Sabtu, 26 September 2020

MEMBANGUN KELUARGA PANCASILA MELALUI MUSYAWARAH KELUARGA



Musyawarah adalah warisan budaya asli bangsa Indonesia. Musyawarah juga menjadi bagian dari Pancasila yaitu implementasi dari sila keempat. Semua peraturan di rumah kami selalu berdasarkan kesepakatan bersama melalui forum musyawarah. Semua anggota keluarga bebas mengungkapkan keluhan, memberi pendapat saat musyawarah berlangsung. Dalam forum ini, kami bergotong royong  untuk memecahkan bersama semua masalah yang dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Musyawarah ini juga sangat membantu untuk melatih kreativitas berpikir dan nalar kritis anak untuk mencari solusi masalah. Juga melatih menerima kebhinekaan pendapat dan perasaan.



Akhlak Mulia

Dalam tiap ajang musyawarah keluarga, kami selalu mengawali dengan berdoa. Lalu seluruh anggota keluarga hingga anak terkecil akan bergantian menjadi pimpinan musyawarah. Tiap anggota keluarga akan berlatih untuk memimpin dan dipimpin oleh yang lain. Juga belajar menempatkan diri sesuai porsi, misalnya saja bagaimana harus menurunkan ego saat musyawarah ternyata dipimpin oleh si adik  yang berusia lebih muda.

Kebhinekaan 

Misalnya saat ingin menentukan Proyek Keluarga yang akan kami lakukan bersama di masa pandemi ini. Saat musyawarah, semua anggota keluarga mengajukan usulan proyek masing-masing, dan proyek KAMUS PERASAAN yang kemudian disepakati sebagai proyek untuk dilaksanakan.

Brainstorming ide keroyokan


Bernalar Kritis

Kamus Perasaan adalah salah satu tools  bagi anak-anak untuk dapat mengenali berbagai nuansa perasaan. Diharapkan dapat menjadi alat bantu untuk memahami perasaan diri sendiri adalah yang utama.  Sebab perasaan penyebab nyaris semua perilaku dan perbuatan manusia. Mengenali dan mengerti perasaan sendiri dan orang lain juga akan menjadi modal dasar kemampuan berempati. Bagi saya, proyek ini sekaligus akan menjadi salah satu alat ukur, sejauh mana anak-anak mengenal dan memahami aneka rasa perasaan manusia.

Dalam proyek ini, Rihal mengajukan diri menjadi Direktur Proyek. Dan melalui musyawarah, seluruh anggota keluarga mendukung dan mengesahkan  posisi Rihal sebagai direktur di proyek KAMUS PERASAAN.


Gotong Royong

Dan inilah susunan pejabat proyek KAMUS PERASAAN. Rihal (10th) menjabat sebagai Direktur. Bagian pembelian alat dan bahan adalah Roha (18th)  dan Azza (13th). Persiapan logistik  dilakukan oleh Ai (15th). Penentu  letak penempatan kamus setelah jadi dilakukan oleh Rhuma (19th). Sekretaris proyek diemban oleh Umiy alias saya sendiri. Dan konten isi kamus menjadi tanggungjawab seluruh anggota keluarga.

Kesimpulan hasil musyawarah


Mandiri

Musyawarah teknis proyek KAMUS PERASAAN ini berlangsung seru dan sedikit menggelikan. Karena sidang musyawarah kali ini dipimpin oleh Rihal (anggota keluarga termuda) sebagai direktur proyek. Seluruh peserta musyawarah bebas mengajukan usulan tentang pejabat proyek, alat bahan yang dibutuhkan, atau spot peletakan kamus perasaan. Tapi semua keputusan akhir disahkan oleh Pak Direktur Rihal. Proyek ini menjadi ajang bagi Rihal untuk berlatih mandiri mengambil keputusan sendiri. 

Hari H pelaksanaan sempat diawali dengan kisruh, Azza yang kecewa karena Roha melakukan tugas pembelian karton seorang diri tanpa mengikutsertakan dirinya, mengakibatkan Azza ngambek mengurung diri di kamar hingga tertidur. Ada usulan untuk menunda pelaksanaan hingga Azza bisa ikut serta, tapi Direktur Proyek memutuskan agar proyek tetap berjalan walaupun tanpa Azza.

Kreativitas

Meski secara tampilan fisik, proyek ini masih jauh dari sempurna. Namun seluruh anak berusaha berkreasi maksimal, mulai dari menentukan media yang akan dipakai, detil hiasan, hingga cara menulis. Juga penggunaan warna pada tulisan yang sebisa mungkin mewakili tiap perasaan.

   






Read more

Kamis, 17 September 2020

Anakku, Sang Pelajar Pancasila




Kemarin, saya mengikuti forum diskusi daring bersama Pusat Pengembangan Karakter Kemendikbud. Forum ini bermuatan sosialisasi terhadap pembinaan karakter pelajar yang ingin dicapai oleh Kemendikbud. Ada enam kriteria Pelajar Pancasila yang diinginkan Kemendikbud, yaitu;

  1.      Beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia
  2.    Mandiri
  3.      Bernalar kritis
  4.      Kebhinekaan global
  5.      Bergotong royong
  6.      Kreatif.

