seluruh bagian tubuh. Untuk menghilangkan segala aroma dan potensi kuman yang menempel.

Setelah itu, boleh seka sekali lagi dengan washlap atau handuk yang telah dibasahi air hangat tanpa campuran Vitalis Body Wash. Namun bila tidak pun tak mengapa.

Sebab  selain aroma parfum, para pakar dalam jajaran tim produksi Vitalis Body Wash sangat memahami bahwa para penikmat mandi parfum juga menyukai sabun mandi yang tidak membuat kulit kering. Sehingga peranan moisturizer atau pelembab dalam formula sangatlah penting.

Demi memastikan kelembaban kulit setelah pemakaian, maka para pakar di Vitalis menambahkan moisturizer dengan kualitas terbaik. Agar penikmat Vitalis tak perlu khawatir kulit menjadi kering.


Untuk pemakaian di kala sakit ini saya  lebih memilih varian Vitalis Body Wash Fresh Dazzle yang memberikan manfaat Skin Refreshing untuk kulit terasa segar, halus  dan lembut.


Varian Fresh Dazzle ini memiliki aroma yang mampu memperbaiki mood. Menjadi alasan utama pilihan pada varian ini. Karena saat kondisi fisik tak fit, umumnya emosi dan mood pun turut kacau.

Parfum yang digunakan untuk varian ini diawali dengan  segarnya wangi Bergamot, diikuti wangi Floral Bouquet yang elegan feminin dan ditutup dengan Musk Amber yang tahan lama.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Fresh Dazzle, juga diperkaya dengan ekstrak Yuzu Orange dan anti oksidan dari Green tea, yang menjaga kulit terasa lebih bersih, wangi, segar dan terawat.

Sehingga walau dalam kondisi sakit pun, aroma wangi tubuh saya tetap semerbak dan tak mengganggu penciuman penghuni rumah, terutama suami. Wangi kesegaran buah khas Yuzu Orange memang paling pas untuk kondisi lemas tak berdaya.

Jadi tak hanya dimanjakan dengan sensasi mandi parfum saat sakit, efek relaksasi yang ditimbulkan oleh aroma Green Tea yang lembut juga sangat menenangkan. 

Saat sedang sakit pun, kami sekeluarga tetap dapat menikmati sensasi mandi parfum. Tak hanya mampu menangkis aroma tak sedap dan mengatasi bad mood kala sakit, masih ada loh manfaat lain Vitalis Body Wash bagi kesehatan.

DIY Soap Sanitizer

Hand sanitizer menjadi salah satu menu belanja favorit, bahkan menjadi langka sebulan terakhir ini. Tak lain dan tak bukan adalah karena pandemi Virus Corona yang mendera separuh bumi.

Tingginya permintaan pasar pada kebutuhan hand sanitizer pun membuat harganya meroket tinggi. Hingga akhirnya banyak pakar farmasi yang membagikan tips membuat hand sanitizer sendiri di rumah.

Saya pun termasuk kalangan yang tertarik untuk mencoba membuat sendiri. Dan setelah membaca berbagai sumber, saya jadi tahu ternyata ada beberapa formula yang dapat digunakan untuk meracik sanitizer di rumah. Sekaligus menambah wawasan saya, bahwa ternyata penggunaan sabun dan air mengalir tetap masih lebih efektif untuk membunuh kuman dan virus ketimbang hand sanitizer.

Sumber: www.google.com


Hand sanitizer memiliki keunggulan dalam sisi kepraktisan pemakaian, karena tak perlu repot mencari sumber air saat sedang berada di luar rumah. Memakai cairan alkohol pun sebenarnya sudah cukup untuk membasmi kuman. Namun alkohol murni dapat memberi resiko kering pada kulit tangan. Karena itu perlu ditambahkan unsur tambahan yang mampu melembabkan. Bisa menggunakan aloe vera, gliserin atau  baby oil.

Kebetulan saya selalu sedia cairan alkohol di rumah, namun tak ada satu pun dari ketiga unsur tambahan tersebut. Maka saya pun teringat Vitalis Body Wash yang memiliki kandungan moisturizer berkualitas tinggi.

Rangkaian produk Vitalis Body Wash memiliki kandungan:




Menurut dua orang pakar farmasi yang saya kenal, kandungan cocamide/kelapa, yang ada dalam Vitalis Body Wash membuatnya memiliki sifat melembabkan yang tinggi. Ditambah kandungan antiseptik yang ada, maka dapat cukup efektif membunuh kuman.