 Sebagai seorang ibu sekaligus guru di sekolah formal, tentu saja saya pun menginginkan semua anak dan murid-murid saya tumbuh menjadi pribadi dewasa dengan memiliki karakter Pancasila tersebut. Sebelum membina para siswa di sekolah, tentu saja saya berkewajiban untuk mebina terlebih dulu anak kandung di rumah. Ternyata sudah terbentuk budaya dalam keluarga saya yang mendukung penanaman karakter Pelajar Pancasila.

 

Shalat Berjamaah

Sebagai keluarga muslim, maka ritual shalat wajib lima kali dalam sehari adalah bagian dari rutinitas kami. Ada tiga waktu shalat dimana kami menyempatkan untuk melakukan dengan berjamaah, yaitu di waktu subuh, magrib dan isya. Setelah magrib menunggu isya pun biasanya kami manfaatkan untuk membaca Qur’an bersama. Jam tersebut juga menjadi masa tanpa gawai di rumah. sehingga menjadi waktu berkualitas bagi kami untuk membangun kelekatan keluarga.



Peraturan Berorientasi Surga

Banyak aturan dalam rumah kami yang berlandaskan sisi agamis. Salah satunya adalah kesepakatan untuk membersihkan kamar mandi bersama. Landasan dasar dari aturan ini adalah bahwa menurut hadist, kebersihan itu bagian dari iman. Kami sepakat bahwa setiap kali masuk kamar mandi, seluruh warga rumah wajib menyikat lantai kamar mandi. Selain untuk menjaga kebersihan dan keselamatan pemakai kamar mandi agar lantai tidak licin berlumut, ada pula aspek ibadah berpahala dari aksi sederhana ini. Karena itu, kemudian saya menempelkan aturan tersebut pada dinding kamar mandi, bertuliskan: CALON AHLI SURGA SELALU SIKAT LANTAI KAMAR MANDI SELAMA 1 MENIT SEBELUM KELUAR.



Musyawarah Keluarga

Semua peraturan di rumah kami selalu berdasarkan kesepakatan bersama melalui forum musyawarah keluarga yang rutin dilakukan. Semua anggota keluarga bebas mengungkapkan keluhan, juga bebas memberi pendapat atau ide saat musyawarah berlangsung. Dalam forum ini, kami bergotong royong di ranah kognisi untuk memecahkan bersama semua masalah yang dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Musyawarah ini juga sangat membantu untuk melatih kreativitas berpikir dan nalar kritis anak. Juga membiasakan anak untuk menerima berbagai kebhinekaan pendapat dan perasaan yang bisa jadi berbeda-beda untuk satu topik bahasan yang sama.



Calon Pemimpin

Dalam tiap ajang musyawarah keluarga, seluruh anggota keluarga hingga anak terkecil akan bergantian menjadi pimpinan musyawarah. Tiap anggota keluarga akan berlatih untuk memimpin dan dipimpin oleh yang lain. Juga belajar menempatkan diri sesuai porsi, misalnya saja bagaimana harus menurunkan ego saat musyawarah ternyata dipimpin oleh si adik bungsu yang secara usia jauh lebih muda.

Tim Keluarga



Sebagai Ibu Rumah Tangga tanpa asisten di rumah, maka membentuk anak-anak menjadi bagian dari Tim Kerja Keluarga adalah pilihan terbaik yang bisa saya lakukan. Semua pekerjaan domestik rumah tangga dikerjakan bersama tanpa membedakan gender anak laki atau perempuan. Setiap anak memiliki jadwal menyapu, mengepel rumah, juga jadwal untuk mencuci baju mereka sendiri. Selain untuk membentuk kemandirian, budaya gotong royong pun makin terasah. Bahkan menentukan menu masak pun kami lakukan bergiliran.

Read more

Minggu, 30 Agustus 2020

Belajar Bersuara dalam Demokrasi Digital Kelas


Kebebasan bersuara dalam memilih pemimpin merupakan salah satu karakter positif yang harus ditanamkan sejak dini, yaitu karakter mampu mengambil keputusan bagi diri sendiri. Hal ini umumnya sudah mulai dilatih sejak kecil dalam ruang-ruang kelas sekolah.

Biasanya, warga kelas akan memilih beberapa orang siswa sebagai calon pengurus kelas. Kemudian seluruh siswa sekelas dapat menyalurkan suara melalui gulungan kertas kecil. Hasil pemilihan kemudian dilihat dan dihitung bersama.

Tentunya semua agenda rutin yang mengawali tahun ajaran baru tersebut berlangsung secara tatap muka fisik. Namun tahun ajaran baru saat ini sangat berbeda dibanding sebelumnya. Akibat pandemi global, seluruh kegiatan belajar pun beralih menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).