Jadi saya pun memanfaatkan saja apa yang ada di rumah untuk membuat sanitizer sendiri. Selain lebih hemat, ternyata gel aloe vera dan gliserin juga tidak mudah lagi diperoleh di sekitar rumah saya.

Bahan-bahan yang saya gunakan adalah Vitalis Body Wash, air mineral dan cairan alkohol.



Sebagai wadah, saya memanfaatkan botol spray yang dijual bebas. Tak lupa disterilkan terlebih dulu sebelum digunakan. Berikut langkah-langkah pembuatan soap sanitizer rumahan.

Tuang Vitalis Body Wash dan air mineral ke dalam botol spray.




Tuang cairan alkohol ke dalam botol spray,



Lalu kocok agar tercampur rata.
Komposisi perbandingan penggunaan Vitalis Body Wash : air mineral : alkohol adalah
2:1:7
Soap sanitizer buatan sendiri pun siap digunakan. Semprotkan 2-3x ke telapak tangan, dan gosokkan seperti menggunakan hand sanitizer biasa.



Idealnya, setelah pemakaian sanitizer buatan sendiri ini tetap harus diakhiri dengan membilas tangan menggunakan air mengalir. Penggunaan sanitizer ini, saat berada di rumah cukup menghemat pemakaian air dan sabun cuci tangan. Karena tak perlu membasahi air terlebih dulu sebelum memakai sabun. Dan penggunaan sabun cair menjadi lebih terkontrol.

Namun jika sedang berada di tempat umum, sanitizer ini sangat praktis digunakan tanpa harus bingung mencari sumber air mengalir untuk membilas busa sabun. Cairan alkohol yang dominan membuat busa sabun nyaris tak ada. Sehingga proses pembilasan dapat ditunda hingga menemukan sumber air.

Untuk kebutuhan membuat soap sanitizer rumahan ini, pilihan saya jatuh pada varian Soft Beauty. Karena spesialisasinya memberikan manfaat Skin Nourishing untuk membuat kulit terasa halus, lembut dan terawat. Parfumnya dibuka dengan wangi segar yang higienis dari Fruity Aldehydic, dilanjutkan dengan wangi Rose & Violet yang feminin, diakhiri dengan manisnya Tonka Bean & Sandalwood yang premium.



Dan yang utama Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Soft Beauty, diperkaya dengan ekstrak Avocado dan Vitamin E, untuk membantu menjaga kulit tetap lembab, terasa kenyal halus dan  lembut. Kandungan ini sangat diperlukan untuk mengimbangi kadar cairan alkohol yang berpotensi membuat kulit kering.

Dan setelah kurang lebih seminggu ini menggunakan soap sanitizer rumahan ini dalam beragam aktivitas, alhamdulillah tak ada keluhan kulit kering yang kami sekeluarga rasakan.

Tertarik untuk coba membuat juga di rumah?

Di tengah serangan Virus Corona, selalu harus jaga kebersihan tubuh ya maaaak...
Yuk tingkatkan ikhtiar dan kewaspadaan. Termasuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Jaga juga kesehatan dengan asupan gizi yang cukup.

Stay safe
Stay at home
Keep social distancing
Solitaire is solidarity


Read more

Senin, 17 Februari 2020

Potensi Wisata Edukasi Jatinangor

Sumber: www.google.com


Sumedang adalah salah satu kota tetangga terdekat Bandung. Seantero nusantara kerap mengaitkan Sumedang dengan diksi TAHU.

Ya.
Tahu Sumedang memang melegenda. Makanan khas yang disukai banyak kaum ini memang memiliki tekstur yang berbeda dari kebanyakan jenis tahu yang lain.

Identik dengan kata TAHU, membuat orang seringkali lupa dengan keindahan alam serta ragam potensi wisata Sumedang yang lain. Antara lain wisata budaya tradisional dan wisata sejarah Sumedang.

Sumber: www.google.com


Potensi wisata di Sumedang memang masih kalah pamor dibandingkan Tahu khas Sumedang. Padahal tak sedikit menu wisata yang bisa dinikmati di Sumedang.