Termasuk kegiatan pemilihan ketua kelas di awal tahun ajaran kali ini pun berlangsung virtual. Dengan memanfaatkan media teknologi melalui beragam aplikasi. Salah satu yang termudah adalah dengan menggunakan google form

Wali kelas dapat membuat tautan polling digital. Setiap siswa hanya membutuhkan waktu tak sampai satu menit untuk memilih calon ketua kelas yang disukainya. Hasilnya pun dapat langsung terlihat dalam hitungan detik setelah seluruh siswa menggunakan hak pilihnya.

Namun pemilihan ketua kelas secara digital ini ternyata juga memunculkan tantangan lain. Banyak siswa yang belum saling mengenal, bahkan belum pernah bertatap muka dengan teman sekelas. Terutama bagi siswa baru di tingkat kelas termuda di sekolah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri.

Para siswa belum memahami karakter teman-teman sekelasnya. Padahal biasanya, berbagai karakter yang tampak akan menjadi salah satu acuan untuk mencalonkan teman sekelas menjadi pengurus kelas. Sebagai wali kelas 7, saya berupaya menyiasati kendala ini dengan satu cara.

Saya berupaya memancing inisiatif siswa untuk mengajukan diri sendiri. Siapa pun yang merasa siap dan sanggup menjadi pengurus kelas, bisa mengajukan diri menjadi calon pengurus kelas. Dan tidak boleh seorang pun yang mengajukan nama temannya.



Mengingat bersikap percaya diri dan berani untuk mengajukan diri seperti ini belum menjadi budaya yang lumrah terjadi di masyarakat kita, maka saya sangat mengapresiasi tiga orang siswa yang berani maju dan siap menjadi pengurus kelas.

Setelah muncul nama-nama calon pengurus kelas, kemudian diberi kesempatan untuk berkampanye mempromosikan dirinya. Menyampaikan segala aspirasinya, agar teman-teman sekelas dapat lebih mengenal karakter para kandidat calon ketua kelas. Tentu saja segala bentuk kampanye ini berlangsung secara virtual. Melalui  teks terketik yang disebarkan melalui grup kelas di aplikasi percakapan.

Sesudah kampanye virtual berlangsung, saya segera membuat dan memberikan tautan untuk memilih salah satu kandidat. Dan segera mengumumkan hasilnya tak lama setelah seluruh siswa di kelas menggunakan hak pilihnya.

Azas langsung, umum, bebas dan rahasia amat sangat terpenuhi dalam kegiatan pemilihan ketua kelas digital ini. Lebih minim peluang seorang siswa untuk mempengaruhi pilihan siswa yang lain. Sebab tiap warga kelas berada di rumah masing-masing. 

Dalam demokrasi digital ini, para siswa juga tak hanya berlatih menggunakan hak pilih mereka dan belajar mengambil keputusan sendiri. Momen ini juga melatih keberanian siswa untuk mampu tampil percaya diri mengajukan diri sendiri menjadi calon pengurus kelas tanpa rasa malu-malu kucing. Orasi kampanye virtual juga melatih kemampuan komunikasi verbal mereka



Ternyata banyak sikap dan karakter positif yang dapat dikembangkan pada siswa melalui pemilihan ketua kelas digital sederhana ini. Dengan durasi hanya sekian menit, kegiatan ini memberi manfaat yang cukup bermakna.


Read more

Rabu, 17 Juni 2020

Let's Read: Membaca Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan



"Mendidik anak itu dimulai sejak janin berada dalam kandungan. Apa yang ibunya lakukan dan rasakan selama mengandung si anak, biasanya akan ada yang terekam dan meninggalkan jejak pada perilaku anak setelah lahir kelak." 

Demikian wejangan ibunda tercinta saat saya hamil anak pertama dua puluh tahun yang lalu. Ucapan yang berdasarkan teori ilmu psikologi dan parenting, juga sesuai data dan fakta yang Ibu temui langsung dalam ruang praktek konselingnya di salah satu biro psikolog.

"Om Heri itu dulu pemalu bianget. Seje karo ibumu sing kendel percaya diri (berbeda dengan ibumu yang berani dan percaya diri)." cerita Eyang Putri saya suatu hari.

"Sebab waktu Eyang hamil om-mu dulu itu, Eyang nggak PD (percaya diri). Karena Eyang cuma guru di kota kecil, sementara kakak dan adik Eyang semua punya jabatan penting, sering ke luar negeri, dinas keliling Indonesia." tutur Eyang.

"Nah waktu hamil ibumu, Eyang bangga banget, soale akhirnya hamil setelah nunggu setahun lebih kepingin punya anak." lanjut Eyang.

Dan kini, setelah ilmu parenting semakin marak, saya pun mengetahui dan mendengar dari para ahli. Bahwa memang mendidik anak itu di mulai sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan, sejak embrio menjadi janin dalam rahim.

Membaca sejak dalam kandungan

Kebetulan membaca memang hobi saya sejak kecil. Dan saya pun ingin anak-anak saya memiliki kegemaran membaca. Membaca adalah jendela dunia.