Salah satu potensi wisata yang layak diperhitungkan untuk dikembangkan di Sumedang adalah Wisata Pendidikan. Karena selama ini identitas Kota Pendidikan telah terlanjur tersemat untuk Yogyakarta, banyak yang terlupa, bahwa Sumedang adalah kota tempat bernaung beberapa Perguruan Tinggi Negeri besar dan favorit di negara ini.




Jatinangor.
Adalah satu kata untuk sederet kampus perguruan tinggi bergengsi Top 10 bangsa ini. Kampus-kampus Perguruan Tinggi Negeri terbaik bermarkas di wilayah ini.
Kampus incaran jutaan pelajar, dengan persaingan ketat dan upaya luar biasa untuk bisa menembusnya.

Sebut saja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (UNPAD).
Semua merupakan jajaran perguruan tinggi idaman karena dianggap menjanjikan masa depan cerah.

IPDN
IPDN memiliki pamor tak kalah dengan STAN. Berhasil menjadi mahasiswa IPDN tentunya tidak bisa dianggap sebagai prestasi yang sepele. Kampus ini bernaung dibawah Departemen Dalam Negeri. Sehingga semua mahasiswa langsung terikat dalam ikatan dinas. Yang artinya, setelah lulus kuliah mereka tak perlu pusing lagi melamar pekerjaan. Karena akan langsung bertugas sebagai ASN di instansi terkait.

Sumber: www.google.com


ITB
Siapa yang tak tahu gaung institut ini? Mungkin bukan warga negara Indonesia. Digadang sebagai perguruan tinggi terbaik di nusantara. Beberapa presiden dan banyak menteri adalah alumni ITB. Bahkan Bapak Proklamator kita pun pernah mengecap pendidikan disini. Memiliki ijazah ITB cukup menjadi jaminan mutu kapasitas seorang sarjana di mata banyak instansi dan perusahaan.

Sumber: www.google.com


Universitas Padjadjaran
Kampus yang satu ini pun tak kalah ketat persaingannya. Terlebih untuk jurusan-jurusan Ilmu Sosial. Walau tidak menjamin pekerjaan bagi para lulusannya dalam ikatan dinas, namun popularitas dan kreativitas mahasiswa UNPAD dikenal tak kalah dengan beberapa PTN lain di tanah air. sehingga para lulusannya cukup diminati oleh perusahaan pencari karyawan.

Sumber: www.google.com

Animo masyarakat Indonesia untuk bisa menimba ilmu di ketiga PTN tersebut sangat besar. Sehingga informasi detil berkaitan dengan IPDN, ITB dan UNPAD juga cukup banyak dicari, terutama oleh para siswa setingkat SMA.

Misalnya informasi tentang jurusan apa saja yang ada di kampus tersebut. Peluang kerja lulusan dari jurusan-jurusan tersebut akan bergerak di bidang apa. Berapa detil rinci biaya pendidikan tiap jurusan. Hingga informasi pondok kost atau asrama mahasiswa di sekitar Jatinangor.

Fakta-fakta tersebut dapat diolah dan dimanfaatkan menjadi potensi wisata pendidikan yang cukup menjanjikan. Pemerintah kota Sumedang, atau pun pihak swasta, dapat bekerja sama dengan kampus-kampus tersebut. Misalnya dengan menyelenggarakan Tour de Campus. Dengan sasaran utama peserta adalah para siswa SMA-SMP yang berminat melanjutkan studi di salah satu kampus tersebut.

Dapat dirancang paket wisata yang akan mengajak para peserta untuk berkunjung menjelajah setiap jengkal isi kampus. Memperkenalkan para peserta pada kegiatan akademis maupun non akademis di kampus. Memberi sesi informasi tentang semua jurusan yang tersedia di setiap kampus. Juga peluang kerjanya di masa depan.
Sumber: www.google.com


Penyelenggara paket wisata juga dapat membawa para peserta melakukan kunjungan informatif ke berbagai rumah kost dan asrama mahasiswa di Jatinangor. Agar para peserta mendapat gambaran nyata kehidupan sehari-hari di Jatinangor. Termasuk perkiraan biaya hidup sebagai mahasiswa di sana.