Kata-kata dapat membuat manusia melihat dunia tak hanya menghilangkan batas negara, tapi juga melampaui dimensi waktu dan generasi. Apa yang terjadi berabad lalu, dapat kita lihat melalui susunan huruf dan kalimat.

Dalam agama yang saya yakini, membaca atau iqro adalah perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril. Tentu saja, sebab tanpa membaca, bagaimana mungkin segala wahyu dan ilmu dapat tersampaikan ke seluruh belahan dunia.

Karena itu, sejatinya membaca adalah bagian penting dari tollabul ilmi, mencari ilmu. Dan menuntut ilmu adalah ibadah tiada ujung hingga akhir hayat, layaknya salat dan berpuasa di bulan ramadhan.



Dengan berbagai alasan tersebut, saya pun berusaha membangun budaya membaca dan memancing minat membaca anak-anak  sejak mereka bertahta di rahim saya.

Jika banyak ibu di masa itu memperdengarkan alunan musik klasik bagi calon jabang bayi yang dikandungnya, maka saya sangat sering membaca dengan bersuara (read aloud) di masa kehamian.

Pada dua kehamilan pertama di tahun 2000 dan 2001, saya masih berstatus mahasiswi. Sehingga kebanyakan bahan bacaan saya saat itu adalah buku teks atau diktat kuliah. 

Sumber: freepik.com

Teringat pada masa kehamilan kedua, dengan usia anak pertama yang belum setahun, setiap kali menidurkan Si Sulung, maka saya akan mendongeng dengan suara keras isi buku teks atau diktat kuliah, terutama jika esoknya akan menghadapi kuis atau ujian kuliah. Hingga Sulung terlelap.

Mulai dari bacaan Filsafat Komunikasi, Psikologi Komunikasi, Strategi Humas hingga materi Statistika, semua saya bacakan keras tanpa pandang bulu.

Kini, kedua anak itu sudah menjelang usia 20 tahun. Walau belum memasuki dunia mahasiswa, namun buku-buku yang mereka pilih untuk dibaca termasuk kelas berat untuk ukuran siswa SMK.

One day one page

Melalui musyawarah keluarga belasan tahun yang lalu, saya menjelaskan manfaat membaca pada kelima anak saya. Lalu melemparkan pertanyaan, "Gimana ya caranya, supaya kita sekeluarga ini bisa senang membaca?"

Diskusi pun mengalir bersama para bocah usia SD, TK dan batita tersebut. Dan jangan sekalipun meremehkan kekuatan berpikir anak, di usia berapa pun. Karena ternyata mereka seringkali dapat menemukan solusi yang terkadang tak kita pikirkan.

Dalam forum musyawarah keluarga yang memang rutin kami lakukan secara berkala, diskusi berkembang. Brain storming bersama para bocah ini menjadi keseruan tersendiri. Hingga akhirnya kami memutuskan bersama untuk membuat program One Day One Page.

Sengaja hanya membiasakan untuk membaca 1 halaman dalam sehari, sebab angka 1 memberi efek psikologis bagi anak, bahwa kegiatan ini sangat ringan untuk dilakukan. 

"Ah cuma satu halaman, gampang itu sih. Paling lima menit juga selesai. Habis itu aku masih ada banyak waktu untuk main bola." kata anak kedua yang memang sangat aktif berolah fisik.

Cukup satu halaman per hari

Bagaimana untuk para adik balita yang belum bisa membaca?
Si adik akan mendengarkan saya atau kakak membacakan satu halaman buku setiap hari. Tak peduli buku apapun. Bahkan membaca brosur iklan pun tak masalah. Walau dalam satu halaman itu hanya terdiri dari satu kalimat pun tak mengapa.

Kami menyepakati membaca hanya satu halaman saja. Namun faktanya, seringkali anak-anak tidak dapat berhenti hanya di satu halaman. Biasanya akan penasaran untuk membaca halaman selanjutnya, dan seterusnya.

Setelah mengenal Let's Read saya makin terbantu untuk membuat aktivitas seru membaca bersama anak-anak di rumah. Kendati lebih memilih untuk membiasakan mereka membaca dalam wujud media cetak, namun aplikasi ini tak hanya memberikan pilihan untuk membaca secara digital, tapi juga dapat diunduh dan dicetak.

Saya lebih sering mencetak beragam cerita positif dari Let's Read, untuk dibaca oleh anak-anak dalam bentuk media cetak. Sebab saya ingin anak-anak mencintai wujud buku.
Dengan mencetak beragam cerita, ternyata tak hanya keseruan membaca saja yang dapat dilakukan. 

Berimajinasi bersama Let's Read

Tak jarang pula saya menuliskan dengan tangan beberapa cerita dari Let's Read. Tanpa gambar pendukung. Lalu saya akan menantang anak-anak untuk berkreasi membuat gambar sesuai imaji mereka terhadap kalimat-kalimat cerita tersebut.