Potensi wisata edukasi ini sangat layak dikembangkan. Karena dunia pemdidikan pun kini sudah memasuki era industrialisasi pendidikan. Dan bagi kebanyakan orangtua, pendidikan yang tepat bagi anak adalah wujud kasih sayang dan bekal hidup terbaik yang dapat diberikan. Sehingga peluang wisata pendidikan ini pun bisa jadi akan sangat diminati para pelajar beserta orangtua mereka.
Read more

Kamis, 23 Januari 2020

Ting! Kisah Ketegaran, Karakter Positif dan Ketulusan



"Ayah, lihat aku.. Aku jaga kehormatanmu, Ayah. Aku tidak mencuri, aku tidak mengemis. Aku bekerja keras untuk mendapatkan makanan ini." begitu seru Ting kecil kepada langit, berharap arwah Sang Ayah menyaksikan perjuangannya.

Kalimat tersebut diucapkan Ting kecil yang berusia 7 tahun, sesaat sebelum memasukkan suapan pertama makanan sampah sisa-sisa dari piring pengunjung kantin dari kantung plastik ke mulutnya.

Ketika itu, sudah tiga hari Ting Kecil tidak makan karena terusir dari rumahnya sendiri setelah kematian ayahanda tercinta. Rasa lapar tak tertahan membuat Ting kecil nekat menawarkan jasa cuci piring ke pemilik kedai makan, agar diperbolehkan membawa pulang sisa-sisa makanan pengunjung. Sisa makanan dari banyak piring kemudian dikumpulkannya ke dalam satu kantung plastik.



Bagi saya yang banyak berkecimpung di ranah pendidikan keluarga, karakter pejuang yang tertanam pada diri Ting kecil sangat mengesankan. Bagaimana seorang anak usia 7 tahun, sudah memahami tentang kehormatan diri sendiri, dan menjaga kehormatan orangtuanya. Mampu mempertahankan kejujuran walau dalam kondisi terdesak.

Peran ayahanda semasa hidupnya pasti sangat kuat tertancap dalam ingatan Ting, walau hanya sempat bersama selama 7 tahun. Rasa kagum tak pelak menyelinap dalam benak saya, entah bagaimana cara orangtua Ting membentuk karakter kedua anaknya di masa itu.



"Kita tidak bisa memilih untuk dapat terlahir dari orangtua yang seperti apa. Tidak semua orang beruntung memiliki ortu yang baik, yang penuh kasih sayang.

Tapi itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk menjadi sosok yang tidak baik. Bukan alasan untuk mendendam. .
Jadikan itu pemicu untuk kita menjadi orangtua yang lebih baik bagi generasi mendatang. Karena tidak semua orang juga punya kesempatan untuk menjadi orangtua dan memiliki anak." ujar Tommy Wong

Novel Ting! adalah kisah perjalanan hidup ala sinetron stasiun tivi ikan terbang yang ternyata ada di dunia nyata. Dalam sesi peluncuran novel yang berlokasi di Gramedia Central Park ini, Tommy menceritakan kisah hidupnya yang dituangkan dalam novel ini.
.
Terlahir dari keluarga kaya raya, hidup Tommy atau Ting (panggilan kecilnya) berbalik ketika pada usia 7 tahun sang Ayah meninggal dan harta peninggalannya diperebutkan oleh para paman.

Hingga nyawa nya terancam. Hingga sang Ibu menjadi gila karena hidup selalu dalam siksaan fisik dan ancaman pembunuhan. Hingga terpaksa menggelandang, hidup di terminal bus bersama para anak jalanan, putus sekolah, juga pernah makan dari makanan sisa di piring-piring pengunjung kantin.

Semua tak menghalangi Tommy untuk bekerja keras secara jujur terhormat dan meraih sukses di dalam dan luar negeri.

Novel ini mengajarkan perjuangan tanpa putus asa di titik terendah sekali pun.
Wajib dibaca para orangtua, para remaja, dan siapa saja yang sedang merasa terpuruk.



Ohya peluncuran novel ini juga dihadiri oleh Bapak Hasan Karman (mantan Walikota Singkawang), Ibu Dewi Motik (pengusaha) dan James Gwee (motivator).

Serius, baru kali ini momen peluncuran buku mampu membuat saya brebes mili berkali-kali mengusap air mata karena haru.

Novel ini bisa didapatkan di Toko Buku Gramedia terdekat dengan harga Rp 78.000 saja loooh...
#PeluncuranTING
@elexmedia
@blomilofficial
Read more
Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.