Kegiatan ini ternyata cukup menyenangkan. Sehingga sesekali saya terapkan juga aktivitas ini di mesjid dekat rumah saat jadwal TPA berlangsung.

Imajinasi gambar salah satu anak 

Sumber: Aplikasi Let's Read


Melatih kemampuan bahasa asing dengan Let's Read

Salah satu keunggulan Let's Read adalah tersedianya banyak bahan membaca yang dapat dipilih ingin menggunakan bahasa yang diinginkan.  Saya memanfaatkan hal ini untuk membuat lagi tantangan membaca menyenangkan dan seru bagi anak-anak.

Pilihan bahasa di aplikasi Let's Read


Terkadang saya mencetak cerita dalam Bahasa Inggris, lalu meminta anak-anak menuliskan arti tiap kata dalam Bahasa Indonesia. Dengan bantuan kamus tentunya.

Atau sebaliknya, mencetak cerita dalam Bahasa Indonesia, untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Tak hanya bahasa asing, bahkan bahasa daerah pun ada.

Lembar aktivitas menterjemahkan kata demi kata 


Sesekali juga kami berkunjung ke situs Let's Read, sebab anak-anak menjadi sering penasaran juga dengan kosakata beragam bahasa lain yang dapat dilihat di situs Let's Read. Hal ini tentu saja melejitkan wawasan mereka dengan cara yang menyenangkan.

Salah satu ragam pilihan bahasa pengantar cerita di situs Let's Read

Bagi para orangtua yang seringkali dilanda bingung untuk menyediakan media baca bagi anak di rumah, jangan ragu untuk unduh aplikasi Let's Read DISINI.
Let's Read sangat memberi solusi bahan bacaan keluarga yang praktis, kreatif dan sangat murah.

#LetsReadAsia #AyoMembaca



Read more

Rabu, 29 April 2020

Face Shield Rumahan untuk Pejuang Medis


Para nakes RS AsShobirin menggunakan face shield buatan kami

‘’Miy, kenapa sih kita repot bikin ini?’’ tanya Ai (anak ketiga saya), sembari kedua tangannya terus bekerja memotong gulungan pita.

‘’Ai nggak suka diajak bikin face shield ini?’’ saya balik bertanya. Saat itu kami sedang sibuk membuat face shield rumahan sederhana dari perlengkapan alat tulis kantor untuk perangkat APD (Alat Perlindungan Diri) yang akan disumbangkan kepada para tenaga medis di beberapa puskesmas dan rumah sakit. Sebagai wujud kepedulian dan dukungan bagi para tenaga kesehatan di garda depan penanganan wabah Covid-19.

Ini adalah kali ke sekian kami sekeluarga memproduksi sendiri face shield, pelindung wajah untuk didistribusikan kepada para nakes. Awalnya hanya kegiatan iseng untuk mengisi waktu di rumah pada masa stay at home ini. Tapi ternyata, Alhamdulillah dapat menjadi ladang ibadah bagi kami. Kali ini kami membuatkan untuk Puskesmas Kotamobagu, Sulawesi Utara.


Proses pembuatan face shield

‘’Bukan tak suka. Kalau Ai nggak suka, nggak mungkin Ai mau ikut bantu buat. Cuma kadang heran aja sama Umiy. Katanya Umiy sudah tiga bulan belum terima gaji. Kita makan tiap hari juga irit-irit banget. Tapi kok Umiy mau keluar uang pribadi untuk beli bahan-bahan ini, untuk disumbangkan gratis ke rumah sakit.’’

Ah, begitu rupanya yang ada di benak mereka. Pertanyaan yang sangat wajar, bila mengingat kondisi keuangan keluarga kami hampir setahun terakhir ini. Sekitar 10 bulan yang lalu, ayah mereka mendapat rejeki berupa penyakit.

Masa pengobatan dan pemulihan yang berlangsung selama sepuluh bulan terakhir ini membuat geraknya menjadi sangat terbatas, termasuk untuk urusan mencari nafkah. Dan saat kondisi fisik pak suami mulai membaik, terjadilah wabah Covid-19, sehingga kampus tempat suami mengajar juga menjadi non aktif.

Praktis biaya operasional kebutuhan hidup keluarga sehari-hari menjadi hanya bergantung pada pendapatan saya sebagai guru honorer di salah satu sekolah negeri. Yang mana honor mengajar saya terima dirapel per empat bulan sekali. Dengan lima orang anak usia SD, SMP dan SMA, tentunya kami harus cermat berhemat.

Saya pun tersenyum, dan menjawab pertanyaan Ai, ‘’Umiy tetap shodaqoh, karena kita masih punya bahan makanan untuk makan besok. Dan karena umiy ingin kita semua menjadi orang kaya, jadi aghniya yang sesungguhnya.’’

Menjadi Aghniya Sejati Bermental Kaya Raya

‘’Karena itu juga, setiap kali terima honor yang pertama kali Umiy lakukan sebelum membeli apa pun, adalah menitipkan zakat penghasilan ke Dompet Dhuafa ‘’ lanjut saya.

‘’Iya Miy, kalau zakat penghasilan itu kan memang wajib ya… Tapi kalau shodaqoh yang nggak wajib itu bukannya semampunya aja ya Miy? Kalau kita tidak mampu ya nggak  perlu memaksakan diri kan sebetulnya?’’ kali ini Roha (anak kedua saya) yang bersuara.

‘’Betuuuulll… Tapi kalian tahu nggak, sebetulnya shodaqoh itu membuat kita menjadi orang kaya yang sesungguhnya.’’ jawab saya.




Anak-anak terlihat sedikit bingung mendengarnya. Maka saya pun mulai menjelaskan salah satu prinsip hidup yang selama ini saya pegang teguh. Bermula dari pengamatan terhadap banyak orang dan relasi yang saya kenal. Ada saudara atau sahabat yang tergolong kaya raya, dengan rumah banyak, kendaraan memenuhi garasi juga barang-barang bermerk. Namun terkadang hidupnya tak tenang.

Pernah saya mendengar keluhan seorang kerabat, ‘’Duh pengen banget deh buka usaha itu. Aku ada modalnya, tapi masih kurang sedikit lagi, kurang 80 juta-an lagi lah.’’ Dan karena merasa pusing memikirkan cara mencari kekurangan modal usaha, lalu sampai tidak bisa tidur selama berminggu-minggu. Kemudian berakhir dengan keberanian mencari pinjaman uang dan berhutang dengan riba.

Padahal sebenarnya, kebutuhan hidupnya sehari-hari lebih dari kata terpenuhi. Tinggal di komplek perumahan cluster,  tidak pernah mencicipi rasanya naik kendaraan umum kemana pun, dan anak-anak bisa bersekolah di sekolah swasta dengan iuran lebih dari sejuta tiap bulan.

Banyak pula teman dan saudara yang saya kenal, hidup di bawah garis ekonomi menengah. Dengan penghasilan harian yang tak tentu. Namun tak pernah merasa ragu untuk berinfak ke kotak amal masjid. Tak pernah mengeluh kekurangan uang. Makan dengan tempe dan kecap pun sudah merasa cukup. Tidak merasa rugi untuk memberi pada orang lain selama di dompet masih ada selembar nominal lima puluh ribu, dan tidak pernah pula berhutang.

‘’Coba sekarang, menurut kalian, mana yang mental dan jiwa-nya lebih kaya? Orang yang punya uang ratusan juta, tapi masih merasa kekurangan dan nggak bisa tidur bahkan masih pinjam uang ke bank? Atau supir ojol yang tiap hari Cuma dapat uang seratus ribu, tapi nggak punya hutang, merasa cukup apa adanya, bisa tidur tenang dan masih bisa selalu shodaqoh?’’ saya bertanya memancing pendapat anak-anak.

‘’Iya juga ya. Hatinya jadi lebih kaya yang supir ojek ya, Miy.’’ Azza (anak keempat) menjawab setelah beberapa saat terdiam berpikir.




Begitulah.
Bagi saya, rasa senang menebar kebaikan berbagi, tanpa merasa rugi, tanpa merasa kehilangan harta, itulah mental kaya raya sesungguhnya….
Sedekah/ shodaqoh sesungguhnya membuat kita merasa menjadi orang kaya sejati.

Karena masih bisa ‘membuang uang’ untuk orang lain hehehe. Sebab dengan kondisi keuangan saya yang masih pas-pasan ini, kesempatan bagi saya untuk mampu ‘membuang-buang uang’ itu belum tentu datang setiap hari. Ada masanya juga saya betul-betul tidak memiliki kemampuan untuk berbagi dengan orang lain.

Pernah di suatu saat dulu, ketika kelima anak saya masih bayi dan balita, hidup di perantauan tanpa kerabat  bersomisili di pulau yang sama. Ditambah suami bertugas di pedalaman Jambi, sementara saya dan anak-anak bertempat di Lampung. Ada masa dimana saya kehabisan uang dan beras. Tak memiliki uang sama sekali sekeping pun, tak memiliki beras sebutir pun. Kami bisa sarapan dan makan siang, tapi tak tahu harus makan apa di malam hari.

Hanya berdoa dan shalat hajat memohon pertolongan Allah yang bisa saya lakukan kala itu. Dan dengan ajaib sebelum tangan ini turun, sebelum bibir berhenti berdoa selepas dua rakaat shalat hajat, pertolongan datang melalui seorang nenek tetangga sebelah rumah. Beliau memberi selembar dua puluh ribu sebagai tanda terimakasih karena saya membantu menyetorkan tagihan cicilan ke Kantor Pegadaian.

Dan masih di hari yang sama, setelah magrib, salah seorang kawan mengantarkan 25 kg beras ke rumah sewa kami. Beserta beberapa paket menu keluarga dari restoran pizza terkenal, yang jumlahnya bahkan terlalu banyak bagi kami. Sehingga saya membaginya ke tetangga agar tak terbuang mubazir.

Pengalaman berharga hari itu, membuat definisi kata cukup dan kaya menjadi lebih sederhana bagi saya.
Kini, memiliki persediaan beras, kecap dan garam di dapur pun sudah membuat saya merasa cukup dan tak khawatir kelaparan.

Saya tidak pernah tahu kapan roda hidup akan berputar menempatkan saya berada di atas atau di bawah. Dalam satu hari itu, di siang hari kami tak memiliki apa pun untuk di makan, siapa yang menduga ternyata di malam hari-nya kami justru mampu berbagi makanan ke tetangga.

Prinsip 4 Roda Berputar



‘’Tapi shodaqoh itu bukannya bila mampu ya, Miy? Kalau kita masih pas-pasan nggak wajib kan sebetulnya?’’  Roha kembali menimpali.

‘’Betul itu… Tapi arti cukup dan pas-pasan kan juga bisa beda untuk tiap orang. Dan kondisi tiap orang juga bisa berubah setiap saat. Kadang nggak perlu menunggu waktu bertahun-tahun. Kalau sekarang, detik ini kita masih pas-pasan, satu jam lagi belum tentu. Ingat nggak, umiy sering cerita tentang 4 roda berputar?’’ jawab saya.

Prinsip hidup 4 Roda Berputar adalah wejangan tanpa akhir yang kerap saya dengar dari orangtua sepanjang ingatan. Bapak dan Ibu selalu mengingatkan bahwa roda hidup manusia selalu berputar sepanjang waktu, sejak lahir hingga ajal.

Bahwa tidak ada orang yang selalu susah, tanpa pernah merasakan senang dan bahagia.

Tidak ada orang yang selalu merasa sakit, tanpa pernah mencicip kesehatan.

Tak ada orang yang selamanya miskin, tanpa pernah mendapat rezeki.

Juga tiada orang yang abadi dalam kondisi lemah, tanpa pernah diberi kekuatan olah Allah.

Demikian juga sebaliknya. Empat roda kehidupan itu akan selalu berputar silih berganti. Dan hidup yang seimbang memang seperti itu layaknya.
Lalu kapan roda hidup akan berputar berubah posisi, menempatkan kita di atas, atau di bawah? Itu adalah kuasa Gusti Allah.

‘’Jadi, jika Allah masih menempatkan diri ini berada di atas, jika mampu memberikan bantuan sekecil apa pun, jangan pernah sia-siakan kesempatan itu. Karena itu artinya Allah memberi kesempatan untuk menambah investasi akhirat. Lima menit kemudian, belum tentu kondisinya masih sama. Lima menit kemudian bisa jadi roda hidup sudah berputar kembali.’’ demikian wejangan Bapak yang terus terngiang di kepala saya sejak kecil.

Karena itu selagi sehat, bantulah yang sakit. Saat senang, wajib menolong yang kesusahan. Ketika kuat, perhatikan yang lemah. Dan jika ada rezeki berlebih, berbagilah dengan yang membutuhkan. Sebab kita tidak pernah tahu, kapan takdir akan membawa kita (atau anak cucu kita) berada di posisi sebagai pihak yang dibantu oleh orang lain.

Perbuatan Baik Yang Menular


Kiriman sayur hidroponik dari sahabat

‘’Betul juga ya, Miy. Waktu hari pertama WFH social distancing ini kita  nggak punya uang untuk makan. Eh ternyata banyak orang kirim bahan makanan untuk kita. Jadi sekarang gantian kita yang kirim-kirim face shield untuk dokter dan perawat ya.’’ Ai kembali berkomentar. Saya tersenyum lebar menanggapi.

Memang, satu hari sebelum Gubernur DKI, Anies Baswedan mengumumkan berlakunya masa social distancing, kondisi keuangan saya sudah di ambang kosong. Tak sampai lima puluh ribu rupiah tersisa di rekening maupun dompet, dan saat itu tidak ada kepastian kapan honor saya selama tiga bulan (Januari, Februari, Maret) akan cair. Sekali lagi  shalat hajat yang menjadi senjata utama, saya minta semua anak untuk ikut melaksanakan shalat hajat.

Selanjutnya kembali terjadi, selama dua hari berturut beberapa orang sahabat mengirimkan banyak bahan makanan melalui ojek online. Padahal mereka bahkan tidak tahu keadaan kami dan sudah hitungan purnama tak berjumpa. Ada yang mengirimkan frozen food dan sembako. Seorang kawan pemilik kebun sedang panen sayur hidroponik, dan memberikan beragam sayuran organik hingga dua kardus banyaknya.


Kiriman sembako dari sahabat

Sehingga walau tak memiliki uang tunai, kami tidak kelaparan. Bahkan sekali lagi, kami bisa memberikan sebagian bahan makanan yang kami terima kepada para driver ojek online yang banyak melintas di depan pagar rumah kami.

Lalu di hari ketiga WFH (work from home), tak terduga saya menerima santunan guru honor dari Baznaz Jakarta Barat, dengan jumlah cukup untuk hidup beberapa hari. Dana santunan Baznaz inilah yang kemudian saya alokasikan sebagian untuk membeli peralatan ATK guna membuat face shield rumahan.

‘’Nah… Betul Ai. Berkat kiriman makanan dari teman-teman Umiy dan Abiy, kita bisa makan seminggu lebih tanpa belanja bahan makan. Itu kalau dirupiahkan, harganya lebih dari uang yang umiy keluarkan untuk beli bahan face shield ini loh. Artinya, apa yang kita terima juga masih lebih banyak daripada jumlah yang kita sedekahkan tho.’’ lanjut saya.

Donasi Face Shield Rumahan

Bukan tanpa alasan kenapa saya dan anak-anak membuat face shield untuk disumbangkan. Selain karena bahannya mudah didapat, juga harganya terjangkau untuk dompet saya saat itu. Di minggu pertama masa social distancing itu seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas medis kekurangan Alat Perlindungan Diri. Sebab kebanyakan APD masih diperoleh melalui jalur import dari negara lain. Belum ada gerakan UKM lokal yang memproduksi APD.

Jumlah permintaan dan pasokan barang yang tak seimbang membuat harganya melonjak tinggi. Sementara APD idealnya tidak bisa dipakai ulang. Akhirnya saya dan anak-anak iseng membuat face shield home made di rumah. Kebetulan ada salah seorang relasi bidan yang mengeluhkan bahwa rumah sakit tempatnya mengabdi sangat kekurangan APD dan belum tersentuh bantuan dari pihak manapun.

Rumah sakit tersebut sejatinya adalah Rumah Sakit Ibu dan Anak kecil tipe C di Tangerang yang utamanya menerima pasien untuk kasus penyakit anak, kehamilan dan persalinan. Namun  karena kondisi darurat, jumlah penderita dan suspek Covid-19 di Jabodetabek terus bertambah, maka rumah sakit ini pun tak bisa menolak kasus Corona.

Alhamdulillah face shield buatan anak-anak dapat membantu dan dimanfaatkan oleh 100 orang tenaga medis di rumah sakit tersebut. Untuk mengapresiasi kerja keras dan kerja sama anak-anak, saya menyimpan foto-foto kegiatan saat proses pembuatan face shield berlangsung ke laman media sosial. Tak disangka, banyak pihak yang ternyata memberi respon positif.

Ada beberapa orang tenaga kesehatan yang menghubungi saya untuk meminta bantuan donasi face shield  rumahan ala kami. Namun lebih banyak rekan yang menghubungi bermaksud menitipkan donasi dana untuk digunakan membeli alat dan bahan pembuat face shield.

Ada juga teman-teman yang menitipkan masker untuk didonasikan bersama dengan face shield yang akan kami kirimkan ke rumah sakit atau puskesmas. Lalu ada pula kawan yang berdomisili di pulau-pulau lain meminta saya mengajarkan cara membuat face shield, agar mereka juga bisa membuat sendiri untuk disumbangkan ke fasilitas medis terdekat dari rumah mereka.


Luar biasa! Betapa mudahnya menularkan perbuatan baik dan positif tanpa perlu heboh berkoar atau ceramah panjang lebar. Semoga wabah kebaikan berbagi ini dapat menular melebihi kecepatan virus corona.

Tutorial Membuat Face Shield Sederhana

Bagi Anda, terutama para mamah muda, yang mungkin mulai bingung merencanakan aktivitas positif di rumah pada masa home learning ini, barangkali berminat juga membuat face shield rumahan ala kami. Berikut saya bagikan tutorialnya.

Alat dan bahan yang dibutuhkan:
  1. Plastik mika sampul jilid fotokopi.
  2. Pita gulung, dipotong sepanjang lingkar kepala.
  3. Lakban.
  4. Straples.
  5. Gunting


Cara membuat:



Taraaaa….
Mudah sekali bukan?
Semua alat dan bahan pun dapat diperoleh di toko ATK terdekat, atau di tempat jasa fotokopi.



Mudah, murah dan bermanfaat. Bisa jadi face shield buatan anak-anak Anda dapat membantu menyelamatkan puluhan hingga ratusan nyawa para pejuang medis bangsa ini.
Selamat mencoba di rumah yaaa….

Yuk,
Mari lakukan kebaikan berbagi sebisa dan semampu kita. Sekecil apa pun, berikan kontribusi agar segala kebaikan dunia tidak berhenti hanya sampai di kita.  Sedekah dapat melalui beragam cara sesuai kapasitas diri. Dapat berupa waktu, tenaga, dan pikiran. Bagi yang sibuk namun berlebih harta, dapat pula menitipkan donasi pada Dompet Dhuafa yang akan menyalurkannya melalui berbagai program kebaikan bagi umat.
#MenebarKebaikan
#LombaBlogMenebarKebaikan


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”



Read more
Designed By Risa Hananti. Diberdayakan oleh Blogger.